Harapan Baru Aida dan Puluhan Anak Penderita Kaki Pengkor di Jateng

Kaki Aida Fitriyah, bayi yang masih berusia belasan bulan, terbalut gips putih dengan rapi. Ia terlihat tenang dalam pelukan sang ibunda di ruang konsultasi RS Bhayangkara Semarang.
Kaki kecil Aida dipasangi gips bukan tanpa alasan. Aida merupakan penderita clubfoot atau CTEV (Congenital Talipes Equinovarus), yakni kelainan kaki bawaan sejak lahir yang lebih dikenal sebagai kaki pengkor.
Gips tersebut dipasang untuk membantu mengembalikan posisi tulang kaki Aida agar mendekati posisi normal.
Kondisi Aida dipantau langsung Kapolda Jawa Tengah Irjen Pol Ribut Hari Wibowo bersama istrinya, Diana. Ribut secara khusus memantau Aida bersama enam anak lainnya yang mendapat penanganan dan pemantauan medis melalui Program Polda Jateng Peduli CTEV.
"Semangat njeh, Insyaallah bisa disembuhkan dan kondisinya bisa kembali normal," ucap Ribut di hadapan keluarga pasien, Kamis (10/9/2026).
Kabid Dokkes Polda Jateng Kombes Pol Agung Hadi Wijanarko mengatakan, terdapat 88 anak penderita CTEV di Jawa Tengah yang mendapatkan bantuan penanganan medis melalui program tersebut.
"Ada 88 anak, tapi hari ini ada tujuh anak yang dilakukan penanganan. Untuk yang lain menyusul," imbuh Agung.
Ia menjelaskan, anak yang menderita CTEV perlu segera mendapatkan penanganan agar kondisi tulang dan posisi kaki dapat diperbaiki secara maksimal.
"Penanganan CTEV harus dilakukan sesegera mungkin. Semakin dini dilakukan, hasilnya akan semakin maksimal. Selain penanganan medis, peran orang tua juga sangat penting karena keberhasilan terapi membutuhkan konsistensi dalam mengikuti arahan dan perawatan," jelasnya.
Agung menambahkan, program tersebut dibangun melalui kolaborasi dengan rumah sakit Muhammadiyah, Mentari Clubfoot MPKU PP Muhammadiyah, Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah, dan BPJS.
"Melalui kolaborasi tersebut, masyarakat dapat mengikuti program ini secara gratis sehingga tidak menjadi hambatan bagi pasien untuk mendapatkan perawatan, terlebih jika berasal dari keluarga kurang mampu," ungkap Agung.
Sementara itu, orang tua Aida, Abdul Gofar, mengaku bersyukur karena anaknya mendapatkan bantuan pengobatan secara gratis. Ia berharap Aida dapat tumbuh sehat dan menjalani aktivitas seperti anak-anak lainnya.
"Alhamdulillah, dengan program ini kami bisa melakukan pengobatan terhadap kondisi yang dialami putri saya. Semoga putri saya bisa berjalan dengan normal dan beraktivitas seperti biasa," kata Abdul.
