Heboh Penganiayaan-Cambuk di Kantor KPPG Bogor, Kepala: Itu 2 SPPI Berselisih

Beredar video yang memperlihatkan dugaan kekerasan yang melibatkan dua orang pria di lingkungan Kantor Pelayanan Pemenuhan Gizi (KPPG) Bogor. Dalam video tersebut, seorang pria terlihat mencambuk rekannya yang terbaring di lantai.
Peristiwa itu terlihat terjadi di sebuah ruangan yang ditutup dengan pagar besi. Sejumlah pria tampak berada di ruangan tersebut dan menyaksikan kejadian itu.
Kepala KPPG Bogor Haidir mengatakan peristiwa itu terjadi pada Rabu (14/10) sekitar pukul 15.00 WIB. Insiden tersebut berlangsung di halaman luar Kantor KPPG Bogor ketika sejumlah pimpinan sedang berada di dalam kantor untuk mengurus pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Orang yang terlibat merupakan Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI).
“Jadi, kejadiannya itu terjadi pada hari Rabu kemarin, kira-kira jam 15.00. Itu sebenarnya adalah perselisihan antara dua SPPI yang berasal dari Purwakarta,” kata Haidir saat memberikan keterangan, Jumat (16/10).
Menurut Haidir, pihaknya belum mengetahui secara pasti penyebab perselisihan tersebut. Ia mengatakan perlu dilakukan pendalaman untuk memastikan apakah insiden itu dipicu persoalan pribadi atau kesalahpahaman.
“Kami harus mendalami kembali sebenarnya ada masalah apa yang terjadi, atau kesalahpahaman apa yang terjadi antara kedua SPPI tersebut,” ujarnya.
Haidir menjelaskan, saat kejadian berlangsung, dirinya bersama Kasubbag Tata Usaha dan Koordinator Wilayah Kota Bogor sedang berada di dalam kantor. Mereka tengah mengurus sejumlah keperluan terkait pelaksanaan program MBG.
Beberapa saat kemudian, para pimpinan KPPG mendengar teriakan dari halaman luar kantor. Mereka bergegas keluar untuk memeriksa sumber keributan dan mendapati dua SPPI sedang berselisih.
“Setelah itu, kami langsung bergegas keluar kantor dan ternyata ada dua SPPI yang saya sampaikan tadi dari Purwakarta yang sedang berselisih,” tuturnya.
Sesalkan Terjadinya Kekerasan
Pihak KPPG Bogor kemudian melerai keduanya dan memanggil mereka ke dalam ruangan untuk diberikan teguran keras. Haidir menegaskan bahwa segala bentuk kekerasan tidak dapat dibenarkan, termasuk di lingkungan kantor yang berkaitan dengan pelaksanaan program pemerintah.
“Kami melerai mereka, kemudian langsung panggil ke dalam ruangan dan memberikan teguran keras kepada keduanya. Kami menyampaikan bahwa segala bentuk kekerasan tidak dibenarkan di mana pun, termasuk di kantor KPPG,” katanya.
Haidir mengungkapkan, setelah insiden tersebut, kedua SPPI disebut telah berdamai dan kembali ke Purwakarta. Namun, pihaknya masih perlu memastikan latar belakang perselisihan yang berujung pada keributan tersebut.
Terkait status keduanya, Haidir menyebut salah satu orang yang terlibat merupakan kepala dapur, sedangkan satu orang lainnya tidak sedang mengelola dapur.
Keduanya diketahui datang ke Kantor KPPG untuk mengurus keperluan tertentu. Menurut Haidir, para SPPI terkadang datang ke kantor untuk menyelesaikan urusan kedinasan di luar tugas mereka di dapur.
“Ya, dua-duanya SPPI. Jadi, yang satu adalah kepala dapur, yang satu lagi tidak sedang memegang dapur. Tapi, dua-duanya ke kantor KPPG dalam urusan yang ingin mereka kerjakan di kantor KPPG,” jelas Haidir.
Meski demikian, Haidir belum dapat memastikan apakah perselisihan itu berawal dari masalah pribadi sebelum keduanya datang ke kantor atau justru terjadi setelah mereka berada di lingkungan KPPG.
Mengenai kemungkinan sanksi terhadap kedua SPPI yang terlibat, Haidir menegaskan bahwa setiap pelanggaran memiliki konsekuensi. Ia memastikan insiden tersebut menjadi perhatian pihaknya.
“Pasti, tidak boleh ada kekerasan, dan semua kesalahan tentu ada konsekuensinya,” tegas Haidir.
Haidir juga menegaskan bahwa KPPG Bogor tidak menoleransi segala bentuk kekerasan, sekecil apa pun. Ia menyampaikan permohonan maaf kepada pimpinan dan masyarakat Indonesia atas kegaduhan yang muncul akibat peristiwa tersebut.
“Kami dari KPPG Bogor ingin menegaskan bahwa KPPG Bogor tidak menoleransi semua bentuk-bentuk kekerasan sekecil apa pun,” ujarnya.
Ia berharap kejadian tersebut menjadi bahan evaluasi agar peristiwa serupa tidak kembali terjadi di kemudian hari.
“Kami memohon maaf kepada pimpinan dan juga kepada rakyat Indonesia pada umumnya atas kegaduhan yang terjadi. Ini sungguh-sungguh akan menjadi pembelajaran bagi kami ke depan,” pungkasnya.
