Heboh Pria di Bali Jadi 'Kiper' untuk Turis WNA, Polisi Selidiki

Fenomena "kiper" atau pria lokal yang menawarkan layanan seksual kepada warga negara asing (WNA) di Bali mencuat dalam beberapa waktu terakhir.
Dalam praktiknya, relasi antara "kiper" dan wisatawan asing — utamanya wisatawan wanita — dapat bermula dari pertemanan. Pria lokal tersebut berperan sebagai teman jalan atau pemandu informal, kemudian hubungan berkembang ke arah seksual yang berbasis transaksi.
Kapolres Badung AKBP Joseph Edward Purba memastikan belum ada laporan mengenai praktik tersebut di Polres Badung. Meski demikian, Polres Badung akan tetap melakukan pemantauan terhadap tempat-tempat usaha pariwisata di Bali untuk mengantisipasi praktik tersebut.
"Kami akan tetap melakukan pemantauan, mengimbau kepada tempat usaha, serta melakukan langkah-langkah pencegahan supaya hal-hal tersebut tidak terjadi kembali," kata Joseph saat diwawancarai di Mapolres Badung, Kamis (27/8).
Joseph menegaskan, apabila terdapat kasus pelanggaran kesusilaan yang dilaporkan ke Polres Badung, kepolisian akan langsung menanganinya sesuai dengan peraturan yang berlaku.
"Kami tangani kalau kami temukan atau ada dari masyarakat yang melaporkan kejadian seperti itu. Kami tangani," ucapnya.
Berawal dari Kebutuhan Ekonomi
Berdasarkan jurnal yang ditulis Made Kurnia Widiastuti Giri (2018) yang juga seorang dosen dan peneliti di Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) mengenai fenomena "kiper" di Pantai Lovina (Buleleng), praktik tersebut muncul salah satunya karena faktor kebutuhan ekonomi.
Para pria tersebut menjalin pertemanan dengan wisatawan asing yang ditemui di restoran atau pantai. Mereka kemudian mengajak wisatawan bepergian layaknya pemandu wisata. Dari interaksi tersebut, hubungan dapat berkembang ke arah seksual.
