Kiai Uye Sebut Pelaku Perusakan Rumahnya Kerap Buat Onar di Arcamanik Bandung

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
KH Uye Waryo, tokoh NU yang rumahnya mengalami penyerangan dan perusakan oleh warga saat ditemui di kediamannya di Kampung Arcamanik, Desa Mekarmanik, Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung, Jumat (21/8/2026). Foto: Abisatya Ramdhani/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
KH Uye Waryo, tokoh NU yang rumahnya mengalami penyerangan dan perusakan oleh warga saat ditemui di kediamannya di Kampung Arcamanik, Desa Mekarmanik, Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung, Jumat (21/8/2026). Foto: Abisatya Ramdhani/kumparan

Aksi perusakan rumah tokoh Nahdlatul Ulama (NU) KH Uye Waryo di Kampung Arcamanik, Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung, ternyata sudah kerap membuat resah warga sekitar.

Kiai Uye mengatakan, pelaku bernama Rony itu bahkan sudah membuat ibu-ibu hingga anak-anak tak bisa tidur malam hari karena suara motornya yang bising.

"Sampai hari ini masyarakat setempat, khususnya ibu-ibu, kalau mendengar suara motor, apalagi ada yang bicara keras-keras, sampai hari ini enggak bisa tidur," kata Uye saat ditemui di kediamannya, Jumat (21/8).

Menurutnya, rasa takut tersebut bahkan membuat sejumlah keluarga memilih tidak tidur di rumah masing-masing. Beberapa keluarga disebut memilih menginap di rumah orang tua atau berkumpul dengan keluarga lainnya.

"Sampai hari ini masih ada beberapa keluarga yang kalau malam masih nginap di orang tua, atau tiga keluarga jadi satu (berkumpul)," ujarnya.

Uye menilai kondisi tersebut menunjukkan bahwa persoalan yang melibatkan pelaku telah menimbulkan keresahan di tengah masyarakat. Ia menyebut aksi tersebut juga bukan hanya terjadi dalam momentum tertentu.

"Pelaku itu yang sekarang sudah diamankan, di mata masyarakat itu seorang pemuda yang selalu berbuat onar, meresahkan. Jangankan event-event seperti ini, di event-event hajatan di tetangga juga," tutur Uye.

Karena itu, Uye berharap proses hukum terhadap pelaku dapat berjalan sesuai aturan. Ia menyerahkan sepenuhnya penanganan perkara tersebut kepada kepolisian.

Warga yang diduga melakukan penyerangan dan pengrusakan rumah tokoh NU di Kampung Arcamanik, Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung. Foto: Dok. Istimewa

"Saya hanya menyalurkan aja, ada enggak orang berbuat seperti ini aturan hukumnya. Kalau ada, ya silakan proses hukum. Kalau enggak ada, ya enggak apa-apa," katanya.

Ia menegaskan tidak ingin mengambil tindakan sendiri terhadap pelaku. Bahkan saat aksi perusakan terjadi, Uye justru berupaya menahan warga agar tidak melakukan perlawanan.

"Saya sampai nahan anak-anak, nahan tetangga, nahan semua jangan sampai terpancing berbuat di luar hukum. Nantinya dibilang bertindak main hakim sendiri, karena ada aparat, ada polisi, mungkin jadi kita yang salah," ujar Uye.

Ia mengatakan kerugian materi akibat perusakan tersebut bukan menjadi persoalan utama baginya. Uye lebih menyoroti tindakan pelaku yang terjadi setelah sebelumnya warga berupaya menyelesaikan persoalan melalui musyawarah.

"Secara materi itu tidak seberapa, tapi kita sehari sampai malam berbicara dengan mendamaikan mereka, hasil perdamaian sudah dibuat tapi mereka berbuat yang lain," katanya.