Kisah 2 Anak Yatim di Cirebon: Makan Cuma Pakai Nasi-Garam, Ibu ART di Bandung

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Bhabinkamtibmas Kelurahan Kejaksan, Aipda Pendy saat di rumah kontrakan menunjukkan kedua anak yang terkunci itu selalu membuka jendela saat ada warga lewat. (8/7/2026). Foto: kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Bhabinkamtibmas Kelurahan Kejaksan, Aipda Pendy saat di rumah kontrakan menunjukkan kedua anak yang terkunci itu selalu membuka jendela saat ada warga lewat. (8/7/2026). Foto: kumparan

Anak yatim kakak beradik berinisial A (9) dan B (6) harus hidup mandiri di rumah sederhana mereka di RW 05 Kebon Kelapa Timur, Kelurahan Kejaksan, Kota Cirebon.

Ibu mereka, V (35), baru diterima bekerja sebagai asisten rumah tangga (ART) di Kota Bandung. Saat berangkat bekerja, kedua anak itu ditinggalkan di rumah dalam kondisi pintu terkunci. Sang ibu telah menyiapkan nasi dan telur rebus sebagai bekal makanan selama ia bekerja di Bandung.

Namun, seiring berjalannya waktu, kondisi fisik kedua anak itu menurun. Warga pun curiga karena rumah tersebut tidak menunjukkan aktivitas seperti biasanya. Mereka kemudian memeriksa kondisi di dalam rumah dan menemukan kedua anak itu dalam keadaan lemas.

Warga lalu melaporkan kejadian tersebut kepada Bhabinkamtibmas Kelurahan Kejaksan, Aipda Pendy, pada Minggu (5/7/2026) malam. Ia kemudian menuju lokasi dan mengevakuasi kedua anak tersebut.

"Waktu itu hari Minggu, sekitar pukul 21.30 WIB, Saudara Akbar menghubungi saya melalui telepon dan melaporkan ada dua anak kecil yang terkunci di dalam rumah," ujar Pendy kepada kumparan, Rabu (8/7).

Ketua RW 05 Kejaksan, Rofik Maulana (rompi coklat) dengan kedua bocah yang terkunci di kamar kontrakan oleh ibunya. (8/7/2026). Foto: kumparan

"Saya datang ke lokasi, memastikan anak-anak memang berada di dalam rumah dalam kondisi terkunci. Setelah berkoordinasi dengan pemilik kontrakan, Pak Sobari, kami mendapat izin untuk membongkar paksa pintu agar anak-anak bisa segera dievakuasi," katanya.

Bertahan Hidup dengan Nasi, Telur Rebus, dan Garam

Saat pintu berhasil dibuka, kondisi kedua anak sangat memprihatinkan. Mereka ditemukan dalam keadaan lemas setelah sekitar lima hari terkunci di dalam rumah.

"Anak-anak kami temukan dalam kondisi lemas. Mereka sudah sekitar lima hari ditinggalkan orang tuanya dalam keadaan rumah terkunci. Hanya disediakan nasi dan delapan butir telur rebus," ungkap Pendy.

Persediaan makanan itu ternyata cepat habis. Anak sulung yang baru berusia sembilan tahun bahkan terpaksa memasak sendiri untuk memberi makan adiknya.

"Nasinya kemudian dimasak sendiri. Saat saya tanya, mereka mengaku makan hanya dengan garam karena telur rebusnya sudah habis," ujarnya.

Setelah dievakuasi, polisi berkoordinasi dengan Public Safety Center (PSC) Dinas Kesehatan untuk memeriksa kondisi kesehatan kedua anak.

"Kami menghubungi tim PSC Dinas Kesehatan untuk memastikan kondisi kesehatannya. Setelah itu, kedua anak dibawa keluarganya ke rumah nenek mereka," kata Pendy.

Kehilangan Ayah Sejak April

Ketua RW 05 Kejaksan, Rofik Maulana, mengatakan kondisi keluarga tersebut mulai berubah setelah ayah kedua anak meninggal dunia pada April 2026.

Menurutnya, selama ini kedua anak lebih dekat dengan sang ayah karena ibunya bekerja pada malam hari sebagai juru parkir di Pasar Drajat.

"Suaminya meninggal pada April lalu. Selama ini anak-anak memang lebih dekat dengan ayahnya karena ibunya bekerja malam sebagai juru parkir. Urusan sekolah, makan, dan kebutuhan sehari-hari lebih banyak diurus oleh ayahnya. Jadi, setelah ayahnya meninggal, mereka kehilangan sosok yang selama ini mengurus mereka," tuturnya.

Pascakejadian, Camat Kejaksan, Lurah Kejaksan, Puskesmas Pamitran, serta sejumlah pihak terkait mengunjungi kedua anak tersebut di rumah neneknya. Mereka memberikan bantuan sosial sekaligus memastikan kondisi fisik dan psikologis kedua anak terus dipantau.