Kisah Warga Bali Belum Pernah Terima Bansos, Bersyukur Dibantu Perlinsos Digital

Pemerintah tengah menggencarkan pendataan ulang penerima bantuan sosial (bansos) melalui layanan Perlindungan Sosial (Perlinsos) Digital. Melalui layanan ini, masyarakat yang belum terdata memiliki kesempatan untuk mendaftarkan diri dan menjalani verifikasi guna mengetahui kelayakannya sebagai penerima bantuan.
Sejumlah warga yang sebelumnya belum pernah menerima bansos kini mencoba mendaftarkan diri melalui Perlinsos Digital. Salah satunya Mukhdor Jawari Aman, warga yang tinggal di Legian, Bali. Selama 17 tahun, Mukhdor bekerja sebagai guru honorer, sementara istrinya berjualan gorengan untuk membantu memenuhi kebutuhan keluarga.
Mukhdor mengaku membutuhkan bantuan sosial untuk meringankan beban ekonomi keluarga, terutama biaya pendidikan anak-anaknya. Selain itu, ia harus memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari di Bali.
“Habis Jumatan saya langsung ke sini dan ternyata ada informasi seperti ini. Saya ingin mencoba, siapa tahu namanya rezeki. Kalau kami berhak menerima, alhamdulillah,” kata Mukhdor saat ditemui di Pura Dalem Kahyangan, Kecamatan Kuta, Kabupaten Badung, Jumat (9/10).
Sebelumnya, Mukhdor belum pernah menerima bansos karena kartu tanda penduduk (KTP)-nya masih berdomisili di Jember, Jawa Timur. Kondisi tersebut membuatnya terkendala persyaratan domisili dalam pengajuan bantuan. Melalui Perlinsos Digital, ia kini berkesempatan mengikuti proses pendataan dan verifikasi dari tempat tinggalnya saat ini.
Dalam proses pendaftaran, Mukhdor mengaku tidak mengalami kendala saat pemeriksaan KTP dan nomor induk kependudukan (NIK). Namun, ia sempat menunda proses pendaftaran karena lupa nomor identitas pelanggan (ID) listrik PLN miliknya.
“Kendalanya saya enggak tahu nomor ID PLN. Kalau saya nanti tahu, maka di sana berhak dan tidaknya akan muncul, begitu,” ujarnya.
Pengalaman serupa dialami I Wayan Tagel, seorang pegawai toko bangunan yang juga mengaku belum pernah menerima bansos. Setelah mendaftarkan diri melalui Perlinsos Digital, Tagel dinyatakan layak menerima bantuan. Meski demikian, ia belum mengetahui jenis bantuan yang nantinya dapat diterima.
“Layak mendapat bantuan, hanya saya kurang paham bantuan apa yang berikutnya diberikan,” ungkap Tagel.
Tagel mengatakan proses pendaftaran dan verifikasi berlangsung relatif cepat, yakni sekitar lima menit. Ia mendapat bantuan dari petugas yang berada di wantilan Pura Dalem Kahyangan.
“Dibantu sama petugasnya di dalam. Ke depannya, saya berharap bisa mendapatkan bansos, seperti di bulan kemarin sudah dapat beras,” ucapnya.
Kisah lainnya datang dari Ida Bagus Made Pura Penataran. Ia merupakan salah satu warga yang didatangi langsung oleh agen pendataan di kediamannya di Banjar Buni. Made bekerja sebagai satuan tugas (satgas) pantai di Kuta dan harus menanggung kebutuhan istri serta empat anaknya.
Setelah mengikuti proses pendataan melalui Perlinsos Digital, Made dinyatakan layak menerima bantuan sosial.
“Hasilnya layak untuk mendapatkan bantuan,” kata Made.
Sebelumnya, Made belum pernah menerima bansos karena pengajuan bantuannya ditolak. Dengan tanggungan keluarga yang cukup besar, ia mengaku menghadapi tantangan dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari, terlebih penghasilannya bergantung pada pekerjaan di kawasan pantai.
Made mengaku senang setelah mengetahui dirinya dinyatakan layak menerima bantuan. Ia berharap hasil verifikasi tersebut dapat membuka peluang baginya untuk memperoleh bansos pada masa mendatang.
“Ini dari kepala lingkungan dari desa yang memberitahukan bahwa saya dapat bantuan. Jadi saya coba daftar, enggak sampai lima menit ternyata saya layak menerima,” jelasnya.
Sementara itu, pendataan ulang penerima bansos di Bali telah mencapai sekitar 50–52 persen, dengan jumlah lebih dari 652.000 kepala keluarga (KK). Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid berharap proses verifikasi data di Bali dapat diselesaikan dalam tiga hingga empat bulan ke depan.
“Dalam empat bulan bisa 50 persen data terverifikasi. Kita harapkan berarti dalam tiga sampai empat bulan, mudah-mudahan Bali sudah 100 persen verifikasi data dilakukan oleh para pendaftar,” kata Meutya.
Melalui Perlinsos Digital, pemerintah berharap proses pendataan dan verifikasi dapat menjangkau lebih banyak masyarakat yang membutuhkan. Dengan demikian, warga yang sebelumnya belum terdata memiliki kesempatan untuk mengikuti proses penilaian kelayakan sebagai penerima bantuan sosial.
