Kronologi 146 Warga di Serpong Lagoon Alami Muntah-Diare Diduga dari Air Keran

Sebanyak 146 anak dan orang dewasa di kawasan perumahan Serpong Lagoon, Tangerang Selatan, dilaporkan mengalami sakit dengan gejala diare dan muntah. Warga menduga kualitas air yang didistribusikan ke rumah-rumah menjadi salah satu faktor yang perlu diselidiki.
Dugaan tersebut muncul setelah sejumlah warga melaporkan anak-anak mereka mengalami gejala serupa. Warga kemudian melakukan pendataan mandiri dan berkoordinasi dengan kader posyandu serta puskesmas untuk menindaklanjuti kejadian tersebut.
"Seorang Ibu melaporkan di grup warga bahwa seorang anak mengalami demam, muntah, dan diare, kemudian dikonfirmasi oleh warga lainnya yang anaknya juga mengalami hal yang sama, ada yang sejak 17-Sep-2026," kata Arnis Silvia selaku perwakilan warga, dalam keterangan tertulis, dikutip pada Rabu (14/10).
Berdasarkan paparan warga dalam Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) DPRD Kota Tangerang Selatan pada Rabu (14/10), berikut kronologi kejadian dugaan kejadian luar biasa (KLB) muntaber di Serpong Lagoon:
Rabu, 7 Oktober 2026
Seorang ibu melaporkan melalui grup komunikasi warga bahwa anaknya mengalami demam, muntah, dan diare. Laporan tersebut kemudian mendapat tanggapan dari warga lain yang menyebut anak mereka mengalami gejala serupa.
Dalam pendataan warga, sejumlah kasus bahkan dilaporkan telah terjadi sejak 17 September 2026.
Pada tanggal yang sama, warga juga mengambil sampel air dari salah satu rumah untuk diperiksa di laboratorium.
Kamis, 8 Oktober 2026
Warga berinisiatif mendata jumlah anak yang mengalami sakit serupa melalui lembar kerja digital atau spreadsheet.
Kader posyandu juga berkoordinasi untuk meminta kunjungan dari puskesmas guna memantau kondisi anak-anak yang sakit.
Pendataan tersebut dilakukan untuk mengetahui sebaran kasus dan mencari kemungkinan faktor yang berkaitan dengan munculnya gejala serupa di lingkungan perumahan.
Jumat, 9 Oktober 2026
Puskesmas melakukan kunjungan untuk memantau kondisi anak-anak yang sakit. Pada hari yang sama, puskesmas bersama Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Tangerang Selatan mengambil sampel air dari instalasi pengolahan air atau Water Treatment Plant (WTP) serta sejumlah rumah warga.
Berdasarkan paparan warga, hasil pemeriksaan puskesmas terhadap sampel air dari rumah warga menemukan kandungan bakteri Escherichia coli (E. coli) sebesar 5–7 CFU. Padahal, menurut paparan tersebut, kandungan E. coli yang dipersyaratkan adalah nol.
Sementara itu, hasil pemeriksaan sampel air dari WTP belum keluar. Hasil dari DLH juga belum tersedia saat paparan disampaikan.
Minggu, 11 Oktober 2026
Hasil pemeriksaan laboratorium terhadap sampel air yang diambil dari salah satu rumah pada 7 Oktober keluar.
Pemeriksaan tersebut mencakup analisis fisika dan kimia air, tetapi belum mencakup pengujian mikrobiologi. Berdasarkan hasil yang dipaparkan warga, air yang disalurkan ke rumah mereka dinyatakan tidak memenuhi persyaratan baku mutu berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 2 Tahun 2023.
Dengan demikian, hasil pemeriksaan tersebut menjadi salah satu temuan yang mendorong warga meminta pemeriksaan kualitas air lebih menyeluruh. Namun, hasil uji fisika dan kimia itu sendiri belum membuktikan bahwa air menjadi penyebab seluruh kasus muntaber.
Selasa, 13 Oktober 2026
Berdasarkan pendataan mandiri warga hingga pukul 17.02 WIB, terdapat 146 anak dan orang dewasa yang dilaporkan mengalami sakit dengan gejala diare. Sebagian pasien menjalani rawat inap, sedangkan sebagian lainnya menjalani rawat jalan di rumah.
"Data per 13 Oct 2026, 17:02 ⟶ 146 anak dan dewasa sakit diare. Ada yang diopname dan ada pula yang rawat jalan di rumah," ujar Arnis Silvia.
Warga juga menelusuri kemungkinan jalur penularan, mulai dari interaksi antaranak di sekolah dan area bermain, konsumsi air minum kemasan, hingga makanan dan jajanan.
Dari penelusuran tersebut, warga menilai belum ditemukan kesamaan paparan pada faktor-faktor tersebut. Sebaliknya, rumah-rumah yang terdampak memperoleh pasokan air dari penyedia yang sama, yakni PT Arfa Poetra Soegama (APS).
Air tersebut digunakan untuk berbagai kebutuhan rumah tangga, seperti memasak, mencuci peralatan makan dan bahan makanan, mandi, serta menyikat gigi. Penggunaan air itu juga berlangsung di rumah-rumah yang mengonsumsi air minum kemasan.
Atas dasar itu, warga meminta dugaan keterkaitan antara kualitas air dan munculnya kasus muntaber ditelusuri lebih lanjut melalui investigasi epidemiologi dan pengujian laboratorium.
Rabu, 14 Oktober 2026
Warga Serpong Lagoon menyampaikan laporan mengenai dugaan KLB muntaber, kondisi air sanitasi, dan pengelolaan WTP dalam RDPU DPRD Kota Tangerang Selatan.
Dalam paparan tersebut, warga meminta pemerintah daerah, DPRD, dan pengelola WTP mengambil langkah konkret untuk melindungi kesehatan masyarakat serta memastikan kualitas air yang didistribusikan memenuhi standar yang berlaku.
Warga mengusulkan penyediaan pasokan air alternatif yang aman, pengujian laboratorium independen terhadap air baku, air setelah pengolahan, reservoir, dan keran rumah warga, serta audit teknis terhadap proses pengolahan dan jaringan distribusi air.
Selain itu, warga meminta keterbukaan dokumen perizinan penyediaan air, evaluasi tarif, dan pemantauan berkala yang melibatkan pemerintah daerah serta perwakilan warga.
Warga juga telah membentuk tim relawan pemantauan kualitas air dan berupaya memasang filter tambahan secara mandiri di sejumlah rumah. Namun, upaya tersebut dinilai tidak boleh menggantikan tanggung jawab penyedia layanan untuk memastikan air memenuhi persyaratan kualitas.
Hingga paparan disampaikan, penyebab pasti munculnya kasus muntaber belum dipastikan. Warga berharap investigasi epidemiologi dan pemeriksaan menyeluruh terhadap kualitas air dapat segera dilakukan untuk memastikan sumber masalah sekaligus mencegah bertambahnya kasus.
Belum ada keterangan dari pihak Serpong Lagoon maupun PT Arfa Poetra Soegama terkait insiden ini.
