Ospek di UGM: Seperti KKN Mini, Tak Ada Perpeloncoan

Pengembangan Inisiatif dan Orientasi bagi mahasiswa baru (PIONIR) Universitas Gadjah Mada (UGM) disebut menjadi salah satu program pengenalan kampus yang mengedepankan kegiatan tanpa kekerasan dan perpeloncoan.
Selama dua pekan, sebanyak 11.099 mahasiswa baru program sarjana dan sarjana terapan UGM tidak hanya diajak mengenal lingkungan kampus, tetapi juga belajar berinteraksi dengan masyarakat. Konsep tersebut bahkan disebut seperti kuliah kerja nyata (KKN) mini.
"Prinsip inklusivitas, prinsip non-violence, tidak ada kekerasan, prinsip tidak ada penugasan, itu kan menjadi salah satu prinsip-prinsip penting dari PIONIR Gadjah Mada," kata Direktur Kemahasiswaan UGM, Dr. Hempri Suyatna, melalui sambungan telepon, Kamis (20/8).
Selain mendapatkan materi di kelas, mahasiswa baru juga dibekali soft skill mengenai nilai-nilai ke-Jogja-an hingga kemampuan bersosialisasi dengan masyarakat melalui program action plan.
"Action plan yang kita lakukan ke lokasi-lokasi terdekat. Kemarin ada 20 kelurahan dan kalurahan, 6 di Sleman dan 14 yang ada di (Kota) Yogya yang kita jadikan sebagai action plan. Semacam bagaimana mengajari mahasiswa untuk bisa kemudian berkomunikasi, berinteraksi dengan masyarakat," ujarnya.
Maba Menanam Pohon Bersama Warga
Dalam kegiatan action plan, mahasiswa baru membawa berbagai jenis bibit pohon untuk ditanam di lingkungan masyarakat. Konsep green campus juga diterapkan dalam program pengenalan kampus tersebut.
"Jadi mereka ada penanaman pohon, baik di lingkungan kampus UGM maupun di masyarakat. Mereka membawa pohon-pohon sendiri, tabulampot, macam-macam, yang juga ditanam di lingkungan masyarakat ketika ada action plan. Ini bagian dari upaya untuk mereka juga peduli lingkungan dan juga bisa peduli ke masyarakat," kata Hempri.
"Terjun langsung, KKN mini. Itu kan juga untuk menumbuhkan nilai-nilai kerakyatan bagi mereka sesuai dengan jati diri UGM sebagai Universitas Kerakyatan," sambungnya.
Mahasiswa baru juga dilibatkan dalam berbagai kegiatan peringatan HUT Kemerdekaan RI bersama masyarakat sekitar.
"Mereka kan langsung banyak yang jadi panitia 17-an, ya ikut-ikut acara 17-an gitu-gitu," tuturnya.
Kegiatan Tidak Sampai Malam dan Tak Ada Tugas
Selama dua pekan pelaksanaan PIONIR, jam kegiatan diatur sesuai dengan Peraturan Rektor, yakni mulai pukul 07.00 hingga 16.00 WIB.
"Peraturan Rektor kan jam 07.00 sampai jam 16.00 ya, kecuali pas penutupan mungkin memang ada di Peraturan Rektor jam 16.30 sudah selesai kemarin," ujar Hempri.
Mahasiswa baru juga tidak diberikan tugas selama mengikuti kegiatan pengenalan kampus.
"Tidak ada penugasan. Kemudian juga mendorong apa inklusif, juga tidak ada kekerasan, tidak ada penugasan, itu yang menjadi prinsip kami," katanya.
Tak Ada Kostum Nyeleneh
Dalam hal pakaian, mahasiswa baru hanya mengenakan jas almamater dan caping sebagai pelindung dari panas.
"Pakai jas almamater, bahkan mungkin ketika kemarin caping pun juga kita tidak lagi warna-warni juga," bebernya.
Selain nilai-nilai universitas, mahasiswa baru juga mendapatkan materi mengenai literasi digital, literasi keuangan, hingga kesehatan mental.
"Materi-materi yang ada di PIONIR itu kontekstual dengan isu-isu yang ada di dalam masyarakat. Soal misalnya sekarang kan banyak kasus, ya termasuk soal mental health juga ya, tadi mental health juga sudah kita berikan. Isu-isu soal lemahnya literasi keuangan, literasi digital kan menjadi salah satu problem ya. Itu yang juga kita masukkan sebagai bahan pengenalan diri mahasiswa terhadap lingkungannya," katanya.
Srawung dengan Lingkungan Kos
Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Pengabdian kepada Masyarakat, dan Alumni UGM, Dr. Arie Sujito, mengatakan mahasiswa baru juga diasah untuk peduli dan memberikan manfaat bagi masyarakat. Salah satunya melalui Action Plan PIONIR bertajuk "Sinergi Gadjah Mada Muda, Srawung Wujudkan Aksi Nyata".
"Kita mengajak mahasiswa baru mengenali lingkungan sosial di sekitar tempat mereka indekos selama menempuh pendidikan di UGM," kata Arie dalam keterangan resminya beberapa waktu lalu.
Arie mengatakan mahasiswa baru yang tinggal di sekitar kawasan kampus harus memahami tata cara hidup bertetangga serta menghormati masyarakat yang menjadi tuan rumah.
Pengalaman tersebut menjadi pembelajaran yang melengkapi pengetahuan yang didapatkan di ruang kelas. Interaksi bersama warga menjadi kesempatan bagi mahasiswa untuk belajar mengenai adab, toleransi, dan kehidupan sosial secara langsung.
"Mahasiswa harus belajar bagaimana cara srawung dengan warga Yogyakarta, bagaimana bersikap rendah hati, toleransi, dan menghormati tuan rumah," tutur Arie.
"Ilmu itu juga ada di masyarakat. Kalau kita bisa belajar pada masyarakat secara langsung, Anda nanti akan bisa menjadi sarjana yang punya karakter," tegasnya.
