Polisi Selidiki Kasus Dokter PPDS di Manado Meninggal Diduga Di-bully

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi siswa depresi tidak lolos PPDB. Foto: Mindmo/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi siswa depresi tidak lolos PPDB. Foto: Mindmo/Shutterstock

Polresta Manado mulai menyelidiki kasus meninggalnya dokter Adrian Rantung, peserta Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Anestesiologi di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou, Manado. Korban diduga mengalami perundungan atau bullying.

"Sementara dalam penyelidikan," kata Kasat Reskrim Polresta Manado, Kompol Elwin Kristanto, kepada kumparan, Rabu (8/7).

Elwin menyebut, penyidik telah melakukan serangkaian penyelidikan dengan menelusuri informasi yang beredar di media sosial. Selain itu, polisi juga telah berkoordinasi dengan pihak RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou dan Universitas Sam Ratulangi (Unsrat).

"Kami sementara mengumpulkan dokumen serta meminta keterangan dari sejumlah pihak," jelasnya.

Meski demikian, Elwin mengungkapkan hingga saat ini keluarga korban belum membuat laporan polisi secara resmi, baik terkait dugaan perundungan maupun dugaan tindak pidana lainnya.

"Hingga saat ini belum ada laporan resmi dari pihak keluarga. Namun demikian, kami tetap melakukan pendalaman terhadap seluruh informasi yang beredar. Apabila nantinya ditemukan fakta, alat bukti, maupun unsur pidana yang cukup, tentu akan kami tindak lanjuti sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku," tegas Elwin.

Ia menegaskan penyelidikan akan dilakukan secara profesional, objektif, transparan, dengan mengedepankan asas praduga tak bersalah serta berdasarkan fakta dan alat bukti yang diperoleh di lapangan.

Elwin juga mengimbau masyarakat agar tidak berspekulasi ataupun menyebarkan informasi yang belum dapat dipastikan kebenarannya.

"Kami mengajak masyarakat untuk menghormati proses hukum yang sedang berjalan dan tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi. Kepolisian akan menangani perkara ini secara profesional, transparan, objektif, dan berdasarkan alat bukti," pungkasnya.

Kemenkes Kirim Tim Investigasi

Dirjen Kesehatan Lanjutan Kemenkes sekaligus ketua pelaksana program Azhar Jaya dalam orientasi pusat Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) di Rumah Sakit Pendidikan Penyelenggara Utama (RSPPU) di Gedung Kemenkes, Jakarta Selatan, Rabu (25/2). Foto: Amira Nada Fauziyyah/kumparan

Sebelumnya, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengirim tim untuk melakukan investigasi ke RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou, Manado, Sulawesi Utara.

Hal itu dilakukan menyusul adanya dugaan kasus perundungan (bullying) terhadap salah satu peserta Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Anestesiologi, dr. Adrian Rantung.

dr. Adrian merupakan peserta PPDS yang berasal dari Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi (Unsrat).

Beredar informasi di media sosial yang menyebut dr. Adrian ditemukan tak bernyawa. Ia diduga mengakhiri hidup akibat tekanan berat selama menjalani pendidikan PPDS.

Direktur Jenderal Kesehatan Lanjutan Kemenkes RI, Azhar Jaya, mengatakan telah mengirim tim untuk melakukan pemeriksaan.

Selain itu, untuk sementara Program PPDS Anestesiologi di RSUP Kandou dihentikan sambil menunggu proses pemeriksaan yang dilakukan Kemenkes.

“Iya, untuk sementara kami hentikan dan kami telah mengirimkan tim pemeriksa ke sana,” ungkap Azhar saat dikonfirmasi, Senin (6/7