Respons UGM atas Viral Dugaan Dokter PPDS Cibir Pasien BPJS di Medsos

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi Hate Speech Foto: Thinkstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Hate Speech Foto: Thinkstock

Seorang pasien peserta BPJS Kesehatan bernama Yurizal menjadi sorotan publik setelah curhatannya mengenai pelayanan di salah satu rumah sakit viral di media sosial.

Yurizal menulis belum mendapatkan ruang perawatan meski telah menunggu selama delapan jam.

"8 jam belum dapat ruangan. Gamau spill RS-nya, soalnya gue pake BPJS," tulis Yurizal dalam unggahannya di Threads pada 22 Juli 2026.

Unggahan tersebut kemudian menuai berbagai tanggapan, termasuk komentar bernada negatif dari sejumlah akun yang kemudian diketahui merupakan tenaga kesehatan (dokter dan perawat).

Beberapa hari kemudian, seorang netizen yang mengaku sepupu Yurizal, mengatakan Yurizal telah meninggal dunia pada 31 Juli.

Kabar tersebut memicu simpati publik sekaligus menyoroti kembali komentar-komentar pedas yang sebelumnya ditujukan kepada Yurizal yang dinilai tidak berempati (nirempati).

Meski demikian, hingga kini belum diketahui detail identitas Yurizal, dirawat di rumah sakit mana, dan apa penyakit yang dideritanya.

UGM Tanggapi Dugaan Keterlibatan Peserta PPDS

Gedung Pusat Universitas Gadjah Mada (UGM). Foto: Dok. UGM

Salah satu akun yang diduga ikut memberikan komentar negatif diketahui milik dokter berinisial EPR, yang merupakan peserta Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FKKMK) Universitas Gadjah Mada (UGM).

Akun itu menyindir foto profil Yurizal yang tampak mapan, tapi dianggap tidak berotak.

Juru Bicara UGM, Dr. I Made Andi Arsana, mengatakan kasus tersebut menjadi perhatian pihak universitas dan telah dibahas secara internal.

"Kemarin ada diskusi internal di UGM, terutama di FKKMK," kata Made Andi saat dikonfirmasi wartawan, Rabu (5/8/2026).

Menurutnya, UGM masih melakukan pembahasan lebih lanjut terkait persoalan tersebut.

"Saya akan update jika sudah ada hasil," ujarnya.

EPR sendiri, menurut sejumlah unggahan di medsos, telah menyatakan permintaan maaf.

RSUP Dr Sardjito: EPR Bukan Pegawai Rumah Sakit

Sebelumnya, Manajer Hukum dan Humas RSUP Dr Sardjito, Banu Hermawan, mengatakan pihaknya telah menelusuri unggahan yang viral di media sosial.

Banu menegaskan bahwa EPR bukan merupakan pegawai RSUP Dr Sardjito, melainkan peserta Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS).

"Yang itu memang dilakukan oleh salah satu peserta didik. Jadi bukan pegawai RSUP Dr Sardjito. Dia murni peserta didik," kata Banu saat dihubungi wartawan, Selasa (4/8/2026).

Ia menjelaskan, EPR merupakan peserta PPDS dari Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FKKMK) UGM.

RSUP Dr Sardjito Berkoordinasi dengan UGM

RSUP Sardjito. Foto: Shutterstock

Terkait persoalan tersebut, RSUP Dr Sardjito akan berkoordinasi dengan FKKMK UGM untuk melakukan penelusuran lebih lanjut.

"Karena ini peserta didik, kami akan melakukan kolaborasi dalam penanganan permasalahan ini," ujar Banu.

Banu menyatakan, pihak rumah sakit terkejut dengan unggahan yang viral tersebut. Namun, ia menegaskan bahwa klarifikasi perlu dilakukan sebelum mengambil kesimpulan.

"Dengan adanya unggahan seperti ini kami cukup kaget. Namun demikian, kami tidak bisa langsung menjustifikasi seperti apa kondisinya, sehingga kami akan melakukan klarifikasi bersama terlebih dahulu," tuturnya.

Ia menambahkan, RSUP Dr Sardjito bersama FKKMK UGM berkomitmen menciptakan lingkungan pendidikan dan pelayanan kesehatan yang profesional, aman, serta menjunjung tinggi etika kedokteran.