Tim Forensik Ambil Sampel Kulit-Organ Sutrimo: yang Kami Curigai Ada Kelainan

Ketua Tim Dokter Forensik, Prof. dr. Ahmad Yudianto, membeberkan proses ekshumasi terhadap jenazah Sutrimo yang dilakukan hari ini, Rabu (12/8). Ekshumasi tersebut melibatkan tim dari Polda Metro Jaya dan Polda Jawa Tengah.
Yudi mengatakan sampel yang diambil berasal dari bagian luar tubuh, mulai dari kepala hingga badan, serta organ-organ dalam.
"Saya ambil sampel dari kepala sampai badan. Mulai dari kulit yang kami curigai di situ ada kelainan, juga termasuk swab, dan termasuk isi organ-organ dalam seperti lambung dan jantung. Kalau tidak salah ada puluhan," ujar Yudi dalam jumpa pers di Mapolres Banyumas, Rabu (12/8).
Yudi mengungkapkan, berdasarkan pemeriksaan luar dan dalam secara visual, tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan pada jasad Sutrimo, baik akibat benda tumpul maupun benda tajam.
"Dari hasil pemeriksaan luar dan pemeriksaan dalam secara visual, kami tidak mendapatkan tanda-tanda luka yang diakibatkan oleh kekerasan tumpul maupun kekerasan tajam," jelasnya.
Namun, tim dokter masih akan melakukan pemeriksaan lanjutan, di antaranya uji toksikologi untuk mengetahui kemungkinan adanya racun serta pemeriksaan histopatologi terhadap jenazah Sutrimo.
"Kami melakukan pemeriksaan di antaranya adalah pemeriksaan histopatologi yang nanti akan dilakukan oleh dokter spesialis patologi anatomi. Pemeriksaan toksikologi, yaitu untuk mencari apakah adanya racun dan sebagainya, nanti akan dilakukan oleh Puslabfor," jelas Yudi.
Selain itu, tim juga melakukan pemeriksaan DNA untuk mendapatkan gambaran yang lebih lengkap terkait penyebab kematian Sutrimo.
"Sampai saat ini proses finalisasi masih tetap berlangsung, menunggu hasil dari pemeriksaan laboratorium tersebut, yaitu pemeriksaan histopatologi, pemeriksaan toksikologi, dan pemeriksaan DNA," imbuhnya.
Yudi mengatakan hasil pemeriksaan laboratorium diperkirakan membutuhkan waktu dua hingga tiga minggu. Hal itu disebabkan kondisi jenazah yang sudah mengalami pembusukan setelah dimakamkan sejak 23 Juli lalu atau hampir tiga pekan.
"Di ilmu kedokteran forensik ini sudah masuk pada proses pembusukan lanjut, sehingga secara visual itu hampir semua sama warnanya. Sehingga ini perlu dilakukan pemeriksaan laboratorium secara detail," ungkap Yudi.
Sementara itu, Karodokpol Polri sekaligus Ketua Perhimpunan Dokter Forensik-Medikolegal Indonesia, Brigjen Pol Sumy Hastry Purwanti, menyampaikan duka cita mendalam kepada keluarga Sutrimo.
Ia berharap proses ekshumasi tersebut dapat membantu mengungkap secara terang penyebab kematian Sutrimo.
"Ini semua adalah ahli-ahli yang tadi mengerjakan sampai selesai, sampai jenazah juga kami kebumikan dan kami lakukan secara agama Muslim dengan didoakan lagi. Dan semoga kasusnya bisa menjadi jelas," kata Hastry.
