Turis WN China Alami Pelecehan Saat Buat Video Outfit Check di Lovina, Bali

Seorang turis WN China yang juga pemilik akun Instagram @aurosa_a membagikan pengalamannya saat mengalami pelecehan seksual di kawasan Lovina, Desa Kalibukbuk, Kabupaten Buleleng, Bali.
Dalam video yang diunggahnya, saat itu korban terlihat sedang membuat video outfit check di kawasan wisata Lovina. Saat merekam, seorang pria menghampirinya.
Pria tersebut kemudian menyalami korban dan mengucapkan selamat berlibur. Namun, jabatan tangan berlangsung cukup lama hingga korban merasa tidak nyaman. Korban kemudian menyadari tangannya diduga diarahkan ke bagian kemaluan pria tersebut.
“Kenapa kamu memegang tanganku selama itu? Aku tidak tahu apa yang sebenarnya kamu lakukan. Sampai akhirnya aku sadar, ternyata sudah terlambat,” tulis Aurosa dalam unggahannya, dikutip Rabu (12/8).
Usai kejadian tersebut, korban mengaku menangis dalam perjalanan kembali ke tempat penginapan. Ia juga menyebut kejadian tersebut membuatnya mengalami trauma.
Menanggapi kejadian tersebut, Pemerintah Desa Kalibukbuk menyampaikan permohonan maaf kepada WNA asal China yang diduga menjadi korban. Pria yang diduga melakukan pelecehan tersebut diketahui merupakan warga setempat berinisial WS.
Kepala Desa Kalibukbuk, I Ketut Suka, mengatakan WS dikenal sering berjalan-jalan di sekitar desa dan terkadang berbicara tidak terarah. Namun, pihak desa tidak menyebut WS sebagai orang dengan gangguan jiwa.
“Kami sudah kirim permohonan maaf dari pihak desa ke akun wisatawannya itu atas ketidaknyamanan yang diterima. Kami kirim jawaban bahwa kami sudah mengambil tindakan cepat terkait informasi ini,” kata Ketut saat dikonfirmasi, Rabu (12/8).
Pihak desa menyebut peristiwa tersebut terjadi pada Sabtu (8/8) pagi. Namun, pemerintah desa baru mengetahui kejadian tersebut pada Minggu (9/8) berdasarkan laporan dari nelayan setempat.
Berdasarkan informasi dari nelayan, WS diduga bertemu dengan wisatawan asal China tersebut setelah aktivitas melihat lumba-lumba. Setelah mengetahui kejadian itu, pihak desa memanggil WS pada Senin (10/8).
“Kami sudah bina, bahkan kami ancam kalau berulah lagi seperti ini, akan kami ambil tindakan tegas. Di desa kami sudah tangani dan kami sudah coba tanya kontak keluarganya,” jelasnya.
Setelah mendapatkan kontak keluarga WS, pihak desa menghubungi keluarga untuk turut mengawasi perilakunya. Keluarga WS juga diminta membuat surat pernyataan di Kantor Desa.
“Sementara kami tidak buat laporan polisi karena sudah ada niat dan itikad baik dari keluarga yang ikut mengawasi gerak-geriknya agar tidak nantinya mengulangi hal seperti itu,” kata Suka.
