Warga di Cibeber Cianjur Kesulitan Air Bersih, Rogoh Rp 900 Ribu untuk MCK

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Sejumlah warga Desa Cimanggu, Kecamatan Cibeber terpaksa gunakan air sungai untuk kebutuhan MCK, akibat sulitnya air bersih dampak kemarau. Foto: kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Sejumlah warga Desa Cimanggu, Kecamatan Cibeber terpaksa gunakan air sungai untuk kebutuhan MCK, akibat sulitnya air bersih dampak kemarau. Foto: kumparan

Krisis air bersih akibat musim kemarau membuat sejumlah warga di Kabupaten Cianjur harus merogoh kocek hingga ratusan ribu rupiah setiap bulan untuk memenuhi kebutuhan mandi, cuci, kakus (MCK).

Hal itu diungkapkan seorang warga Kecamatan Cibeber, Taufik Winata (53). Ia mengaku terpaksa mengeluarkan biaya tambahan hingga Rp900 ribu per bulan untuk membeli air bersih.

"Sebesar Rp900 ribu setiap bulan hanya untuk membeli air galon guna memenuhi kebutuhan MCK dan memasak," kata Taufik kepada kumparan, Minggu (19/7).

Besarnya biaya yang harus dikeluarkan, ditambah musim kemarau yang diperkirakan masih berlangsung, membuat Taufik dan keluarganya memutuskan pindah ke daerah yang memiliki sumber air bersih lebih memadai.

Sejumlah warga Desa Cimanggu, Kecamatan Cibeber terpaksa gunakan air sungai untuk kebutuhan MCK, akibat sulitnya air bersih dampak kemarau. Foto: kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Sejumlah warga Desa Cimanggu, Kecamatan Cibeber terpaksa gunakan air sungai untuk kebutuhan MCK, akibat sulitnya air bersih dampak kemarau. Foto: kumparan

"Sekarang saya dan keluarga pindah ke daerah Cisalak Hilir. Kebetulan di belakang rumah ada sumber mata air yang bisa dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan air bersih selama musim kekeringan ini," ujarnya.

Menurut Taufik, wilayah tempat tinggalnya memang selalu mengalami kesulitan air bersih setiap musim kemarau. Jika hujan tidak turun selama dua hingga tiga hari, debit air sumur mulai menyusut hingga akhirnya mengering.

"Setiap kemarau panjang, daerah ini memang selalu kesulitan air bersih. Sungainya ada di bawah, sementara permukiman berada di atas. Jadi, kalau mau membuat sumur bor harus sangat dalam dan biayanya tentu sangat besar," ujarnya.

Sebulan Tak Hujan

Sementara itu, Kepala Desa Cimanggu, Kecamatan Cibeber, M. Rohman Budiman, mengatakan wilayahnya sudah hampir sebulan tidak diguyur hujan. Kondisi tersebut menyebabkan sejumlah warga mulai kesulitan mendapatkan air bersih.

Bahkan, di beberapa dusun, warga terpaksa memanfaatkan air sungai untuk memenuhi kebutuhan mandi, cuci, dan kakus (MCK).

Meski demikian, Rohman mengatakan pasokan air bersih di beberapa dusun masih relatif aman karena disuplai dari mata air di perbukitan melalui jaringan pipanisasi sederhana.

"Seperti di Kampung Cibinong, warga masih mendapatkan pasokan air bersih dari mata air Leuweung Hideung," kata Rohman.

Rohman memperkirakan krisis air bersih akan semakin meluas dalam sepekan ke depan jika hujan belum juga turun. Prediksi tersebut berkaca pada kondisi yang terjadi pada musim kemarau tahun sebelumnya.

"Biasanya kalau kekeringan semakin parah, warga menggali tanah atau lahan sawah untuk membuat cerukan. Kami juga akan mengajukan permohonan bantuan distribusi air bersih kepada pemerintah daerah," ujarnya.

Sebelumnya, sebanyak 14 kecamatan di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, terdampak krisis air bersih akibat musim kemarau.

Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan Bencana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Cianjur, Taufik Zuhrizal, mengatakan sejumlah wilayah telah dipetakan berpotensi terdampak kemarau dan mengalami krisis air bersih.

Wilayah tersebut di antaranya Kecamatan Ciranjang, Cibeber, Cibinong, Sukaluyu, Gekbrong, Campakamulya, Kadupandak, Agrabinta, hingga Cugenang.

"Termasuk di wilayah Cianjur bagian utara, seperti Kecamatan Cugenang. Berdasarkan catatan, wilayah-wilayah tersebut hampir setiap musim kemarau mengalami krisis air bersih," kata Taufik kepada Kumparan, Sabtu (18/7).