Mindfulness dan Pendidikan yang Sedang Kalah Cepat

Saya seorang guru di SMA Negeri Ongka Malino Kabupaten Parigi Moutong Provinsi Sulawesi Tengah .
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari MIRZA tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pertengahan September lalu, Kementerian Agama menerbitkan Surat Edaran Nomor 19 Tahun 2026 yang membatasi penggunaan gawai di madrasah, pesantren, dan satuan pendidikan sejenis, termasuk mengatur agar pemakaian ponsel di rumah tidak lebih dari dua jam sehari di luar keperluan belajar. Aturan ini menyusul Surat Edaran Kemendikdasmen Nomor 18 Tahun 2026 yang lebih dulu terbit Juli lalu, sejalan dengan Peraturan Pemerintah tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Pelindungan Anak yang mulai berlaku Maret 2026. Sejumlah dinas pendidikan daerah, dari DKI Jakarta sampai Jawa Timur, ikut menerbitkan aturan serupa dengan cara mereka sendiri, ada yang mengumpulkan ponsel siswa di loker sebelum jam pelajaran, ada yang sekadar membatasi jamnya.
Sebagai guru Informatika, saya melihat kegelisahan di balik rentetan aturan ini. Semua pihak sadar ada yang tidak beres pada cara anak-anak berelasi dengan layar, tapi solusinya nyaris selalu berhenti pada larangan akses. Ponsel disita, jam pemakaian dibatasi, aplikasi diblokir. Itu perlu, tapi itu hanya menahan gejala. Begitu ponsel kembali ke tangan siswa sepulang sekolah, kemampuan mereka mengendalikan perhatiannya sendiri tidak otomatis membaik hanya karena tadi siang ponselnya disimpan di loker.
Yang menarik, jauh sebelum ramai soal pembatasan gawai, Kemendikdasmen sebenarnya sudah menaruh jawaban atas persoalan ini di jantung kurikulum. Sejak 2024, Pusat Kurikulum dan Pembelajaran memperkenalkan pendekatan Pembelajaran Mendalam dengan tiga prinsip utama, berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan, yang dalam dokumen resminya diterjemahkan langsung sebagai mindful learning, meaningful learning, dan joyful learning. Dengan kata lain, mindfulness bukan wacana asing yang harus diimpor dari luar sistem pendidikan kita. Ia sudah tercantum sebagai salah satu pilar resmi cara belajar yang ingin dibangun pemerintah.
Masalahnya, istilah berkesadaran ini sejauh yang saya alami di ruang guru masih sering berhenti sebagai jargon pelatihan. Guru diajak memahami konsepnya lewat modul dan lokakarya sehari dua hari, lalu diminta menerapkannya tanpa panduan konkret soal caranya melatih perhatian anak yang sudah terbiasa berpindah rangsangan setiap beberapa detik. Padahal inilah tantangan paling nyata di kelas hari ini. Laporan Digital Indonesia menunjukkan rata-rata pengguna internet di negeri ini menghabiskan sekitar tujuh jam sehari daring, dengan lebih dari tiga jam di antaranya khusus untuk media sosial. Menteri Komunikasi dan Digital sendiri menyebut hampir separuh dari sekitar dua ratus dua puluh juta pengguna internet Indonesia adalah anak dan remaja di bawah delapan belas tahun. Anak-anak ini tumbuh dengan otak yang dilatih setiap hari untuk mencari rangsangan baru, bukan untuk bertahan pada satu fokus.
Riset ilmiah pun mulai mengonfirmasi kekhawatiran ini bukan sekadar kecemasan generasi tua. Tinjauan yang dimuat Nature Human Behaviour pada 2025 menemukan penggunaan media sosial berlebihan berkaitan dengan meningkatnya kelelahan mental, gangguan konsentrasi, dan turunnya kualitas tidur remaja, terutama kalau pemakaiannya sampai larut malam. Di sisi lain, sejumlah meta-analisis tentang mindfulness di sekolah, termasuk kajian yang dipublikasikan Journal of School Psychology pada 2023, menunjukkan hasil yang konsisten memperbaiki regulasi emosi dan proses kognitif siswa, asal programnya dijalankan terstruktur dan fasilitatornya benarbenar terlatih, bukan sekadar mengikuti satu sesi pengenalan.
Di titik ini saya perlu jujur pada keberatan yang wajar diajukan. Sebuah tinjauan sistematis dari lembaga kesehatan masyarakat Norwegia yang merangkum enam puluh satu studi mindfulness di sekolah menyimpulkan efeknya terhadap perilaku dan prestasi akademik siswa ternyata tidak signifikan, meski efeknya terhadap proses kognitif dan sosioemosional tetap positif meski tergolong lemah. Sejumlah pengamat pendidikan bahkan menilai penerapan mindfulness di sekolah sudah melampaui kekuatan bukti ilmiahnya sendiri, dipasang di banyak sekolah lebih karena tren ketimbang hasil kajian yang matang. Ini peringatan yang pantas didengar. Mindfulness bukan obat ajaib yang otomatis mendongkrak nilai ujian, dan siapa pun yang menjanjikan itu sedang menjual harapan kosong.
Tapi keberatan ini justru memperkuat argumen saya, bukan meruntuhkannya. Kalau mindfulness cuma ditempel sebagai kegiatan tambahan sepuluh menit sebelum pelajaran dimulai, wajar hasilnya tipis dan gampang dianggap tren lewat. Yang saya usulkan berbeda, mindfulness perlu dijalin ke dalam literasi digital itu sendiri, bukan berdiri sebagai ritual terpisah. Di pelajaran Informatika misalnya, siswa bisa diajak membedah cara kerja algoritma rekomendasi yang sengaja dirancang agar mereka terus menggulir layar, lalu diminta mengamati sendiri kapan tangan mereka refleks membuka aplikasi tanpa niat jelas. Kesadaran akan mekanisme itu, dipraktikkan berulang lewat latihan memperhatikan napas atau jeda sebelum membuka ponsel, adalah bentuk literasi digital yang lebih dalam daripada sekadar menghafal etika bermedia sosial dari slide presentasi.
Guru memang perlu pelatihan yang jauh lebih serius daripada sekadar modul pengenalan satu hari kalau pendekatan ini ingin berjalan. Tapi ruang untuk itu sudah tersedia dalam kerangka kurikulum yang berlaku, tinggal soal kemauan dan sumber daya untuk mengisinya dengan latihan yang benar-benar terstruktur, bukan formalitas administratif yang berhenti di dokumen pelaporan. Sayang sekali kalau prinsip berkesadaran yang sudah tertulis resmi sejak 2024 justru kalah gaung dibanding surat edaran pembatasan gawai yang lebih mudah diberitakan karena sifatnya melarang.
Surat edaran soal gawai yang muncul beruntun sepanjang tahun ini pantas diapresiasi sebagai respons cepat atas kegelisahan nyata orang tua dan guru. Tapi larangan hanya efektif selama pengawasan berlangsung, dan sekolah tidak bisa mengawasi anak dua puluh empat jam sehari. Yang bisa bertahan sampai anak pulang ke rumah, membuka ponselnya sendiri tanpa ada guru yang menegur, adalah kemampuan mereka mengenali kapan perhatiannya mulai direbut paksa oleh layar. Itulah pekerjaan rumah pendidikan hari ini, bukan sekadar menyita ponsel di pagi hari, melainkan melatih kesadaran yang tetap menyala begitu ponsel itu kembali ke saku mereka.
