Konten dari Pengguna

Saat Kebebasan Berubah Jadi Alat Memeras Diri di Media Sosial

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari MIRZA tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Awal Agustus 2026, Kementerian Komunikasi dan Digital melayangkan surat teguran pertama kepada YouTube. Pemicunya, siaran langsung seorang kreator yang diduga melibatkan anak di bawah umur untuk mempromosikan rokok elektronik. Platform diberi waktu paling lama tiga hari untuk bertindak.

Negara bergerak cepat karena korbannya mudah dikenali dan ada orang dewasa yang bisa ditunjuk sebagai pelaku. Bagaimana kalau tidak ada yang bisa ditunjuk? Bagaimana kalau orang dewasa menjajakan tubuh, luka, dan kemiskinannya sendiri ke layar, dengan senyum dan tanpa paksaan siapa pun?

Sumber Gambar : Ilustrasi AI
zoom-in-whitePerbesar
Sumber Gambar : Ilustrasi AI

Filsuf Byung-Chul Han sudah lama menyodorkan pertanyaan serupa, dan jawabannya tidak nyaman. Menurut saya, eksploitasi diri di media sosial paling tepat dibaca lewat lensa Han, tetapi lensa itu perlu dikoreksi untuk kenyataan Indonesia. Han menjelaskan mengapa orang merasa bebas saat memeras dirinya sendiri. Kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa kebebasan itu sering lahir dari keterdesakan.

Panggung yang Membayar Penderitaan

Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia mencatat 229,43 juta pengguna internet pada 2025, atau 80,66 persen penduduk, dan media sosial menjadi alasan utama orang terhubung. Dalam survei terhadap 8.700 responden, TikTok menjadi aplikasi yang paling sering diakses dengan porsi 35,17 persen. Aplikasi itu punya fitur siaran langsung, tempat penonton mengirim hadiah virtual yang bisa ditukar menjadi uang.

Kita pernah melihat akibatnya. Pada Januari 2023, siaran langsung perempuan paruh baya mandi lumpur di Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, menjadi sorotan nasional. Menurut laporan CNN Indonesia, salah satu pemerannya mengaku memperoleh hingga Rp1,5 juta dalam satu jam siaran dan mengatakan tidak dipaksa.

Sosiolog Bagong Suyanto menangkap logika intinya, yaitu penonton memberi lebih banyak ketika pelaku tampak makin tersiksa. Harga dipasang pada penderitaan.

Majikan yang Tinggal di Dalam Kepala

Di sinilah Han berguna. Dalam The Burnout Society, yang terbit dalam bahasa Jerman pada 2010, ia menyebut masyarakat kita tidak lagi digerakkan oleh larangan, melainkan oleh dorongan untuk berprestasi. Perintahnya bergeser dari "kamu harus" menjadi "kamu bisa".

Subjeknya merasa merdeka dari penguasa mana pun, lalu menjadi majikan sekaligus buruh bagi dirinya sendiri. Menurut Han, eksploitasi ternyata mungkin terjadi tanpa dominasi, dan pelakunya memeras diri sampai habis.

Platform digital membuat perang batin itu bisa dipajang dan dihitung. Ulasan buku Han berjudul Psychopolitics di blog perpustakaan Universitas Michigan menyebut ponsel sebagai bilik pengakuan yang selalu dibawa ke mana-mana, dan tombol suka sebagai "amin" digital. Pengawasan menjadi lebih efektif daripada penjaga mana pun karena orang membuka dirinya dengan sukarela.

Ulasan di Gulf News menyebut Han menamai kondisi ini kapitalisme tentang suka, ketika persetujuan orang lain menjadi mata uang. Tombol hadiah di siaran langsung adalah tombol suka yang diberi harga.

Dari Luka Batin sampai Tubuh

Mekanisme ini terlihat jelas pada luka batin. Darren McGarvey, penulis pemenang Orwell Prize, dalam bukunya tahun ini menyebut trauma pribadi kini menjadi pasar yang digerakkan insentif finansial media sosial. Tinjauan di media kampus The Boar pada Maret 2026 mencatat bahwa semakin banyak tayangan, semakin besar uang kreator, sehingga pengguna terdorong memposting konten yang kian ekstrem.

Han membaca gejala ini sebagai akibat masyarakat transparansi, yaitu tuntutan membuka diri sepenuhnya yang menyingkirkan rasa malu, rahasia, dan kepercayaan. Padahal rasa malu pernah menjaga rasa sakit agar tidak langsung menjadi barang dagangan.

Tubuh mengalami hal serupa. Meta-analisis tentang media yang menyeksualisasi menemukan efek positif sedang terhadap objektifikasi diri, yaitu kecenderungan menilai diri dari tampilan luar, dan media daring memberi efek lebih kuat daripada televisi. Studi 2025 terhadap 594 perempuan di Istanbul mendapati objektifikasi diri menjadi jembatan antara pemakaian media sosial yang bermasalah dan gangguan citra tubuh.

Dalam bahasa Han, diri menjadi proyek yang harus terus dipoles dan dipasarkan. Ia meminjam pengamatan sosiolog Prancis Alain Ehrenberg bahwa orang yang depresi adalah orang yang lelah menjadi dirinya sendiri.

Keberatan yang Layak Dijawab

Perempuan pemeran mandi lumpur itu bukan subjek prestasi ala Han yang ambisius dan dihantui target. Ia mengaku uang siaran dipakai membayar tagihan bank, dan ia lebih memilih siaran ketimbang ke sawah. Ulasan Gulf News atas Psychopolitics menilai Han meremehkan bentuk paksaan yang kasar, seperti kerja lepas dan kerentanan ekonomi. Kritik itu kena untuk kasus kita, sebab Han menulis dari masyarakat yang cukup makmur untuk bermimpi tentang optimalisasi diri.

Namun kritik ini justru menyempurnakan Han, bukan membantahnya. Di Indonesia eksploitasi diri bekerja dalam dua lapis. Lapis pertama adalah keterdesakan yang mendorong orang masuk. Lapis kedua adalah logika platform yang membuat keterdesakan itu terasa seperti pilihan bebas, bahkan seperti kesempatan. Ketika seseorang berkata tidak dipaksa, ia tidak berbohong. Ia sedang menggambarkan gejala yang Han maksud, yaitu paksaan yang tampil sebagai kebebasan.

Keberatan kedua datang dari arah sebaliknya. Tidak semua orang yang bercerita tentang lukanya sedang menjual diri, dan tulisan The Boar pun mengakui bahwa cerita semacam itu bisa menolong. Garisnya menurut saya bukan pada isi cerita, melainkan pada apakah makin parah cerita itu makin laku.

Lalu Apa yang Bisa Dilakukan?

Han menawarkan jalan kembali pada rahasia, kesunyian, dan jarak, yaitu hak untuk tidak tampil. Itu nasihat yang bagus tetapi tidak cukup, sebab menyuruh individu menahan diri di dalam sistem yang membayar keterbukaan sama saja menyuruh orang melawan arus dengan tangan kosong.

Komdigi sudah punya preseden menekan platform soal perlindungan anak, dan logika yang sama bisa dipakai untuk menuntut moderasi aktif terhadap siaran yang memperdagangkan penderitaan, termasuk meninjau cara hadiah virtual dimonetisasi. Penonton juga memegang kunci, sebab hadiah adalah suara dalam pasar ini. Di bawah semua itu ada pekerjaan rumah yang lebih sunyi, yaitu menyediakan penghasilan layak yang tidak mensyaratkan orang mempertontonkan rasa sakitnya.

Di pembuka tadi, negara bergerak cepat karena ada majikan yang bisa dituding. Pelajaran Han adalah bahwa bentuk eksploitasi yang paling efisien justru tidak punya majikan. Tugas kita melatih mata untuk melihat korban pada orang yang tampak bebas, sambil menagih tanggung jawab pada rancangan yang membuat kebebasan itu begitu mahal.