Setelah Deklarasi, UMKM Sulteng Butuh Bukti, Bukan Sekadar Target

Saya seorang guru di SMA Negeri Ongka Malino Kabupaten Parigi Moutong Provinsi Sulawesi Tengah .
ยทwaktu baca 3 menit
Tulisan dari MIRZA tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Senin, 28 September 2026, di Palu, digelar Deklarasi Perkarantinaan Gerakan 1.000 Pengusaha UMKM dari Bumi Tadulako Menuju Pasar Global, dihadiri Menteri UMKM, Kepala Badan Karantina Indonesia, dan Gubernur Sulawesi Tengah. Para bupati dan wali kota ikut menandatangani. Fotonya meyakinkan. Pertanyaan yang lebih penting datang keesokan harinya: apa yang berubah bagi pelaku usaha di lapangan?
Niat gerakan ini layak didukung. Tetapi menurut saya, naik kelas tidak lahir dari deklarasi. Ia lahir dari hal-hal yang membosankan: standar mutu, sertifikat, kemasan, dan pasokan yang konsisten.
Angka 1.000 Bukan Tujuan
Gubernur sendiri menegaskan bahwa gerakan ini bukan sekadar mengejar jumlah, melainkan membangun keberanian dan kesiapan pelaku usaha lokal untuk naik kelas. Pegangan itu perlu dijaga. Seribu nama yang terdaftar tetapi tidak ada satu pun kiriman yang lolos ke negara tujuan hanya menjadi angka di laporan.
Sebaliknya, seratus pelaku yang mengirim barang secara rutin akan jauh lebih terasa dampaknya bagi petani, nelayan, dan tenaga kerja di sekitarnya. Ukuran berhasilnya adalah kiriman yang diterima pembeli, bukan jumlah peserta.
Hambatannya di Persyaratan, Bukan di Produk
Sulawesi Tengah punya komoditas yang berpotensi diekspor, di antaranya sarang burung walet, durian, kakao, kelapa, tuna, dan kepiting bakau. Bahan bakunya ada. Kepala Barantin menyebut kendala utamanya justru menjaga standar kualitas dan minimnya pemahaman terhadap regulasi pasar internasional.
Barantin menyebut penguatan perlu dimulai dari standar produksi, sertifikasi, kemasan, ketertelusuran, hingga kontinuitas pasokan. Kalimat itu terdengar teknis, tetapi maknanya sederhana. Pembeli luar negeri tidak hanya membeli rasa. Mereka membeli kepastian: barangnya aman, asal-usulnya jelas, dan kirimannya datang tiap bulan dengan mutu yang sama.
Di titik inilah pelaku kecil biasanya tersandung. Produknya bagus, tetapi dokumennya belum siap.
Durian dan Ujian Kontinuitas
Gubernur menyebut durian dari Poso, Parigi Moutong, dan Sigi perlu dikembangkan secara terintegrasi agar tidak berhenti di pasar domestik. Bagi saya, durian adalah contoh ujian yang paling nyata.
Satu kebun kecil sulit memenuhi pesanan ekspor sendirian. Yang dibutuhkan adalah pasokan dari banyak petani dengan mutu seragam, penanganan pascapanen yang rapi, dan pencatatan asal kebun. Itu pekerjaan kelompok tani, koperasi, dan pemerintah daerah yang harus mengorganisasi mereka. Pameran dan seremoni tidak menggantikannya.
Klinik Ekspor Harus Menjangkau Kabupaten
Dalam rangkaian HUT ke-48 Kota Palu, Barantin membuka Klinik Ekspor, ruang konsultasi yang mencakup persyaratan karantina, pemeriksaan, sertifikasi, hingga ketentuan negara tujuan. Ini langkah yang tepat karena persoalannya memang kurang informasi.
Namun petani durian di Sigi atau pembudidaya kepiting di pesisir tidak selalu mudah datang ke Palu. Pendampingan perlu berkelanjutan dan menjemput bola ke kabupaten. Satu kali konsultasi jarang cukup untuk membereskan izin, kemasan, dan uji mutu sekaligus. Deklarasi ini memang dirancang berlanjut lewat pendampingan intensif, peningkatan mutu, fasilitasi perkarantinaan, dan perluasan akses pasar, dan janji itu yang akan ditagih.
Ukuran yang Bisa Dicek Publik
Usul saya sederhana: umumkan capaian secara berkala. Berapa pelaku yang didampingi, berapa yang sudah memenuhi persyaratan, berapa yang sudah mengirim, ke negara mana, dan hambatan apa yang paling sering muncul. Dengan data itu, pelaku usaha tahu apa yang harus dibenahi, dan publik bisa menilai gerakan ini secara jujur.
Kontainer Pertama
Sulawesi Tengah tidak kekurangan bahan. Yang sedang diuji adalah konsistensi kita, mulai dari kebun, tambak, dan dapur produksi sampai meja pengurus dokumen.
Bagi pelaku UMKM, langkah awalnya bisa sekecil mencatat produksi, mengurus legalitas usaha, dan merapikan kemasan, lalu memanfaatkan klinik ekspor. Bagi pemerintah, tugasnya menunjukkan hasil. Deklarasi sudah ditandatangani, dan sekarang yang ditunggu adalah kontainer pertama yang berangkat.
