Tinggal Kelas Bukan Obat Mujarab

Saya seorang guru di SMA Negeri Ongka Malino Kabupaten Parigi Moutong Provinsi Sulawesi Tengah .
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari MIRZA tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dalam Konvensi Pendidikan Indonesia XII di Universitas Pendidikan Ganesha, Jumat (2/10/2026), Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu'ti melempar satu kalimat yang cepat menyebar ke grup percakapan orang tua. Mulai tahun ajaran 2027, katanya, tidak semua murid akan otomatis naik kelas.
Ia menyebut gagasan itu berasal dari masukan Dewan Pendidikan. Ia juga menyinggung kekhawatiran akan rumus "rajin malas sama saja," yakni anggapan murid bahwa belajar sungguh-sungguh atau bermalas-malasan sama-sama berujung pada kenaikan kelas.
Kegelisahan itu masuk akal. Guru di kelas mana pun pernah bertemu murid kelas enam yang belum lancar membaca, lalu bertanya dalam hati apa gunanya mengantarnya ke jenjang berikutnya.
Namun menurut saya, tinggal kelas yang berdiri sendiri bukan jawaban atas masalah itu. Yang menentukan nasib anak bukan keputusan di akhir tahun, melainkan apa yang dikerjakan sekolah sebelum dan sesudahnya.
Baru Wacana, Belum Aturan
Perlu dicatat dulu apa yang sebenarnya dikatakan menteri. Menurut pemberitaan, Mu'ti menyebut kebijakan ini bukan untuk menghukum, masih memerlukan kajian akademik, dan tidak akan diputuskan terburu-buru.
Syaratnya pun belum final, sebab rencana itu baru berlaku jika usulan Dewan Pendidikan menjadi rekomendasi konvensi. Orang tua tidak perlu cemas berlebihan, dan kita juga belum perlu bersorak.
Ada satu hal yang sering luput. Aturan yang berlaku sekarang sebenarnya tidak melarang tinggal kelas. Permendikbudristek Nomor 21 Tahun 2022 tentang Standar Penilaian Pendidikan menyerahkan keputusan kenaikan kelas pada laporan kemajuan belajar, dan guru dapat memutuskannya lewat musyawarah.
Tidak naik kelas ditempatkan sebagai pilihan terakhir setelah pendampingan dilakukan. Jadi pertanyaan yang lebih jujur barangkali bukan apakah tinggal kelas boleh, melainkan mengapa pilihan terakhir itu hampir tidak pernah dipakai, dan apakah penyebabnya benar-benar kemalasan murid.
Apa Kata Riset
Salah satu rangkuman yang paling sering dikutip, meta-analisis Holmes pada 1989, menelaah 63 studi dan mendapati 54 di antaranya menunjukkan dampak negatif tinggal kelas. Dampak itu mencakup capaian akademik sampai sikap terhadap sekolah.
Meta-analisis Shane Jimerson pada 2001 atas 20 studi menemukan sekitar 80 persen studi melaporkan hasil yang merugikan, baik akademik maupun sosial-emosional. Ringkasan John Hattie atas ratusan studi menempatkan ukuran efek mengulang kelas di kisaran minus 0,16. Angka itu kecil, tetapi arahnya jelas, bukan ke atas.
Keberatan wajar akan muncul. Bukankah studi lama sering membandingkan anak yang tinggal kelas dengan anak yang berbeda sejak awal? Betul. Meta-analisis Allen dan kawan-kawan pada 2009 atas 22 studi menemukan bahwa penelitian dengan kontrol lebih ketat cenderung tidak lagi menemukan dampak negatif pada capaian belajar.
Hanya saja, para penulisnya sendiri menyatakan hasil itu tidak banyak mendukung para pendukung tinggal kelas. Dampak negatifnya hilang, tetapi dampak positifnya juga tidak muncul. Studi yang dirilis Federal Reserve Bank of New York pun menemukan keuntungan awal dari mengulang kelas di jenjang rendah memudar seiring waktu.
Lalu kapan tinggal kelas berhasil? Rangkuman Holmes memberi petunjuk penting. Pada sedikit studi yang melaporkan hasil baik, murid berisiko biasanya dikenali sejak dini dan mendapat bantuan khusus. Artinya, yang bekerja adalah bantuannya, bukan sekadar mengulang tahun yang sama dengan guru, metode, dan ruang kelas yang sama.
Masalahnya Ada di Ruang Kelas
Kondisi pembelajaran kita memperkuat kekhawatiran ini. Pada PISA 2022, skor membaca siswa Indonesia turun dari 371 menjadi 359, dan skor matematika turun dari 379 menjadi 366. Penurunan itu terjadi di banyak negara akibat pandemi, tetapi skor kita memang sudah lama bertahan di kisaran yang sama.
Rendahnya capaian ini bukan semata cerminan murid yang enggan berusaha. Ia juga cerminan kelas yang padat, guru yang kewalahan, dan materi yang melaju lebih cepat daripada kemampuan sebagian anak. Menahan seorang anak satu tahun tanpa mengubah semua itu sama dengan menyuruhnya berlari lagi di lintasan yang sama.
Risiko lain menyangkut siapa yang paling mungkin terkena. Ringkasan penelitian dari Evidence for Learning di Australia mencatat bahwa murid yang lebih muda, laki-laki, dan berlatar ekonomi rendah lebih rentan mengulang kelas. Jimerson dan rekan pada 2002 juga mengaitkan tinggal kelas dengan meningkatnya risiko putus sekolah.
Di negeri yang masih bergulat dengan anak putus sekolah, kebijakan yang tanpa sengaja mendorong anak miskin keluar dari bangku sekolah akan menjadi ironi yang mahal.
Soal Motivasi
Ini inti keresahan menteri, dan tidak boleh disepelekan. Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto dalam forum yang sama juga menyinggung bahwa anak-anak kita kini tak mengenal tes masuk maupun tinggal kelas.
Namun motivasi belajar jarang tumbuh dari ancaman yang baru datang setahun sekali. Ia tumbuh dari umpan balik yang cepat, tugas yang terasa bermakna, dan guru yang sempat memperhatikan. Murid yang tahu dirinya tertinggal pada bulan ketiga, lalu dibantu, jauh lebih terdorong daripada murid yang baru tahu pada bulan kedua belas.
Yang Perlu Dikunci Lebih Dulu
Kalau gagasan ini jadi dijalankan, ada beberapa hal yang sebaiknya dipastikan sejak awal. Kriteria tidak naik kelas harus jelas dan dapat dipertanggungjawabkan. Remedial dan pendampingan harus berjalan sepanjang tahun, bukan menjadi jalan keluar darurat di bulan Juni.
Penerapannya perlu bertahap dengan data yang diumumkan. Perlu dipertimbangkan pula apakah satu aturan cocok untuk kelas satu sekolah dasar sekaligus kelas sebelas SMA. Kriteria, jenjang, dan pendampingan itu memang masih terbuka dalam pemberitaan hingga hari ini.
Ujian bagi kebijakan ini bukan berapa banyak murid yang berhasil ditahan, melainkan berapa banyak yang akhirnya benar-benar bisa membaca, berhitung, dan bernalar. Rumus "rajin malas sama saja" memang harus dibongkar, tetapi penggantinya jangan rumus baru yang berbunyi "gagal sekali, ketinggalan selamanya."
Kenaikan kelas semestinya menjadi penanda bahwa seorang anak siap, dan kesiapan itu dibangun oleh sekolah yang mau repot membantu, bukan oleh ancaman yang menunggu di ujung tahun. Waktu menuju 2027 tinggal setahun, cukup untuk menyiapkan kelasnya, kalau kita mulai dari ruang kelas lebih dulu.
