Konten dari Pengguna

Bermedia dengan Cerdas dan Berdampak

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Mirza Azkia Muhammad Adiba tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi aplikasi media sosial Meta, Facebook, Instagram, WhatsApp. Foto: Oryzapratama/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi aplikasi media sosial Meta, Facebook, Instagram, WhatsApp. Foto: Oryzapratama/Shutterstock

Kecanggihan kecerdasan buatan yang belum diimbangi dengan pengetahuan literasi media, membuat penyebaran disinformasi menjadi tantangan tersendiri bagi banyak pihak. Baik itu untuk masyarakat umum, penggiat literasi, aktivis sosial, akademisi hingga instansi pemerintahan secara menyeluruh.

Yang memprihatinkan, situasi ini masih belum dianggap masalah serius, padahal jika terus menerus dibiarkan akan menjadi bom waktu dan bisa mengancam stabilitas dalam bernegara.

Kondisi ini dapat menggambarkan kurang pekanya instansi pemerintahan dalam menyikapi ancaman disinformasi berbasis kecerdasan buatan sebagai isu strategis, yang harus direspon dengan cepat dan saling berkaitan satu sama lain.

Sejatinya, tanpa adanya strategi pada tingkat nasional yang komprehensif, literasi media berkelanjutan, disinformasi merupakan ancaman besar dan berpotensi besar dalam mengancam kualitas informasi publik, kondisi sosial, politik hingga sistem demokrasi.

Harus diakui bahwasannya masyarakat Indonesia merupakan pengguna internet salah satu paling banyak di dunia, dan paling aktif dalam berinteraksi melalui sosial media.

Walaupun ini tidak ada korelasi dengan tingkat kemampuan bermedia yang cerdas dan bermanfaat. Konsep Network yang dipopulerkan Manuel Castells, menerangkan bahwasannya walaupun masyarakat terkoneksi secara digital, belum tentu mahir dalam memproduksi, memilah hingga memverifikasi informasi secara tepat dan akurat.

Paradoks transformasi digital dapat difokuskan pada besarnya investasi dan akselerasi adopsi teknologi, tanpa dibarengi dengan upaya dari pihak terkait dalam upaya peningkatan kompetensi literasi digital.

Dampak nyatanya adalah ruang digital dipenuhi dengan berbagai persoalan mulai dari hoaks, deepfake, peipuan digital, doxing hingga terbentuknya polarisasi. Kritik ini sejalan dengan konsep yang dipopulerkan Neil Postman yakni Technopoly. Yakni, ketika masyarakat lebih berorientasi pada kemajuan teknologi dibanding membangun kemampuan untuk mengendalikan dan memaknai secara kritis.

Di negara dengan pengguna internet paling aktif, tentu saja interaksi makin sering terjadi dan persebaran informasi juga masif. Namun, alih-alih makin berdampak secara langsung terhadap tingginya literasi media.

Peluang ini justru digunakan untuk melakukan tindakan untuk penyebaran hoaks, buzzer sampai disinformasi. Ini merupakan paradoks yang ditampilkan secara jelas di negara ini.

Sejatinya, sebagai predikat pengguna internet terbanyak merupakan sebuah potensi kuat untuk digunakan hal positif. Namun jangan salah, pengertian pengguna internet bukanlah pengguna aktif yang bersifat simbolis. Bukan pula sebagai tanda populer dan eksis sematam ia harus bersifat substantif yang mencakup kecakapan digital baik bersifat individu, sosial hingga publik.

Pesan Literasi

Paradoks tersebut harus mendorong semua pihak untuk menyerukan urgensi literasi media digital agar

cakap dalam penggunaan media serta cerdas dan memberikan dampak positif bagi sekitar. Berdampak di sini meniscayakan sikap bermedia yang tidak sebatas tahu mana yang baik dan buruk atau terampil mengoperasikan gawai semata, tetapi mencakup kontribusi secara langsung.

Lewat pemikirannya Everett M. Rogers melalui teori Diffusion of Innovations, keberhasilan suatu inovasi tidak bergantung pada munculnya teknologi saja, tetapi harus dibarengi dengan kemampuan masyarakat dalam memahami, menerima dan menggunakannya secara tepat. Pada kondisi ini, literasi media adalah faktor penentu apakah transformasi digital akan menghasilkan masyarakat berdaya atau sebaliknya, justru rentan terhadap disinformasi.

Di era kecerdasan buatan, literasi bukan lagi sekadar pilihan, melainkan kebutuhan. Karena kecanggihan teknologi tidak akan berdampak jika tidak dibarengi dengan kecerdasan manusia dalam menggunakannya.

Bermedia dengan cerdas bukan hanya tentang kemampuan mengakses informasi, tetapi tentang keberanian untuk memeriksa kebenaran, menolak menyebarkan disinformasi dan menjadikan ruang digital sebagai tempat yang sehat, inklusif, dan berdampak bagi kehidupan bersama.