Komunikasi Versi Upgrade: Teknologi Mengubah Cara Manusia Bicara dan Mendengar

Dosen Ilmu Komunikasi Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta
ยทwaktu baca 5 menit
Tulisan dari Mirza Azkia Muhammad Adiba tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dalam catatan perjalanan sejarah, manusia pasti melakukan komunikasi hanyar sekedar untuk bertukar pikiran, membangun relasi dan menyampaikan pesan. Dari hal kecil seperti bahasa isyarat, tulisan di dinding gua hingga massa surat menyurat, komunikasi menjadi landasan dari kebudayaan dan peradaban. Situasi ini mulai berubah seiring dengan adanya digital muncul di tengah kehidupan manusia modern. Saat ini, komunikasi tidak lagi dibatasi dengan ruang dan waktu, semuanya berubah dengan cara instan, cepat dan menembus batas geografis.
Transformasi ini tidak sekedar berganti medianya saja, tidak sebatas peralihan dari kertas ke layar atau sekedar dari suara ke teks. Perubahan yang terjadi pada teknologi digital juga mengubah pola pikir dan kebiasaan manusia dalam berkomunikasi. Sebelumnya, informasi mengalir satu arah dari media ke publik, di era saat ini setiap orang dapat menjadi penyampai pesan. Sosial media, aplikasi chatting dan platform media lainnya memberikan tempat untuk mendengar dan dapat menyuarakan aspirasinya. Tentunya komunikasi yang terjadi lebih cair, cepat dan kompleks.
Adanya fenomena ini sebagai penanda terjadi perubahan besar dalam model komunikasi dari sebelumnya bersifat linier dan terpusat, melalui digital memaksa manusia untuk memahami ulang bagaimana pesan itu dikodekan, dikirimkan dan diterima. Tak sebatas itu saja, kondisi saat ini audiens jauh lebih aktif dan kritis. Mereka tak lagi sekedar sebagai konsumen informasi saja, audiens juga berpartisipasi sebagai produsen dan pengulasnya. Ini merupakan bagian penting bagi kita untuk mempelajari, mengkaji transformasi digital secara lebih mendalam, karena tidak sekedar teknologi saja, tapi terkait bagaimana pengguna dapat terus menyesuaikan diri dalam setiap perubahan yang terjadi begitu cepat.
Dalam dua dekade terakhir perkembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) berkembang dengan pesat tanpa bisa berhenti. Dulu, nenek moyang harus menunggu surat datang dalam kurun waktu berhari-hari, berbeda dengan saat ini dengan satu ketikan saja bisa tersampaikan ke orang yang ditujukan dalam hitungan detik. Teknologi yang berkembang dimulai dari kecepatan akses internet, munculnya telepon pintar hingga munculnya berbagai saluran daring melahirkan sistem komunikasi baru, yang berbeda dari era analog.
Perubahan paling terlihat adalah munculnya berbagai macam media sosial dan aplikasi pengirim pesan instan. Contohnya, Facebook, Instagram, X atau Twitter, WhatsApp dan telegram. Tidak sekedar tempat bercakap saja tetapi juga menjadi tempat untuk diskusi, debat, curhat hingga kampanye politik. Selain itu, komunikasi yang dulu sifatnya formal dan satu arah, misalkan surat kabar atau siaran TV kini sudah telah berubah menjadi interaktif dan personal. Pengguna tidak hanya sebagai penonton, tetapi juga sebagai pembuat konten.
Pola komunikasi di era saat ini juga terjadi secara cepat dan sering kali tiba-tiba. Pengguna bisa mengirim gambar, video, suara dan stiker hanya dengan sentuhan di jari. Tentunya berbanding terbalik dengan kondisi tradisional yang lebih terstruktur dan formal. Digital ini membuat batas antara ruang publik dan private menjadi tidak jelas. Perbincangan yang sifatnya pribadi bisa saja menjadi viral, sementara pernyataan publik bisa dengan cepat dibantah atau disanggah oleh siapapun.
Tentunya transformasi ini memberikan dampak besar yang tidak hanya sekedar teknis saja, tetapi juga ada kaitannya dengan sosial dan budaya. Digital membentuk cara baru berkomunikasi dalam menyampaikan ide, menjalin dan membangun relasi hingga mampu mempengaruhi opini publik. Karena itu, memahami sistem komunikasi digital ini tidak sebatas mengikuti trend saja, tapi bagian penting dari literasi agar tidak tertinggal oleh zaman atau terjebak dengan riuhnya informasi.
Komunikasi tradisional dulu dianggap pujangga kini telah tergoyahkan oleh perkembangan perubahan digital. Komunikasi satu arah seperti yang dilakukan televisi, radio atau surat kabar cetak lambat laun ditinggalkan. Sebelum era digital, informasi mengalir dari produsen pesan ke audiens tanpa ruang untuk melakukan balasan secara langsung. Kondisi ini jelas berbalik di era sekarang, publik tidak hanya ingin mendengar saja tetapi juga ingin didengar, menariknya itu semua bisa terjadi dalam hitungan detik saja.
Adanya perubahan karakteristik media digital membuat komunikasi jauh lebih cair dan responsif, tidak ada lagi jarak antara pengirim pesan dan penerima pesan. Sebagai contoh di media sosial X, tokoh publik bisa langsung oleh warganet. Di Tik Tok bisa membuat bahan berbalas konten. Dapat disimpulkan bahwasanya komunikasi kini sifatnya dua arah dan real time. Setiap pesan dapat langsung direspon, dikritisi atau diviralkan.
Melalui sistem komunikasi digital ini meningkatkan partisipasi di kalangan audiens, tidak sekedar menerima pesan, tetapi juga memproduksi ulang, memodifikasi dan menyebarkannya kembali. Komunikator tidak lagi memegang kendali tunggal atas pesan yang disampaikan. Ketika pesan dilemparkan ke ruang digital, ia dapat berkembang ke arah yang tidak sepenuhnya bisa dikembalikan.
Tentunya ini membuat komunikator baik itu media, pemerintah atau lembaga untuk dapat beradaptasi. Mereka harus lebih responsif, terbuka terhadap umpan balik dan siap menghadapi perubahan yang tidak dapat diprediksi. Perlu diketahui, model komunikasi tradisional tidak punah sepenuhnya, tetapi perlu ditinjau ulang agar tetap relevan di tengah perubahan zaman yang begitu cepat.
Derasnya arus digital seperti sekarang ini, komunikasi tidak lagi sekedar menyampaikan pesan saja tetapi juga mengenai bagaimana pesan itu dibentuk, disebarkan dan dapat diterima di lingkungan sosial yang dinamis. Transformasi digital sudah menyentuh segala aspek kehidupan, mulai dari aspek pribadi, interaksi pribadi, budaya populer hingga tata kelola lembaga dan perusahaan. Maka, pemahaman terkait perubahan ini tidak lagi pilihan tetapi sudah bagian dari kebutuhan zaman.
Mempelajari tentang transformasi komunikasi sangat penting karena di dalamnya tersimpan petunjuk mengenai bagaimana masyarakat harus mampu adaptif dengan segala kondisi yang ada. Bagaimana pola pikir dapat terbentuk, bagaimana penyebaran budaya dan bagaimana kekuasaan disusun ulang melalui informasi. Media secara umum dapat mempengaruhi opini publik, mempercepat mobilisasi massa dan mengubah sudut pandang berpolitik.
Pemahaman terhadap perubahan komunikasi sangat relevan di dunia profesional, baik bagi praktisi media, humas, pemasar digital hingga pengajar dituntut untuk tidak hanya mahir dalam menggunakan teknologi tetapi juga dapat memahami logika dibalik cara teknologi membentuk perilaku. Pendidik harus mampu berpikir kritis tentang bagaimana algoritma dan pola komunikasi dapat berdampak pada membangun jejaring sosial dan citra publik.
