Konten dari Pengguna

Sepenggal Kisah Hidup Penjual Tape Keliling

Muhammad Irza Ikhsanudin

Muhammad Irza Ikhsanudin

Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Muhammad Irza Ikhsanudin tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di pagi buta yang gelap dan dingin,seorang perempuan separuh baya menggantungkan hidupnya dengan menjajakan tape keliling. Di saat orang-orang masih terlelap tidur, Saripah (62) harus mempersiapkan dagangannya untuk di jajakan keliling kampung di daerah Batang.

Saripah, wanita kelahiran 62 tahun silam ini, adalah seorang janda di Desa Wonodadi, Kec.Limpung, Kab.Batang, yang sudah di tinggal suaminya 4 tahun yang lalu. Saripah di karuniai dua orang anak yang kini sedang mengadu nasib di perantauan dan seorang cucu yang bernama Ahmad Sholeh (14) yang kini menemaninya tinggal bersama di rumah yang sederhana.

Ibu dua anak ini dengan umur yang sudah tidak muda lagi harus berjuang untuk menghidupi kebutuhan hidupnya dan cucunya sendiri. Menurut “Mak Ipah” sebutan yang sering di gunakan untuk memenggil Saripah. Dengan berjualan tape ini dia mampu untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan kebutuhan sekolah bagi cucunya.

Sebelum ada pandemi CIVID-19 ini, Mak Ipah setiap paginya menjajakan tape singkong berkeliling kampung ke kampung lainya. “Sejak pada awal pandemi kemarin, saya tidak bisa lagi berjualan keliling lagi. Sebab, banyak desa yang ditutup portal dan hanya bisa di masuki warga aslinya,”ujarnya.

Menurut Mak ipah, pandemi bukan halangan baginya untuk mencari nafkah apalagi dia punya cucu yang menjadi tanggung jawabnya. “Ada penurunan penjualan, di hari biasa sih biasanya bisa menghabiskan 20-30 kg singkong setiap harinya. Sedangkan, sekarang paling hanya 10-18 kg singkong mentah,” tutur dia.

Tapi setelah New Normal di berlakukan lagi, membuat Mak ipah mengalami peningkatan penjualan hingga terkadang sampai menerima pesanan punya orang. “Sehabis berjualan kelling, saya di bantu oleh cucu untuk mengolah tape yang akan di jual nanti. Karena mengolah tape menjadi singkong mumbutuhkan waktu yang tidak sebentar, yaitu sampai 2 hari 2 malam,”ujarnya.

Harapan Mak Ipah, usaha tapenya semoga semakin maju dan berkembang agar bisa menunjang ekonomi keluarganya. Serta, ia berharap cucunya dapat melanjutkan pendidikanya agar kelak cucunya mempunyai nasib yang lebih baik.