Ketika Realitas Dapat Dimanipulasi: Mengkaji Postmodernisme di Tengah Krisis Kebenaran Era Digital

Mahasiswa Sastra Indonesia, Universitas Negeri Makassar.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Miskha Maudhia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bayangkan suatu pagi kita membuka media sosial dan menemukan sebuah video yang memperlihatkan seorang tokoh publik menyampaikan pernyataan kontroversial. Video tersebut tampak begitu nyata, suaranya terdengar meyakinkan, dan ekspresi wajahnya terlihat alami.
Namun, setelah ditelusuri, ternyata peristiwa itu tidak pernah terjadi. Video tersebut merupakan hasil manipulasi kecerdasan buatan (AI). Situasi semacam ini memperlihatkan bahwa sesuatu yang terlihat nyata belum tentu benar-benar terjadi. Di tengah perkembangan teknologi digital, batas antara kenyataan dan rekayasa semakin sulit dikenali.
Manusia tidak lagi hanya dihadapkan pada persoalan mencari informasi, tetapi juga harus mempertanyakan keaslian dari apa yang dilihat, didengar, dan dipercayai. Persoalan ini membawa kita pada pertanyaan yang lebih mendasar: apakah manusia masih dapat membedakan realitas dari sesuatu yang sekadar direpresentasikan sebagai kenyataan? Pertanyaan tersebut semakin relevan ketika teknologi tidak hanya berfungsi menyampaikan informasi, tetapi juga memiliki kemampuan untuk menciptakan gambaran tentang sesuatu yang sebenarnya tidak pernah terjadi.
Dalam konteks inilah, pemikiran postmodernisme menarik untuk dikaji, terutama dalam memahami bagaimana kebenaran, realitas, dan representasi saling berhubungan di tengah kehidupan digital.
Fenomena tersebut dapat dibaca melalui pemikiran Jean Baudrillard tentang simulakra dan hiperrealitas. Baudrillard melihat bahwa dalam masyarakat modern, manusia semakin akrab dengan representasi yang tidak lagi sekadar mencerminkan kenyataan, tetapi justru dapat membentuk kenyataan itu sendiri.
Kondisi ini terlihat dalam kehidupan digital ketika sebuah video hasil rekayasa dapat dipercaya sebagai peristiwa nyata, bahkan sebelum kebenarannya diperiksa. Persoalannya bukan hanya terletak pada kemampuan teknologi menghasilkan gambar atau suara palsu, melainkan pada bagaimana representasi tersebut memperoleh kepercayaan dari masyarakat.
Ketika sebuah simulasi diterima sebagai kenyataan, batas antara sesuatu yang benar-benar terjadi dan sesuatu yang hanya diciptakan menjadi semakin kabur. Di sinilah konsep hiperrealitas Baudrillard menemukan relevansinya dalam membaca kehidupan digital saat ini.
Selain pemikiran Jean Baudrillard, persoalan manipulasi realitas di era digital juga dapat dipahami melalui gagasan Michel Foucault mengenai hubungan antara pengetahuan dan kekuasaan . Foucault menunjukkan bahwa sesuatu yang dianggap benar tidak dapat dilepaskan dari praktik sosial, institusi, dan relasi kekuasaan yang memengaruhi produksi pengetahuan.
Dalam kehidupan digital, hubungan tersebut terlihat melalui peran media, algoritma, dan pihak-pihak yang memiliki kendali atas penyebaran informasi. Informasi yang terus-menerus ditampilkan, dibagikan, dan diperkuat oleh berbagai platform berpotensi membentuk cara masyarakat memahami suatu peristiwa.
Dengan demikian, persoalan kebenaran bukan hanya berkaitan dengan isi informasi, tetapi juga menyangkut siapa yang memproduksinya, siapa yang menyebarkannya, dan kepentingan apa yang berada di baliknya. Sementara itu, Jean-Francois Lyotard melalui kritiknya terhadap metanarasi mengingatkan bahwa masyarakat tidak lagi sepenuhnya menerima satu narasi besar sebagai penjelasan tunggal atas kenyataan.
Pemikiran ini relevan dengan kehidupan digital yang mempertemukan berbagai sudut pandang, kepentingan, dan klaim kebenaran dalam satu ruang informasi. Namun, keberagaman perspektif tersebut juga menghadirkan tantangan ketika setiap pihak merasa memiliki kebenarannya sendiri tanpa mempertimbangkan bukti yang dapat dipertanggungjawabkan.
Jika Baudrillard membantu menjelaskan kaburnya batas antara realitas dan simulasi, Foucault mengungkap kekuasaan di balik produksi kebenaran, sedangkan Lyotard memperlihatkan bagaimana klaim terhadap kebenaran universal mulai dipertanyakan. Ketiga pemikiran tersebut memberikan landasan untuk memahami mengapa masyarakat digital semakin sulit membedakan antara fakta, konstruksi, dan manipulasi informasi.
Salah satu contoh nyata manipulasi realitas di Indonesia dapat dilihat dari beredarnya video hasil rekayasa kecerdasan buatan (AI) yang menampilkan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, Sri Sultan Hamengkubuwono X, pada Juli 2026. Dalam video tersebut, Sultan seolah-olah menyampaikan pernyataan yang mengarahkan masyarakat untuk melakukan pembayaran suatu barang sebelum barang tersebut dikirim.
Video itu beredar melalui media sosial dan kemudian diklarifikasi oleh Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta sebagai hasil manipulasi AI atau deepfake. Pihak pemerintah menjelaskan bahwa Sultan tidak pernah menyampaikan pernyataan sebagaimana yang ditampilkan dalam video tersebut. Kasus ini diduga berkaitan dengan modus penipuan yang memanfaatkan identitas tokoh publik untuk meyakinkan calon korban.
Peristiwa tersebut memperlihatkan bahwa teknologi digital tidak hanya dapat digunakan untuk menyampaikan kenyataan, tetapi juga menciptakan gambaran palsu yang menyerupai kenyataan. Ketika wajah, suara, dan pernyataan seorang tokoh dapat direkayasa sedemikian rupa, masyarakat berhadapan dengan persoalan yang lebih rumit daripada sekadar membedakan informasi benar dan salah.
Persoalannya adalah bagaimana sesuatu yang tidak pernah terjadi dapat ditampilkan seolah-olah benar-benar terjadi dan bahkan dipercaya oleh orang lain.
Pada akhirnya, tantangan terbesar manusia di era digital bukan hanya menghadapi teknologi yang semakin mampu menciptakan kebohongan, melainkan menjaga kemampuan untuk mengenali kenyataan di tengah berbagai representasi yang tampak meyakinkan. Ketika wajah dapat dipalsukan, suara dapat ditiru, dan peristiwa yang tidak pernah terjadi dapat disajikan seolah-olah nyata, kepercayaan tidak lagi cukup dibangun berdasarkan apa yang terlihat.
Kita perlu menyadari bahwa menjadi kritis bukan berarti meragukan segala sesuatu, melainkan berani memeriksa informasi sebelum mempercayai dan menyebarkannya. Sebab, ketika manusia berhenti mempertanyakan apa yang dilihatnya, kebohongan tidak lagi membutuhkan pembenaran untuk diterima sebagai kebenaran.
Mungkin, di tengah dunia yang semakin pandai menciptakan realitas buatan, hal paling manusiawi yang perlu kita pertahankan adalah keberanian untuk mencari kebenaran, sekalipun kenyataan tidak selalu sesuai dengan apa yang ingin kita percayai.
