Menjadi Orang Tua Resilien di Tengah Tantangan Kehidupan

Staf Pengajar Fakultas Psikologi Universitas Indonesia
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Mita Aswanti Tjakrawiralaksana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Menjadi orang tua adalah salah satu peran paling penting sekaligus menantang dalam kehidupan. Orang tua memiliki tanggung jawab besar menjalankan peran pengasuhan yaitu mencintai, membimbing, melindungi, dan memenuhi kebutuhan anak.
Tugas atau peran ini memerlukan kesiapan diri dan menuntut energi emosional, fisik, dan mental yang tidak sedikit. Apalagi orang tua juga perlu menyeimbangkan banyak peran sekaligus misalnya sebagai suami, istri, karyawan, rekan kerja, atasan, dan lain sebagainya. Hal ini akan membawa banyak tantangan dan tekanan yang dapat menimbulkan stress.
Untuk menjalankan peran sebagai orang tua dengan baik dan menghadapi beragam tantangan dalam hidup, maka resiliensi atau daya lenting menjadi bekal yang penting. Orang tua yang memiliki kemampuan resiliensi adalah mereka yang mampu bertahan, bangkit, dan tumbuh dari kesulitan. Hal ini juga menjadi penting, karena dengan memiliki daya resiliensi maka orang tua pun dapat menanamkan hal yang serupa untuk anak-anaknya.
Berikut adalah beberapa tips yang dapat dilakukan para ayah dan ibu untuk menjadi orang tua yang resilien
Rawat dan jaga diri sendiri agar dapat merawat dan menjaga orang lain. Salah satu langkah awal untuk menjadi orang tua yang resilien adalah dengan menjaga diri sendiri. Merawat diri sendiri adalah bentuk tanggung jawab agar bisa tetap kuat dalam merawat orang lain.
Ketika kita kelelahan secara emosional, mental, atau fisik, maka kapasitas kita untuk mendampingi anak dengan penuh kesabaran dan kasih sayang akan menurun. Karena itu, penting bagi para ibu dan ayah untuk meluangkan waktu setiap hari untuk melakukan sesuatu yang menyenangkan atau menenangkan diri.
Ada baiknya untuk menemukan satu hal kecil yang dapat dilakukan setiap hari untuk merawat diri sendiri seperti berolahraga, membaca buku, jalan kaki santai, merawat tanaman atau hewan peliharaan, menikmati secangkir teh atau kopi dengan tenang, atau sekadar bernapas dalam-dalam selama lima menit. Hal-hal kecil sederhana dapat membantu untuk merasa lebih tenang dan menumbuhkan perasaan yang nyaman.
Bangun harapan dan percaya bahwa semua hal dapat dilalui. Dalam masa-masa sulit, menjaga harapan adalah kunci penting untuk bertahan. Pepatah “Badai pasti berlalu” mengingatkan kita bahwa kesulitan hanya bersifat sementara. Memiliki harapan akan masa depan yang lebih baik memberi kita energi untuk melanjutkan langkah, bahkan ketika hari terasa berat.
Harapan bukan sekadar angan-angan, tetapi kekuatan psikologis yang memberi motivasi untuk bertindak dan membangun hari esok yang lebih baik, baik untuk diri sendiri maupun anak-anak.
Cari dan nikmati momen bahagia, sekecil apa pun itu. Resiliensi juga dibangun dari hal-hal positif, walaupun kecil. Kita sebagai orang tua perlu mencari dan menemukan hal-hal positif dalam keseharian kita. Hal positif ini seringkali adalah hal yang tampak sederhana namun sebenarnya membawa perasaan hangat, kebahagiaan, dan menjadi sumber kekuatan emosional bagi diri.
Misalnya saat menikmati waktu berkumpul dan berbincang di teras rumah, minum teh atau kopi di sore hari, bercanda dengan pasangan dan anak, pelukan hangat di sela-sela kesibukan, senyuman anak, lantai rumah yang bersih, atau hari cerah setelah hujan. Hal-hal ini dapat menjadi sumber energi positif dan menjadi penguat bagi diri.
Jaga hubungan sosial yang positif. Menjadi resilien bukan berarti menjalani segalanya sendirian. Salah satu hal penting dalam membangun resiliensi adalah kita perlu memiliki keterhubungan sosial. Memiliki hubungan yang positif dengan keluarga, teman, atau tetangga dapat memberi dukungan emosional dan rasa aman yang membantu para orang tua merasa tidak sendirian dalam menghadapi tantangan.
Memiliki seseorang yang bisa diajak berbagi cerita, meminta saran, atau sekadar mengeluh sejenak dapat memperkuat daya tahan emosional para ayah dan ibu.
Jangan ragu untuk meminta bantuan. Selain dukungan emosional, orang tua juga perlu memastikan adanya dukungan konkret atau nyata ketika dibutuhkan. Jangan ragu untuk mencari bantuan dari berbagai pihak dalam bentuk informasi, saran dari ahli (dokter, psikolog, atau profesi lainnya), bantuan pengasuhan, atau bentuk bantuan lainnya.
Mengakui bahwa kita membutuhkan bantuan bukanlah tanda kelemahan, melainkan cerminan dari kesadaran diri dan keberanian untuk memperbaiki keadaan.
Pahami anak sesuai usia dan tahap perkembangannya. Menjadi orang tua yang resilien juga berarti memahami kebutuhan dan perkembangan anak. Setiap tahap pertumbuhan memiliki tantangan dan keunikannya sendiri. Jika orang tua memahami apa yang bisa diharapkan dari anak berdasarkan usia dan tahap perkembangan mereka, maka orang tua dapat lebih siap merespons dengan cara yang sesuai dan tidak berekspektasi secara tidak realistis.
Misalnya, mengetahui bahwa tantrum adalah bagian normal dari perkembangan anak usia dua tahun dapat membantu orang tua bersikap lebih sabar dan tenang ketika menghadapinya.
Keseluruhan proses menjadi orang tua yang resilien adalah perjalanan panjang yang menuntut kesadaran, kesabaran, dan komitmen dari para ayah dan ibu. Namun, setiap langkah kecil yang diambil adalah investasi besar bagi masa depan keluarga. Anak-anak yang dibesarkan oleh orang tua yang resilien belajar dari contoh nyata bagaimana menghadapi kehidupan dengan keberanian, empati, dan harapan.
Dengan demikian, membangun resiliensi dalam diri sendiri sebagai orang tua bukan hanya akan memperkuat kesejahteraan keluarga hari ini, tetapi juga akan menjadi warisan berharga yang membentuk anak-anak kita menjadi pribadi yang tangguh dan penuh harapan di masa depan.
