Konten dari Pengguna

Global Production Networks: Standar Ketenagakerjaan di Negara Berkembang

M Iqbal Tawakal Al Akbar

M Iqbal Tawakal Al Akbar

Mahasiswa Magister Ilmu Hubungan Internasional Universitas Gadjah Mada

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari M Iqbal Tawakal Al Akbar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Global Productions Networks (GPN) dan tantangannya terhadap standar tenaga kerja yang ada di negara berkembang.

Ilustrasi pekerja. Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi pekerja. Foto: Shutter Stock

Global Production Networks (GPN) secara sederhana adalah konsep dalam perkembangan perekonomian global yang mengacu pada fungsi, operasi, dan transaksi pada suatu produk atau komoditi dari tahapan paling awal yaitu produksi, sampai produk tersebut didistribusikan dan dikonsumsi.

Skema GPN menciptakan ruang kerangka kerja sama yang bersifat relasional, di dalamnya melibatkan semua aktor dan instrumen yang memiliki peran relevan dalam menunjang aktivitas serta sistem produksi (Coe & Yeung).

GPN sebenarnya menjadi salah satu alat stimulasi perekonomian global khususnya pada dampak yang dihasilkan dalam perdagangan internasional. Peningkatan arus perdagangan yang dipicu oleh GPN nyatanya telah melibatkan banyak sekali aktor, baik itu aktor perusahaan maupun yang sifatnya non perusahan.

Fakta ini menegaskan bahwasanya pertumbuhan perekonomian yang dipicu oleh GPN didasarkan atas aktivitasnya yang mengorganisir begitu banyak aktor yang terlibat khususnya aktor lokal (Global Production Networks, n.d.).

Pelibatan ekonomi lokal yang dilakukan oleh GPN dilakukan dalam beberapa cara seperti pertumbuhan jejaring produksi yang dilakukan perusahan mengarah pada implikasi pengembangan industri baru dan terciptanya lapangan pekerjaan yang baru terutama pada negara-negara yang tergolong sebagai negara berkembang. Atas dasar ini dalam skema GPN tenaga kerja menjadi salah satu titik fokus yang begitu signifikan.

Tenaga kerja didefinisikan begitu kompleks dan mendalam pada kerangka GPN. GPN memberikan indikasi dampak yang signifikan pada pasar tenaga kerja khususnya di negara berkembang.

Hal ini mengindikasikan dalam GPN aktor perusahan yang terkoneksi dalam jejaring internasional cenderung memberikan ruang pekerjaan yang lebih banyak, memikirkan upah yang lebih tinggi, dan lebih memperhatikan pekerja terampil alih-alih perusahaan dengan skala koneksi pasar domestik.

GPN juga memberikan kesempatan untuk terjadinya peningkatan pada kondisi kerja serta upah bagi para pekerja, hal ini didapatkan melalui skema yang lebih terbuka antara perusahan dan juga pekerja.

GPN secara kompleks memberikan beberapa standar terhadap ketenagakerjaan, khususnya pada negara berkembang. Standar ketenagakerjaan dipengaruhi oleh GPN melalui skema penciptaan lapangan kerja.

Hal ini dipengaruhi dengan tingkat partisipasi yang tinggi dalam jejaring produksi global yang tidak jarang juga memicu pertumbuhan usaha kategori menengah dan kecil yang merupakan penyedia lapangan pekerjaan terbesar pada negara berkembang.

Standar ketenagakerjaan yang ada juga mengharuskan beberapa agen dalam ranah tenaga kerja meningkatkan relasi dan hubungannya pada aktor-aktor utama dalam ranah jaringan produksi global, standar yang baik menjadi fokus utamanya. Tindakan konkret yang efektif sangat berpengaruh pada standar tenaga kerja yang maksimal.

Layaknya pisau bermata dua, peningkatan standar tenaga kerja dalam GPN juga menghasilkan tantangan dalam mempromosikan pekerjaan yang layak sesuai dengan standar yang telah tercipta melalui jejaring produksi global yang begitu dinamis ini.

Selanjutnya, terciptanya standar tenaga kerja dalam jejaring GPN mempengaruhi hak-hak bagi para pekerja di negara berkembang:

  • GPN mengharuskan terciptanya nilai hubungan yang lebih intensif antar para pekerja atau perwakilannya melalui agen dengan para pemasok, hal ini didasarkan atas upaya peningkatan dan perlindungan hak-hak yang dimiliki pekerja.

  • Pada faktanya penentuan standar ketenagakerjaan dalam penerapannya masih mendapati tantangan yang besar terutama di negara berkembang yang regulasinya yang cenderung terbatas, kekhawatiran terjadinya kesenjangan antara standar ketenagakerjaan dan implementasinya aktual yang dilakukan menjadi salah satu ketakutan dalam skema pekerjaan GPN di negara berkembang.

  • Tingkat standar ketenagakerjaan bagi pekerja di negara berkembang masih menjadi perdebatan yang rumit tentunya ini akan sangat mempengaruhi hak pekerja, beberapa pendapat yang mengharuskan standarnya sama seperti negara maju dan pendapat lain mengungkapkan bahwa standar yang disamakan takutnya malah akan membebani pekerja.

  • Efektivitas regulasi internasional, hal ini tentunya juga memiliki andil dalam GPN dan standar ketenagakerjaan untuk hak-hak pekerja melalui oragnisir dan advokasi terkait hak-hak pekerja hingga akhirnya maksimal.

Pengaruhnya pada hak-hak ketenagakerjaan ini tentunya menjadi salah satu persoalan yang penting untuk diberikan perhatian khusus. strategi penyesuaian harus dilakukan jika ingin mendapatkan keuntungan dan pengaruh positif dari keseluruhan kondisi ini.

GPN secara keseluruhan memiliki banyak sekali dampak positif bagi perekonomian lokal dan negara berkembang khususnya bagi kondisi tenaga kerja, namun tentunya setiap indikasi positif memiliki dampak negatif.

Maka, negara berkembang dapat menggunakan beberapa strategi yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kondisi tenaga tenaga kerja dalam GPN. strategi-strategi tersebut antara lain sebagai berikut:

1. Memperkuat Posisi UU Ketenagakerjaan

Salah satu strategi yang bisa dilakukan negara berkembang adalah dengan melakukan penguatan pada Undang-Undang Ketenagakerjaan yang mereka miliki, hal ini juga memastikan bahwasanya mereka dapat memenuhi standar ketenagakerjaan internasional.

Penguatan perundang-undangan dapat dilakukan untuk menetapkan upah minimum, pengaturan terkait jam kerja, dan memastikan bahwasanya kondisi kerja yang aman dapat diperhatikan dengan maksimal.

2. Mempertajam Hukum Ketenagakerjaan

Efektivitas hukum ketenagakerjaan juga dapat menjadi strategi salah satu strategi bagi negara berkembang untuk meningkatkan kondisi ketenagakerjaan negara. Nantinya hal ini akan berimplikasi pada peningkatan jumlah pengawasan dalam ketenagakerjaan dan meningkatkan hukuman bagi semua hal yang terindikasi ketidakpatuhan.

3. Memfasilitasi Dialog dan Jajak Pendapat

Perlu disediakan ruang jajak pendapat dan dialog sosial antar masing-masing aktor mulai dari Pekerja, Pengusaha, dan pemerintah untuk berdiskusi bagaimana peningkatan ketenagakerjaan dapat dilakukan untuk menguntungkan semua pihak.

Hal ini juga mengupayakan sebuah forum yang memperlihatkan bagaimana pekerja dapat memiliki ruang diskusi dan negosiasi terkait posisi, hak, kewajiban, dan lain-lain.

4. Melakukan Dorongan untuk Perilaku Bisnis yang Lebih Bertanggung Jawab

Setiap perusahaan dan atau pelaku usaha mengadopsi nilai-nilai kode etik yang sama terutama dalam hal mempromosikan pekerjaan yang layak. Hal lain adalah dengan mendorong aktor untuk melakukan tanggung jawab sosialnya secara berkala dan dapat dilihat semua aktor.

5. Memberi Dukungan pada Peningkatan Ekonomi dan Sosial

Negara harus menjadi aktor yang melakukan dorongan pada semua hal mengenai peningkatan ekonomi, sosial dan dan hak pekerja. Dorongan dan bantuan yang dilakukan oleh negara juga harus dilakukan dengan melakukan pengembangan pemasok lokal, transfer teknologi, dana investasi terutama dalam hal pemberian pelatihan dan pembekalan pendidikan bagi para pekerja (Coe & Yeung).

Strategi ini dilakukan dalam rangka tujuan untuk melakukan peningkatan pada kondisi ketenagakerjaan dalam skema GPN. GPN memiliki banyak sekali manfaat dan dampak positif bagi perekonomian negara terutama dalam hal penciptaan ruang bagi tenaga kerja.

Dampak positif yang dihasilkan tentunya juga memiliki dampak negatif beriringan dengan dampak positif yang hadir, strategi yang dilakukan negara harapannya dapat meningkatkan kondisi dan standar bagi tenaga kerja dalam skema GPN.