Konten dari Pengguna

Hubungan Tanpa Status (HTS): Kenapa Banyak Anak Muda Memilihnya?

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari MITHA LIM JAMSUS tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pada gambar tersebut terlihat dua orang pasangan yang saling membelakangi melambangkan keraguan, ketidakpastian arah, serta ketiadaan komitmen yang jelas terhadap hubungan tanpa status. Sumber gambar yang saya gunakan adalah Pixabay.
zoom-in-whitePerbesar
Pada gambar tersebut terlihat dua orang pasangan yang saling membelakangi melambangkan keraguan, ketidakpastian arah, serta ketiadaan komitmen yang jelas terhadap hubungan tanpa status. Sumber gambar yang saya gunakan adalah Pixabay.

Dikalangan anak muda saat ini hubungan tanpa status atau biasa disebut dengan HTS bukanlah hal yang asing. Hubungan ini menggambarkan dua orang pasangan yang memiliki hubungan dekat layaknya seperti pasangan pada umumnya, tetapi tidak memiliki ikatan atau status yang jelas. HTS menjadi pilihan bagi sebagian orang. Hubungannya sudah seperti pacaran, tetapi tidak ada kata “jadian” di dalamnya.

Menurut saya, kenapa anak muda sekarang lebih memilih untuk menjalin hubungan tanpa status, karena mereka takut terhadap komitmen. Mereka takut untuk melanggar komitmen dan masih belum siap untuk terikat dalam hubungan. Banyak orang memiliki ekspektasi tinggi terhadap pacaran karena memiliki tanggung jawab yang lebih besar. Sementara itu HTS memiliki kebebasan, karena mereka tidak terikat dalam aturan atau tuntutan tertentu.

Hal ini sejalan dengan pandangan psikologi melalui Triangular Theory of Love oleh Robert Sternberg, di mana hubungan cinta idealnya memiliki tiga komponen: keintiman (intimacy), hasrat (passion), dan komitmen (commitment). Dalam fenomena HTS, individu memilih untuk menikmati keintiman emosional dan hasrat tanpa ingin memikul risiko komitmen.

Selain itu, pengalaman buruk terhadap hubungan sebelumnya juga menjadi faktor kenapa banyak orang memilih hubungan tanpa status. Beberapa anak muda sering mengalami kekecewaan, selingkuh, di ghosting dan putus cinta yang menyakitkan. Akibatnya mereka lebih hati-hati dalam menjalin hubungan baru. Dari sudut pandang psikologi relasi, kondisi ini sering kali memicu attachment anxiety (kecemasan dalam keterikatan), sehingga HTS dijadikan sebagai mekanisme pertahanan diri (defense mechanism) agar tidak kembali tersakiti.

Hubungan tanpa status menjadi Langkah yang paling tepat untuk dekat dengan seseorang tetapi tidak memiliki ekspektasi yang besar. Di sisi lain, hubungan tanpa status juga memiliki kelemahan. Karena tidak ada kejelasan mengenai posisi masing-masing, kesalahpahaman lebih mudah terjadi. Salah satu pihak mungkin menganggap hubungan tersebut serius, sementara pihak lainnya menganggapnya hanya sebatas kedekatan biasa. Kondisi ini dapat menimbulkan rasa kecewa, cemburu, bahkan konflik yang lebih rumit dibandingkan hubungan yang memiliki komitmen yang jelas. Riset akademis mengenai situationship juga mengonfirmasi bahwa ketidakpastian arah hubungan (ambiguity) yang berlangsung lama berpotensi memicu kecemasan, kebingungan emosional, hingga penurunan rasa percaya diri (self-esteem).

Menurut saya, tidak ada yang salah dengan pilihan seseorang untuk menjalani hubungan tanpa status maupun berpacaran. Namun, yang paling penting adalah adanya komunikasi yang jujur dan keterbukaan mengenai tujuan hubungan tersebut. Kejelasan menjadi hal yang penting agar tidak ada pihak yang merasa dirugikan atau memiliki harapan yang berbeda.

Mungkin anak muda bukan tidak percaya pada cinta, mereka hanya lebih berhati-hati dalam memilih siapa yang akan diberi sebuah status. Bagi mereka, hubungan tidak selalu harus memiliki label untuk bisa terasa berarti. Namun, apa pun bentuk hubungannya, kejujuran tetap menjadi hal yang paling penting. Sebab, tidak ada yang lebih melelahkan daripada hubungan yang dekat tetapi tidak pernah jelas arahnya. Jadi, kalau memang belum siap untuk berkomitmen, setidaknya jangan memberikan harapan yang membuat orang lain menunggu kepastian.