Bukan Sembarang Tempe: Tempe Wedok, Produk Nabati Kebanggaan Desa Labruk Kidul

Tim Mahasiswa Membangun Desa (MMD) Universitas Brawijaya Kelompok 67 2025 adalah sebuah tim yang bergerak atas misi memberdayakan Desa Labruk Kidul.
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari MMD-UB 2025 Kelompok 67 tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tempe adalah sumber protein nabati khas Indonesia yang telah ditemukan jejak sejarahnya semenjak abad ke-16. Produk nabati ini telah menemani jalan hidup masyarakat Indonesia dan merupakan sumber protein terjangkau yang diminati semua kalangan. Olahan tempe sendiri bermacam-macam, mulai dari tempe mendoan, orek tempe, keripik tempe, dan beragam kuliner yang tiada habisnya disebutkan semua. Dengan semakin terintegrasinya Indonesia dengan dunia global, membuat tempe tidak sebatas diolah dengan cita rasa lokal. Resep dari mancanegara seperti burger, salad, bahkan coklat menjadi beberapa cara untuk mengolah sumber protein ini.
Umumnya tempe diolah dengan daun pisang sebagai pembungkus dari proses fermentasi yang terjadi, namun di Desa Labruk Kidul, Kecamatan Sumbersuko, Kabupaten Lumajang pangan tersebut diolah dengan cara yang unik. Pada desa tersebut, pembungkus proses fermentasi yang biasanya menggunakan daun pisang digantikan dengan pelepah pisang klutuk (pisang batu).
Produk yang dihasilkan bernama “tempe wedok” dan asal muasal nama tersebut berasal dari tampilan yang layaknya seperti perempuan cantik tidak seperti tempe pada umumnya (lanang). Tempe wedok sendiri dijual dalam bungkus daun pisang yang dianyam oleh pengrajin pangan tersebut yaitu Bu Lulu Ilmunawaroh dengan harga terjangkau dengan kisaran harga Rp. 7.000,00 untuk 5 buah tempe kecil. Dengan ukurannya yang lebih kecil dari tempe pada umumnya membuat olahan nabati tersebut cocok untuk dijadikan gorengan tempe baik dalam bentuk mendoan maupun krispi.
Terdapat beberapa keunggulan tempe tersebut dibandingkan dengan tempe lanang. Dengan bungkus pelepah pisang klutuk membuat proses fermentasi tempe bisa dilakukan dalam perjalanan. Ini membuat tempe tersebut memiliki daya hidup lebih lama dibandingkan tempe lanang. Selain itu dengan proses fermentasi yang terjadi dalam pelepah pisang klutuk, membuat rasa tempe tersebut lebih manis dan gurih.
Selain berperan dalam memenuhi asupan protein Desa Labruk Kidul, tempe wedok telah menjadi daya tarik yang tidak bisa didapatkan di desa lainnya di Kabupaten Lumajang. Saat bazar dan pameran kebudayaan berlangsung produk nabati ini digemari oleh orang-orang luar Kabupaten Lumajang. Bahkan tempe ini kerap dijadikan buah tangan oleh orang-orang yang berasal dari Yogyakarta dan DKI Jakarta.
MMD UB 2025 Kelompok 67 Desa Labruk Kidul
