Konten dari Pengguna

Golden Ratio, Tuhan, dan Pencarian yang Tak Selesai

Moch Aldy MA

Moch Aldy MA

di antara besi, gambar, & puisi.

·waktu baca 10 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Moch Aldy MA tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Image by Gerd Altmann from Pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Image by Gerd Altmann from Pixabay

Saya tidak tahu kapan tepatnya manusia mulai curiga bahwa dunia mempunyai semacam pola. Barangkali ketika seseorang menatap bulan berpindah dari satu sisi langit ke sisi lainnya. Boleh jadi ketika manusia pertama kali memerhatikan pergantian musim, pasang-surut air laut, atau bentuk beberapa cangkang siput yang tumbuh melingkar. Atau jangan-jangan ketika seorang pemikir berat dengan banyak waktu luang mulai menaruh cukup prasangka bahwa ada pola dalam kompleksitas dunia ini; bahwa setiap gerak benda-benda kosmik tidak sepenuhnya acak.

Yang pasti, sepanjang sejarah, manusia tidak pernah berhenti mencari jawaban. Maka kita mengukur bebintang, menghitung gerak planet, membagi ruang ke dalam bentuk-bentuk geometris, mencari pola dalam tubuh, tumbuhan, suara, bahkan dalam gerak partikel yang tidak bisa diindra mata. Kita memberi nama kepada keteraturan itu: hukum alam, geometri, bilangan, konstanta, probabilitas.

Tetapi di suatu titik, pencarian terhadap keteraturan selalu berhadapan dengan pertanyaan yang lebih purba ketimbang ilmu pengetahuan itu sendiri: mengapa keteraturan itu ada?

Di antara proses pencarian itu, nyaris tidak sengaja, saya menemukan golden ratio. Sebuah angka. Kurang lebih 1,618. Golden ratio tidak memiliki kesadaran, kehendak, atau perasaan. Ia tidak sedang berusaha mengatakan sesuatu kepada manusia. Tetapi anehnya, atau ajaibnya, angka ini berkali-kali membikin beberapa manusia merasa sedang berhadapan dengan sesuatu yang lebih besar dan agung ketimbang sekadar angka.

Golden ratio muncul dari hubungan proporsi tertentu. Ia berkelindan dengan deret Fibonacci, dan sering dibicarakan dalam hubungan dengan bentuk-bentuk yang ditemukan di alam. Ia kemudian memasuki wilayah estetika, arsitektur, seni, bahkan cara manusia membicarakan keindahan.

Yang menarik bagi saya bukan semata-mata di mana golden ratio dapat ditemukan. Yang lebih menarik adalah mengapa manusia begitu tertarik menemukannya.

Barangkali sebab manusia memiliki kecenderungan yang, hampir tak tertahankan, untuk membaca dunia sebagai tanda. Kita melihat pola, kemudian bertanya siapa yang mengarsiteki pola itu. Kita memirsa keteraturan, kemudian mencari hukum di belakangnya. Kita mengamati hukum, kemudian bertanya mengapa hukum itu berlaku. Dan ketika pertanyaan “mengapa” tidak lagi dapat dijawab hanya dengan pengamatan, manusia mulai memasuki wilayah filsafat dan metafisika.

Ada sebuah istilah dalam psikologi dan psikiatri yang menarik untuk diletakkan di antara manusia dan pola: apophenia. Istilah apophenia (bahasa Jerman: Apophänie) dipopulerkan Klaus Conrad (1905–1961), seorang psikiater dan neurolog Jerman, pada 1958. Ia menggunakannya dalam bukunya Die beginnende Schizophrenie: Versuch einer Gestaltanalyse des Wahns. Ia merujuk pada kecenderungan pikiran untuk melihat hubungan, pola, atau makna di antara hal-hal yang sebenarnya belum tentu memiliki hubungan bermakna. Kita melihat wajah pada permukaan bulan, bentuk-bentuk tertentu pada awan, atau menghubungkan peristiwa yang kebetulan berdekatan seolah-olah keduanya sedang berbicara satu sama lain.

Dalam kadar tertentu, kemampuan semacam ini justru merupakan bagian dari cara manusia memahami dunia. Tanpa kemampuan mengenali pola, barangkali kita tidak akan memiliki ilmu pengetahuan seperti yang kita kenal sekarang. Tetapi kemampuan yang sama juga dapat membawa kita terlalu jauh: membuat kita menemukan pola bahkan ketika pola itu sebenarnya tidak ada.

Dalam bahasa sehari-hari, ada istilah yang terasa lebih dekat: cocoklogi. Yaitu kebiasaan mencocok-cocokkan hal-hal yang sebenarnya tidak memiliki hubungan kuat, lalu memperlakukannya seolah-olah saling menjelaskan. Kita melihat angka tertentu muncul berulang kali, menemukan kemiripan bentuk, lalu menyusun hubungan di antara keduanya. Setelah itu, hubungan tersebut perlahan berubah menjadi kesimpulan. Masalahnya bukan pada keinginan untuk mencari hubungan. Masalahnya muncul ketika keinginan itu membuat kita lupa membedakan antara pola yang benar-benar ditemukan dan pola yang kita paksa agar ada.

Di titik ini, pencarian manusia terhadap Tuhan menjadi semakin rumit. Sebab ketika kita menemukan keteraturan di alam, kita tidak hanya berhadapan dengan kemungkinan bahwa alam memang memiliki struktur yang mendalam. Kita juga harus berhadapan dengan kemungkinan bahwa pikiran kitalah yang sangat terlatih untuk menemukan struktur. Mungkin sebagian pola adalah sesuatu yang kita temukan; mungkin sebagian lainnya adalah sesuatu yang kita ciptakan ketika mencoba memahami apa yang kita lihat. Dan mungkin, dalam banyak kasus, kita tidak pernah benar-benar tahu di mana batas antara keduanya.

Di sinilah angka yang tampaknya sederhana dapat membawa kita kepada pertanyaan yang tidak kalah purba: apakah keteraturan alam memiliki sumber di luar alam itu sendiri?

Kecurigaan semacam itu kemudian menemukan bentuk yang lebih sistematis ketika manusia mulai menyadari bahwa banyak keteraturan di alam dapat diterjemahkan ke dalam hubungan-hubungan matematis. Bilangan tidak lagi sekadar digunakan untuk menghitung benda, melainkan mulai dicurigai sebagai bahasa yang mungkin mendasari susunan dunia. Dari sinilah kita dapat menengok jauh ke belakang, kepada Pythagoras.

Sejak zaman Pythagoras, matematika tidak selalu diperlakukan sebagai sekadar alat untuk menghitung. Bilangan pernah dipandang sebagai sesuatu yang memiliki kedalaman ontologis. Dunia tidak hanya memiliki bentuk; dunia seolah-olah dapat dipahami melalui bentuk dan bilangan.

Plato bahkan membayangkan realitas yang dapat ditangkap indra sebagai sesuatu yang tidak sepenuhnya mandiri. Di balik dunia yang berubah terdapat bentuk-bentuk yang lebih tetap, lebih ideal, lebih dekat dengan kebenaran.

Kemudian datang para astronom dan matematikawan yang mencoba membaca langit melalui angka. Kepler menemukan harmoni dalam gerak planet. Newton merumuskan hukum yang dapat menjelaskan gerak benda-benda di bumi sekaligus benda-benda langit. Semesta yang semula tampak seperti kekacauan mahabesar perlahan berubah menjadi sesuatu yang nampak dapat dibaca. Dan mungkin di sinilah salah satu pengalaman intelektual paling menggetarkan manusia terjadi: alam ternyata memiliki bahasa yang dapat dimengerti oleh pikiran manusia.

Galaksi tidak berbicara. Nebula tidak menjelaskan dirinya sendiri. Planet tidak mengajarkan hukum gravitasinya. Tetapi manusia datang dengan simbol-simbol abstrak, menyusun persamaan, lalu menemukan bahwa persamaan itu bekerja.

Ini menimbulkan pertanyaan yang jauh lebih dalam ketimbang sekadar “bagaimana alam bekerja?”.

Misal, mengapa alam dapat dipahami? Mengapa realitas tidak sepenuhnya absurd? Mengapa matematika yang merupakan konstruksi abstrak dalam pikiran manusia dapat begitu efektif untuk menjelaskan dunia fisik?

Dalam pergulatan ini, ide-ide ketuhanan mulai muncul ke permukaan pikiran. Bukan sebagai jawaban yang sederhana, tetapi sebagai kemungkinan filosofis. Namun kemungkinan bukanlah kesimpulan, dan rasa takjub bukanlah bukti. Justru di titik ketika keteraturan alam mulai terasa seperti petunjuk menuju sesuatu yang lebih besar, kehati-hatian menjadi semakin penting. Sebab ada perbedaan antara menemukan sesuatu yang mengundang kita untuk bertanya tentang Tuhan dan menemukan sesuatu yang dapat membuktikan Tuhan.

Sebab itu, saya tetap berhati-hati. Saya tidak ingin gegabah mengatakan bahwa golden ratio membuktikan Tuhan.

Argumen semacam itu mungkin terdengar indah dan puitik, tetapi secara intelektual justru berbahaya. Sebab, tidak semua bentuk spiral adalah golden spiral. Tidak semua proporsi di alam mengikuti angka 1,618. Dan menemukan sebuah pola tidak otomatis berarti kita telah menemukan siapa yang membikin pola tersebut.

Secara struktur logika, terdapat lompatan besar dari “ada-keteraturan” menuju “ada-yang-mengatur”. Dan lompatan itu tidak dapat diselesaikan hanya dengan matematika. Sebab matematika dapat memberi tahu kita bagaimana pola bekerja, tetapi belum tentu dapat memberi tahu kita mengapa realitas memiliki pola tersebut. Pernyataan kedualah yang membawa kita ke tempat yang berbeda. Di sanalah filsafat bermula.

Tetapi mungkin persoalannya bukan semata-mata tentang ke mana matematika bisa membawa kita. Yang lebih mendasar adalah dorongan manusia untuk tidak berhenti pada apa yang telah berhasil dijelaskannya. Setiap kali kita berhasil menjawab bagaimana sesuatu bekerja, kita segera terdorong untuk bertanya mengapa ia ada dan mengapa ia bekerja dengan cara demikian.

Barangkali dari kegelisahan semacam itulah pencarian manusia terhadap Tuhan sebenarnya bermula. Barangkali pencarian manusia terhadap Tuhan sebenarnya tidak pernah benar-benar dimulai dari Tuhan. Ia dimulai dari ketidakpuasan terhadap dunia yang tampak begitu saja. Manusia melihat pohon dan tidak puas hanya dengan mengatakan bahwa pohon itu ada. Ia ingin tahu bagaimana pohon tumbuh. Kemudian ia ingin tahu bagaimana sel bekerja. Kemudian bagaimana DNA menyimpan informasi. Kemudian bagaimana kehidupan pertama muncul. Kemudian bagaimana hukum-hukum fisika memungkinkan semuanya terjadi.

Dan setiap jawaban justru melahirkan pertanyaan baru.

Ada sesuatu yang ironis dalam sejarah pengetahuan manusia: semakin banyak yang kita ketahui, semakin panjang pula daftar hal yang belum kita ketahui.

Dahulu kala manusia mencari Tuhan di balik petir. Kemudian kita memahami listrik. Kita mencari Tuhan di balik gerak benda-benda langit. Kita menemukan gravitasi. Kita mencari Tuhan dalam penciptaan kehidupan. Kita menemukan evolusi, genetika, dan biologi molekuler. Tetapi setiap penjelasan ilmiah tidak selalu membunuh pertanyaan metafisik. Ia hanya memindahkannya satu tingkat lebih jauh.

Jika alam dapat dijelaskan oleh hukum-hukum fisika, dari mana hukum itu berasal? Jika kehidupan dapat dijelaskan melalui mekanisme alamiah, mengapa ada alam yang memungkinkan kehidupan? Jika matematika mampu menggambarkan struktur semesta, mengapa semesta memiliki struktur yang dapat dirumuskan secara matematis? Dan jika semua itu pada akhirnya dapat dijelaskan oleh sesuatu yang lebih fundamental, pertanyaan itu mungkin hanya akan bergerak sekali lagi: mengapa sesuatu itu ada?

Barangkali inilah yang dimaksud dengan pencarian panjang. Bukan perjalanan menuju sebuah jawaban yang semakin dekat, melainkan perjalanan yang setiap jawabannya membuka pintu menuju pertanyaan yang lebih dalam.

Namun semakin jauh kita mengikuti jejak pertanyaan itu, barangkali yang perlahan tampak bukan hanya misteri tentang alam semesta, melainkan juga misteri tentang diri kita sendiri. Mengapa kita begitu gelisah ketika berhadapan dengan sesuatu yang tidak kita pahami? Mengapa kita merasa perlu menemukan pola, menghubungkan titik-titik, dan memberi makna bahkan kepada sesuatu yang mungkin tidak pernah dimaksudkan untuk bermakna?

Saya sering berpikir bahwa golden ratio menarik bukan hanya karena ia menyimpan kode rahasia tentang Tuhan. Tetapi juga ia memperlihatkan sesuatu tentang manusia. Kita adalah makhluk yang tidak tahan terhadap kebetulan. Kita mencari wajah pada awan. Kita menghubungkan titik-titik yang sebenarnya mungkin tidak pernah dimaksudkan untuk saling berhubungan. Kita menciptakan mitologi dari benda-benda langit, memberi nama kepada rasi bintang, menyusun kalender berdasarkan gerak benda-benda yang jauh dari kita.

Kita melakukan itu karena mungkin kita tidak hanya ingin hidup di dalam alam semesta. Kita ingin memahami tempat kita di dalamnya. Dan Tuhan, dalam pengertian tertentu, adalah nama paling tua yang pernah diberikan manusia kepada pertanyaan tentang hal-hal tersebut.

Mungkin sebab itu pencarian terhadap Tuhan tidak pernah hanya berupa pencarian terhadap suatu sosok yang berada “di luar sana”. Ia juga merupakan pencarian terhadap alasan mengapa kita berada di sini. Itulah mengapa matematika dapat membawa seseorang kepada pengalaman religius, sementara orang lain justru menemukan keraguan melalui matematika yang sama.

Satu orang melihat keteraturan lalu berkata, “Tuhan”. Orang lain melihat keteraturan lalu berkata, “Hukum alam”. Yang ketiga mungkin hanya berkata, “Saya belum tahu”. Dan mungkin ketiganya sedang berdiri di hadapan misteri yang sama.

Ada sesuatu yang membuat saya tertarik pada angka 1,618. Bukan karena saya yakin angka itu adalah sidik jari Tuhan. Justru sebaliknya. Saya tertarik karena sebuah angka yang begitu sederhana dapat membuat manusia memikirkan sesuatu yang begitu besar.

Dari sebuah rasio, kita dapat berbicara tentang keindahan. Dari keindahan, kita berbicara tentang keteraturan. Dari keteraturan, kita bertanya tentang hukum. Dari hukum, kita bertanya tentang asal-usul.

Dan dari asal-usul, cepat atau lambat, kita kembali berhadapan dengan pertanyaan yang sama: Mengapa ada sesuatu, bukannya tidak ada apa-apa?

Tidak ada golden ratio yang mampu menjawab pertanyaan itu.

Tidak ada persamaan yang dapat memaksa Tuhan untuk hadir sebagai kesimpulan matematis. Barangkali memang bukan itu tugas matematika. Mungkin matematika hanya membawa kita sampai ke tepi sebuah jurang. Setelah itu, kita harus memilih apakah akan menyebut apa yang berada di seberangnya sebagai Tuhan, hukum alam, kebetulan, misteri, atau sesuatu yang belum memiliki nama.

Tetapi bukankah pencarian manusia memang selalu seperti itu?

Kita menemukan sebuah pola, lalu menyadari bahwa pola itu hanyalah bagian mungil dari pola yang lebih besar. Kita menemukan sebuah jawaban, lalu jawaban itu berubah menjadi pertanyaan. Kita merasa semakin dekat dengan sesuatu, tetapi semakin dekat kita berjalan, semakin jauh cakrawala itu bergeser.

Mungkin Tuhan tidak pernah bersembunyi di balik angka.

Mungkin Tuhan juga tidak sedang menunggu untuk ditemukan di dalam spiral bunga, cangkang siput, galaksi, atau deret Fibonacci. Mungkin yang kita temukan di sana hanyalah sesuatu yang lebih sederhana sekaligus lebih mengganggu: bahwa dunia ternyata cukup teratur untuk membuat kita terus mencari. Dan selama manusia masih mencari, pertanyaan tentang Tuhan belum selesai. Barangkali memang selama itulah Tuhan akan selalu ada dalam psike manusia.

Sebab mungkin yang paling manusiawi dari pencarian terhadap Tuhan bukanlah keberhasilan menemukannya, melainkan keasyikan kita untuk terus bertanya. Keistimewaan yang, sejauh yang kita tahu, belum pernah kita temukan dalam bentuk yang sama pada makhluk lain. Wallahu a'lam bishawab.