Ekonomi Moneter dan Harga Sembako: Kenapa Dompet Kita Ikutan ‘Goyah’?

Mahasiswa FKIP UNPAM - Pendidikan Ekonomi.
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Moch Fachrian Andriansyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Harga sembako di Indonesia seolah tak pernah lepas dari sorotan. Mulai dari beras, cabai, daging, telur, hingga minyak goreng, pergerakan harganya sering menjadi perbincangan masyarakat karena langsung berhubungan dengan kebutuhan sehari-hari. Namun, kenaikan harga sembako tidak hanya dipengaruhi oleh faktor produksi dan distribusi, melainkan juga erat kaitannya dengan kondisi ekonomi moneter.
Peran Ekonomi Moneter dalam Harga Sembako
Ekonomi moneter membahas bagaimana uang, suku bunga, dan kebijakan bank sentral memengaruhi aktivitas ekonomi. Dalam konteks harga sembako, ada beberapa mekanisme yang membuat dompet masyarakat ikut “goyah”:
Inflasi dan Daya Beli: Saat inflasi tinggi, nilai uang menurun. Artinya, dengan jumlah uang yang sama, masyarakat hanya bisa membeli lebih sedikit barang. Kenaikan harga sembako menjadi terasa lebih berat karena kebutuhan pokok tak bisa ditunda.
Kebijakan Suku Bunga: Bank Indonesia (BI) sering menaikkan atau menurunkan suku bunga untuk mengendalikan inflasi. Namun, kebijakan ini punya efek domino. Suku bunga tinggi dapat menekan konsumsi dan investasi, sementara di sisi lain bisa memperkuat nilai rupiah. Ketika rupiah stabil, biaya impor pangan dapat lebih terkendali.
Nilai Tukar Rupiah: Banyak bahan pangan di Indonesia masih bergantung pada impor, baik bahan baku maupun produk jadi. Jika rupiah melemah terhadap dolar, otomatis harga impor naik. Hal ini kemudian mendorong kenaikan harga sembako di pasar domestik.
Peredaran Uang di Masyarakat: Saat pemerintah menggelontorkan stimulus atau bantuan sosial, daya beli masyarakat meningkat. Namun, jika pasokan barang terbatas, lonjakan permintaan justru bisa membuat harga semakin mahal.
Kenapa Dompet Kita Tertekan?
Bagi masyarakat, kenaikan harga sembako terasa langsung karena porsinya cukup besar dalam pengeluaran rumah tangga. Jika harga beras naik Rp1.000 per kilogram saja, keluarga menengah ke bawah sudah harus merombak anggaran harian. Selain itu, efek psikologis juga memengaruhi. Saat orang mendengar harga pangan naik, mereka cenderung membeli lebih banyak untuk stok. Akibatnya, kelangkaan sesaat bisa terjadi dan harga makin melonjak.
Yang artinya kenaikan harga sembako bukan sekadar persoalan pasar, tetapi juga erat kaitannya dengan kondisi ekonomi moneter, seperti inflasi, suku bunga, nilai tukar rupiah, dan peredaran uang di masyarakat. Dampaknya terasa langsung pada dompet karena kebutuhan pokok adalah pengeluaran utama rumah tangga. Oleh karena itu, menjaga stabilitas harga pangan membutuhkan kombinasi kebijakan moneter yang tepat, pengelolaan stok oleh pemerintah, serta kesadaran masyarakat untuk lebih bijak dalam mengatur konsumsi dan keuangan.
