Konten dari Pengguna

K-Pop: Pengaruh Sistem Trainee terhadap Profesionalisme dan Estetika

Moch Rafly

Moch Rafly

Mahasiswa Administrasi Rumah Sakit STIKES Yayasan Rumah Sakit Dr. Soetomo.

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Moch Rafly tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Sekelompok Orang Tampil di Atas Panggung (foto: Unsplash)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Sekelompok Orang Tampil di Atas Panggung (foto: Unsplash)

Bayangkan sebuah dunia di mana ratusan ribu muda-mudi berlomba tidak hanya untuk jadi penyanyi atau penari biasa, melainkan untuk menjadi ikon global yang mendefinisikan wajah dan gaya industri musik masa kini. Inilah dunia trainee K-Pop, sebuah proses pelatihan intensif yang menjadi akar standar profesionalisme dan estetika di panggung musik internasional.

Sistem trainee dalam industri K-Pop merupakan pilar utama yang membentuk para calon idol menjadi artis dengan kemampuan luar biasa dan citra visual yang terstandarisasi. Melalui rangkaian pelatihan yang ketat dan selektif, standar tinggi profesionalisme dan estetika ini tidak hanya menentukan gambaran para idol di Korea Selatan, tetapi juga mendunia, menginspirasi tren dan regulasi baru dalam industri musik global. Tulisan ini bertujuan mengurai bagaimana sistem ini membentuk standar tersebut, sekaligus mengungkap dampaknya bagi industri musik yang kini semakin global dan kompetitif.

Sistem Trainee K-Pop mengenai Intesitas dan Pelatihan Profesional

Sistem trainee K-Pop terkenal dengan durasi pelatihan yang panjang dan intensitas tinggi. Calon idol mengikuti audisi ketat dan kemudian dididik selama bertahun-tahun dalam berbagai aspek, mulai dari vokal, tari, bahasa asing, hingga penampilan dan perilaku di depan publik.

Sebagai contoh ada Lisa (BLACKPINK), Sowon (GFRIEND), dan Nayeon (TWICE) masing-masing menghabiskan sekitar 5 tahun sebagai trainee sebelum berhasil debut. Bahkan Jihyo (TWICE) menghabiskan 10 tahun untuk trainee hingga akhirnya debut.

Hal yang dipastikan akan dipelajari saat menjadi trainee dikatakan oleh Jennie (BLACKPINK) yang mengungkapkan bahwa mereka harus mempelajari berbagai hal, termasuk bahasa Jepang, bahasa Inggris, vokal, tari, modelling sampai akting, dan masih mengerjakan banyak tugas terkait dari setiap kelas.

Proses ini tidak hanya membentuk kemampuan teknis tetapi juga karakter dan kedisiplinan profesional yang mengakar kuat. Pelatihan yang sistematis menjadikan para trainee siap menghadapi standar keras industri hiburan yang sangat kompetitif dan menuntut kesempurnaan tiada henti.

Sisi Lain Sistem Trainee K-Pop yang Tidak Manusiawi

Menjadi idol K-Pop bukan perjalanan yang sederhana. Ada berbagai aturan ketat serta batasan perilaku yang harus dipatuhi, sehingga proses pelatihan sering kali menimbulkan tekanan besar. Kondisi ini membuat banyak trainee merasa tertekan, bahkan stres, hingga akhirnya memilih untuk menyerah sebelum berhasil debut.

Terkait realitas tersebut. Guno, mantan trainee di YG Entertainment yang sekarang menaungi grup besar BIGBANG, 2NE1, WINNER, BLACKPINK, AKMU, TREASURE, dan BABYMONSTER, membagikan pengalamannya melalui wawancara bersama ‘ET Today’ di Taiwan. Pada 14 Februari 2023.

"Ada perbedaan dalam cara Korea dan Jepang melatih idola mereka. Korea terlalu ketat. Seringkali, itu tidak manusiawi. Suatu kali, ingin membeli minuman bersoda di minimarket, jadi saya menyelinap keluar dengan berpura-pura memungut sampah dengan trainee lain. Namun, kami ketahuan keesokan harinya dan dihukum. Saya tidak puas. Begitu merasa puas, saya harus berhenti menjadi artis." ungkap Guno.

Seperti yang dikutip dari Allkpop, Guno yang merupakan orang Taiwan, juga berbicara tentang para penggemarnya.

Standar Estetika Bukan Hanya Sekedar Penampilan

Sistem trainee juga menetapkan standar estetika ketat, di mana penampilan fisik, fashion, dan gaya adalah bagian integral dari identitas seorang idol K-Pop. Ini bukan sekadar tuntutan visual, melainkan pendekatan estetika yang melekat pada branding artis dan desain panggung yang memikat publik global.

Pakar industri menggarisbawahi bahwa standar ini berakar dari budaya kerja keras, inovasi artistik, serta strategi pemasaran yang cermat, sehingga membentuk citra artis yang mampu menembus batas budaya dan bahasa.

Dampak Global terhadap Industri Musik

Dengan sistem trainee yang menjadi standar sukses, model K-Pop menginspirasi berbagai industri musik di dunia untuk mengadopsi metode pelatihan dan manajemen serupa. Hal ini menciptakan standar baru dalam profesionalisme, di mana artis tidak hanya diharapkan punya bakat, tetapi juga kemampuan multidimensional dan estetika yang kuat.

Sistem ini juga menstimulasi globalisasi musik dengan menghadirkan artis yang siap bersaing di pasar internasional, sekaligus membentuk tren global dalam koreografi, produksi musik, dan fashion.

Solusi Kritis dan Pandangan Keseimbangan

Meski efektif dalam menciptakan artis yang siap pakai dan menarik, sistem trainee K-Pop juga tidak lepas dari kritik, terutama terkait beban psikologis dan fisik para trainee.

Oleh karena itu, diperlukan reformasi yang menyeimbangkan intensitas pelatihan dengan perhatian pada kesejahteraan mental dan hak asasi para calon idol. Pendekatan humanis yang mengutamakan pengembangan holistik dapat menjadi solusi agar standar profesionalisme dan estetika bisa diraih tanpa mengorbankan kesehatan dan kebahagiaan artis.

Sistem trainee K-Pop secara dramatis membentuk standar profesionalisme dan estetika yang kini menjadi tolok ukur global dalam industri musik. Standar ini menegaskan bahwa kesuksesan artis tidak hanya soal bakat, tetapi juga disiplin, pelatihan mendalam, dan citra yang terkelola dengan baik.

Dengan inovasi dan upaya berkelanjutan untuk kesejahteraan para trainee, model K-Pop bisa terus menjadi inspirasi bagi industri musik di seluruh dunia, membentuk wajah baru hiburan yang lebih profesional dan estetis.

Mari dukung perkembangan sistem ini dengan humanisasi dan regulasi yang proporsional demi masa depan industri musik global yang lebih sehat dan kreatif.