Konten dari Pengguna

Aksi Relawan Bondowoso dan Wanadri Temukan Jasad Survivor Piramid

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Mochamad Rona Anggie tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tim SAR Bondowoso mendaki ke puncak Piramid usai menemukan ceceran tisu dengan bercak darah, Selasa pagi (4/8/2026). Siangnya pukul 12.41 WIB, kedua survivor ditemukan di dasar jurang dalam keadaan tewas/Dokumentasi SAR Piramid
zoom-in-whitePerbesar
Tim SAR Bondowoso mendaki ke puncak Piramid usai menemukan ceceran tisu dengan bercak darah, Selasa pagi (4/8/2026). Siangnya pukul 12.41 WIB, kedua survivor ditemukan di dasar jurang dalam keadaan tewas/Dokumentasi SAR Piramid

Selasa sore (4/8/2026), kabar penemuan “botol kosong” sampai kepada saya. Pengirimnya Kusnandar Badawi (W 648 BARA). Info masuk ke Kang Badawi langsung dari tim pencari di lapangan.

“Survivor ditemukan, botol kosong!” ketik Fathorrahman Hidayah di grup Sedulur Wanadri. “Dua orang, Mas,” sambung Anang Marsudi.

“Botol Kosong” adalah sandi khas Wanadri untuk mengabarkan survivor ditemukan dalam keadaan meninggal. Keduanya adalah Maliya Finda (51) dan Irfan Nasrul Laili (35). Mereka tak jua pulang setelah mendaki Gunung Piramid (1.521 mdpl) sejak Ahad pagi (2/8/2026).

Fathorrahman yang karib disapa Jangkar didaulat menjadi On Scene Coordinator (OSC) pada misi search and rescue (SAR) mandiri tersebut. Tim SAR berisikan komunitas pencinta alam Bondowoso dan pemandu gunung berpengalaman. Mereka merapat ke kaki Gunung Piramid di Desa Curahdami, Kecamatan Curahdami, Kabupaten Bondowoso, Senin (3/8/2026).

“Sudah isya ketika saya dan teman-teman sampai di rumah warga yang dititipi motor oleh kedua survivor,” terang Jangkar.

Sebagai OSC, Jangkar lantas menugaskan tiga personel SRU 1 bergerak ke Pos 2 untuk bermalam di sana. Jarak tempuhnya sekitar dua jam. Sementara ke puncak Piramid membutuhkan empat jam. Melewati Pos 1, 2, plakat in memoriam Thoriq, “punggung naga”, baru puncak.

“Apa ada unsur pemerintah (Basarnas, TNI/Polri) malam itu?” tanya saya.

“Tidak ada,” jawab Jangkar yang juga penduduk Kecamatan Curahdami.

Menghimpun Informasi Awal

Ahad malam (2/8/2026), keluarga Maliya di Wonokromo, Surabaya, resah. Sang ibu belum pulang ke rumah. Anak perempuannya mengontak kenalan pencinta alam di Bondowoso. Info dari si anak, ibunya dijemput oleh Irfan yang seorang pemandu pendakian Gunung Piramid.

“Pemandunya jemput ke Surabaya pakai motor NMAX,” ujar Jangkar.

Senin pagi (3/8/2026), tim di Bondowoso mendatangi kediaman Irfan. Keluarganya pun cemas, sang kepala keluarga belum pulang. “Di rumah Irfan ada tas milik Bu Maliya. Artinya ada trouble, yang membuat keduanya belum kembali,” tutur Jangkar.

Anggota Wanadri angkatan Hujan Lembah (2022) itu mendapat keterangan tambahan, bahwa Maliya baru saja mengikuti ajang lari lintas alam di Gunung Arjuno-Welirang yang diadakan oleh Malang Trail Run (Mantra) pada 5-6 Juli 2026.

“Secara fisik, Bu Maliya terlatih. Siap mendaki Piramid,” kata Jangkar. Sementara Irfan, diketahui bukan pemandu berlisensi. Pengalamannya sebagai pemandu gunung juga tidak dikenal luas.

Jumpa Pendaki Puskesmas Curahdami

Bocoran berharga diperoleh Jangkar, jika Maliya dan Irfan sempat bertemu 19 orang pendaki dari Puskesmas Curahdami di Pos 2. Kedua survivor meneruskan perjalanan ke puncak, sedangkan tim puskesmas mencukupkan di area in memoriam Thoriq. Masih 1,5 sampai dua jam pendakian untuk ke titik tertinggi Piramid.

“Tim puskesmas melihat dua orang di puncak: Maliya dan Irfan. Setelah itu mereka bergegas turun,” ujar Jangkar yang mengaku sempat kesulitan menggali data dari petugas puskesmas yang naik ke Piramid. “Semua tutup mulut, karena kepala puskesmas mewanti jangan cerita apa pun. Atas pertolongan Allah, ada seorang berkenan berbagi kisah,” tutur lelaki yang aktif sebagai pramuwisata dan guide pendakian gunung itu.

Tisu dengan bercak darah. Diduga survivor sempat luka tergoret batu saat perjalanan ke puncak/Dokumentasi SAR Piramid

Ceceran Tisu Berdarah

Selasa pagi (4/8/2026), tim yang sebelumnya berkemah di Pos 2, bergerak menyisir setapak ke puncak. Mereka menemukan ceceran tisu dengan bercak darah di lintasan “punggung naga” – sekitar 20 menit menjelang puncak. Jurang menganga di kanan dan kiri jalur. Vegetasi rerumputan kering.

“Bisa jadi survivor luka akibat goresan batu. Darahnya masih baru, belum kering sekali,” tutur lelaki di video.

Personel pencari terus mendaki ke atas. Meniti setapak “punggung naga” nan tipis. Ini rute berbahaya sekaligus tantangan yang membuat penasaran para pendaki Piramid.

Sebenarnya pascainsiden yang merenggut nyawa Thoriq Rizki Maulidan tahun 2019, pemerintah setempat sudah membatasi akses ke Gunung Piramid. Hanya pendaki profesional yang diizinkan naik ke puncak. Sayangnya, belum ada pengelola pendakian resmi Gunung Piramid. Tanpa kejelasan pengawasan, semua tetap bisa mendakinya.

“Sebenarnya Perhutani sudah welcome, kalau ada yang minat membuka base camp pendakian Piramid. Biar pengunjung terawasi, tidak mendaki diam-diam yang bisa membahayakan keselamatan,” terang Jangkar.

Kilas balik: Thoriq adalah pelajar SMP yang ditemukan tewas di jurang jalur “punggung naga” Gunung Piramid, 5 Juli 2019. Remaja 15 tahun itu dinyatakan hilang selama 12 hari, usai mencapai puncak Piramid bersama tiga kawannya pada 23 Juni 2019.

Selepas operasi SAR resmi ditutup, tim Wanadri yang dipimpin Eko W Prasetyo melanjutkan pelacakan survivor dan berhasil menemukannya di jurang kedalaman 400 meter.

Lintasan "punggung naga" menjelang puncak Gunung Piramid/Dokumentasi SAR Piramid

Jasad Maliya dan Irfan

Pada hari H penemuan jasad Maliya dan Irfan, Jangkar mengerahkan SRU 2 untuk menyusul SRU 1. Total delapan orang. Perlengkapan tali karmantel, body harness, jumar (ascender), dibawa oleh mereka. Bersiap rapelling, menuruni tebing curam.

Melalui komunikasi radio, Jangkar menganalisis peta dan memerintahkan personel di lapangan untuk peka meneliti sekitar. Jalur “punggung naga” memang rentan menelan korban. Pendaki kawakan Wanadri saja berkomentar, beruntung siapa yang dapat melintasinya. Risikonya nyawa!

Tidak jauh dari puncak, tim pencari mencurigai rebahan rerumputan. Jangkar menanyakan, apakah bisa dituruni untuk memastikan keadaan di bawah? “Bisa!” Mereka kemudian susah-payah menuruninya. Menjaga pijakan agar tidak terperosok, sambil mengamati dasar jurang, sampai akhirnya melihat tubuh manusia tersangkut batang pohon. Posisi tubuhnya miring, tampak mukanya.

Tim mendekatinya, dan ternyata itu Irfan: memakai legging hitam dipadu celana pendek krem serta kaus hitam menyandang hydro bag merah. Allahuakbar! Di bawahnya yang lebih curam dengan rimbun belukar, didapati tubuh perempuan tertelungkup berkaus lengan panjang oranye, bercelana panjang krem: Maliya!

Kaus kaki masih menempel di kaki Irfan dan Maliya, sementara sepatu oranye dan hitam keduanya berceceran. “Botol kosong ditemukan pukul 12.14 WIB, di kedalaman 90 meter,” beber Jangkar yang segera mengabari Basarnas untuk proses evakuasi.

“Tidak bisa langsung digotong dari bawah, karena medan curam. Harus pakai alat vertical rescue,” tambah lelaki 30 tahun itu.

Sepatu milik Maliya dan Irfan tercecer di jurang titik mereka jatuh/Dokumentasi SAR Piramid

Analisis Tim Pencari

Pada hari pendakian ke puncak Piramid, kata Jangkar, Maliya yang seorang pengusaha fashion muslim dan Irfan, secara fisik tidak ada kendala. Kemungkinan besar, keduanya tergelincir saat turun dari puncak.

Warga yang dititipi motor oleh keduanya, sudah menaruh curiga karena sampai malam belum juga datang. “Itu motor mahal, tidak mungkin ditinggalkan begitu saja. Pasti ada sesuatu dengan mereka di jalur pendakian. Dan benar, keduanya jatuh ke jurang,” tutup Jangkar.