Konten dari Pengguna

Menapaki Usia ke-85, Pendiri Wanadri Bangga pada Generasi Penerus

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Mochamad Rona Anggie tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Para pemburu tua, pelatih, dan generasi muda Wanadri menghadiri acara syukuran ultah ke-85 Harrie Hardiman Soebari, Sabtu (25/7/2026)/Dokumentasi Wanadri
zoom-in-whitePerbesar
Para pemburu tua, pelatih, dan generasi muda Wanadri menghadiri acara syukuran ultah ke-85 Harrie Hardiman Soebari, Sabtu (25/7/2026)/Dokumentasi Wanadri

Om Harrie menyambut tamu dengan riang. Padahal dia baru sembuh. Awal Juli lalu, sepekan dirawat di RS Advent Bandung. Kena demam berdarah. “Undangan antusias datang. Hampir seratus orang,” katanya kepada penulis, Sabtu (25/7/2026).

Sang istri, Titiek Sartika (73), setia di dekatnya. Pasangan yang dikaruniai dua anak itu menua bersama. Hingga tiba 17 Juli 2026, sang suami Harrie Hardiman Soebari menapaki usia ke-85. Sementara Agustus besok, Bu Titiek yang akan berulang tahun. Insyaallah.

Om Harrie juga meminta saya, Herry Gunawan (W 366 RL), dan Mustofa (W 1270 ERA) untuk datang. “Dari Cirebon saya undang tiga orang,” ucapnya. Hanya saja kami berhalangan. Termasuk yang absen mantan Dankormar dan Kabasarnas Letjen (Purn. Mar.) Muhammad Alfan Baharudin. “Kang Alfan tadinya mau hadir,” sahut Om Harrie.

Tokoh lainnya, Erry Riyana Hardjapamekas dan Wali Kota Bandung Muhammad Farhan, mengirim bunga ucapan selamat. Kang Alfan dan Erry adalah anggota Wanadri Kehormatan (WK).

Sementara empu pisau Indonesia, Teddy Sutadi Kardin (W 279 AL), datang membawa kue tart. Kang Teddy merupakan sahabat Presiden Prabowo Subianto. Dia pernah memberi pelatihan ilmu pengesan jejak (sanjak) untuk Kopassus, Korpasgat, Marinir, dan Brimob Polri. Di Wanadri, Kang Teddy seangkatan dengan Djukardi Adriana alias Kang Bongkeng (W 360 AL).

Ketua Dewan Pengurus (DP) Wanadri XXIX, Tomy Hosni Mubaraq (W 1030 ELKA), hadir bareng saudara lainnya. Mereka membantu persiapan acara syukuran ultah ke-85 Kang Harrie (W 001 PEN). Dari enam pendiri Wanadri, kini tersisa Om Harrie dan Kang Yayat (W 006 PEN) yang tinggal di Cirebon.

Pertengahan Juni 2026, anggota muda Wanadri angkatan Badai Kabut dan Bintang Rawa, sempat pula menyambangi rumah Om Harrie di Jalan Makmur No 18 Kota Bandung. Mereka mengikuti program mentoring Kewanadrian oleh mantan pegawai Kementerian Pekerjaan Umum (PU) itu.

“Anggota muda mendengar sejarah Wanadri langsung dari pendiri. Rumah Om Harrie juga punya nilai histori, tempat awal pembahasan AD/ART organisasi yang resmi terbentuk pada 16 Mei 1964,” kata Tomy.

Program mentoring Kewanadrian anggota muda angkatan Badai Kabut dan Bintang Rawa/Dokumentasi Wanadri

Terkenang Pasir Bungkirit

“Kalian yang beruban ini, belum lahir waktu saya menggagas Wanadri di pelosok desa sana,” ujar Om Harrie disambut tawa hadirin. “Ide dan konsep tentang sebuah organisasi pendaki gunung, tercetus saat saya dan saudara lainnya kumpul di Pasir Bungkirit, Kuningan.”

Harrie menyebutkan tak lama setelah menghirup udara dunia di Bogor pada 17 Juli 1941, ayahnya Achmad Soebari mengungsikan anak-anaknya ke Desa Cigugur, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat. “Ayah saya mau ditembak Belanda. Demi keselamatan keluarga, kami pindah ke kampung keluarga ayah di Kuningan,” tuturnya.

Harrie kecil belajar di Sekolah Rakyat (SR) Cigugur. Dia aktif dalam Kepanduan Rakyat Indonesia (KRI). Lanjut ke SMPN 1 Cirebon, dan SMA di Bandung. Seiring waktu minatnya pada aktivitas petualangan menguat. Ketika menetap di Bungkirit, Harrie kerap berkelana ke Gunung Ciremai. “Sejak kecil saya hobi jalan kaki. Senang bertualang,” kata kakek tiga cucu itu.

Pendopo dan monumen Wanadri di Pasir Bungkirit yang dibangun keponakan Om Harrie, Argha Darma Tubagus (53), di Kuningan, Jawa Barat/Mochamad Rona Anggie

Nation and Character Building

Harrie mengungkapkan saat Kepanduan dibubarkan oleh pemerintah tahun 1961 dan semua organisasi sejenis dilebur dalam Pramuka, dia dan empat saudara sedarah lainnya tidak bergabung. Mereka memilih merumuskan sebuah kelompok pencinta alam yang menganut semboyan Kepanduan: Today Scout, Tomorrow Leader.

Sedangkan Pramuka, menurut Harrie, kebalikannya. Ada peran pemerintah yang mengatur roda organisasi. Membuat ciri khas Kepanduan hilang. “Spirit pembentukan Wanadri itu dari Kepanduan. Kami menjunjung teguh nilai persaudaraan, kesetaraan, dan keterampilan hidup di alam bebas,” paparnya.

Tak kalah penting, lanjut Harrie, karena tahun 1940 sampai akhir 1965 itu kondisi Indonesia ada di tengah masa revolusi, yang rentan gesekan antarkekuatan politik – ada kelompok tentara, komunis, DI/TII hingga gerakan mahasiswa – Wanadri lahir sebagai pilihan buat mereka yang mau menempa diri di alam terbuka.

“Di tengah situasi genting demikian, ayah saya Mama Soebari mencetuskan mukadimah Anggaran Dasar Wanadri, yang menekankan pentingnya nation and character building dalam sebuah organisasi penempuh rimba,” tuturnya.

Karena itu, kata Harrie, saat diundang Presiden SBY ke Istana Negara lantas berjumpa Menteri ESDM yang juga anggota Wanadri, Kuntoro Mangkusubroto (W 141 HK), penyematan kalimat nation and character building ini jadi perhatian pemerintah. Seolah tak percaya, dari sudut desa terpencil lahir semangat para petualang yang ingin mendarmabaktikan pengembaraannya untuk ilmu pengetahuan dan kemajuan bangsa.

Nation and character building bukan kalimat sembarangan. Ini pondasi karakter rakyat Indonesia yang dicanangkan Bung Karno. Sama seperti Konfusianisme di Tiongkok, Bushido Jepang, dan kebebasan ala Amerika. Menjadi identitas masing-masing bangsa,” katanya.

Prasasti mukadimah Anggaran Dasar Wanadri warisan Achmad Soebari (W 001 PENASIHAT)/Mochamad Rona Anggie

Bangga pada Generasi Penerus

Om Harrie bersyukur dapat menyaksikan perkembangan Wanadri. Dia berterima kasih kepada generasi penerus yang telah menorehkan capaian gemilang di banyak medan pengabdian. “Mereka hebat-hebat. Selalu memberikan yang terbaik untuk dunia petualangan Indonesia, aksi kemanusiaan dan ilmu pengetahuan,” tegasnya.

Om Harrie (topi hitam) di halaman vila milik Alfan Baharudin saat hendak mengikuti upacara penutupan Pendidikan Dasar Wanadri 2025, Ahad (25/1/2026)/Mochamad Rona Anggie

Buat dia, jumlah anggota Wanadri yang sudah lebih dari seribu orang, menjadi motivasi perekat persaudaraan dan pelecut pengembaraan. “Di mana pun, seorang Wanadri harus bermanfaat bagi lingkungannya. Jaga nama baik organisasi,” pesannya.

Om Harrie menambahkan walau di catatan pemerintah (de yure), kini Wanadri berumur 62 tahun, namun secara gagasan telah muncul sejak 70 tahun lalu. Dia mengingatkan generasi belakangan untuk tak melupakan sejarah pendirian Wanadri.

“Wanadri itu langgeng karena ikatan persaudaraannya kuat,” pungkasnya.

Selamat ulang tahun ke-85, Om Harrie. Berkah dan panjang umur di atas ketaatan kepada Allah azza wa jalla.

Wanadri, jasamu abadi!