Tentang KamiPedoman Media SiberKetentuan & Kebijakan PrivasiPanduan KomunitasPeringkat PenulisCara Menulis di kumparanInformasi Kerja SamaBantuanIklanKarir
2025 © PT Dynamo Media Network
Version 1.99.0
Konten dari Pengguna
Pengoplosan BBM Pertamax: Dugaan Skandal yang Mengancam Kepercayaan Publik
27 Februari 2025 14:46 WIB
·
waktu baca 2 menitTulisan dari Mochammad Afdhal Virgieawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

ADVERTISEMENT
Baru-baru ini, dugaan pengoplosan BBM jenis Pertamax oleh Pertamina menjadi perbincangan hangat di masyarakat. Kasus ini mencuat setelah adanya laporan bahwa kualitas Pertamax yang beredar di pasaran tidak sesuai standar yang seharusnya. Jika benar terjadi, praktik ini bukan hanya merugikan konsumen, tetapi juga mencoreng kredibilitas Pertamina sebagai perusahaan energi milik negara.
ADVERTISEMENT
Kepercayaan Publik yang Dipertaruhkan
Sebagai BUMN yang menguasai distribusi bahan bakar di Indonesia, Pertamina memiliki tanggung jawab besar untuk menjaga kualitas produknya. Pertamax dikenal sebagai BBM dengan angka oktan tinggi yang menawarkan performa mesin lebih baik serta emisi lebih rendah dibandingkan Premium atau Pertalite. Jika ternyata ada campur tangan dalam proses produksinya—baik dengan mencampur bahan berkualitas lebih rendah atau mengurangi kadar oktan aslinya—maka ini adalah bentuk pengkhianatan terhadap kepercayaan publik.
Masyarakat yang rela membayar lebih mahal untuk Pertamax tentu mengharapkan kualitas sesuai standar. Jika produk tersebut ternyata dioplos dengan BBM lain, dampaknya bisa sangat luas, mulai dari performa kendaraan yang menurun, peningkatan konsumsi bahan bakar, hingga potensi kerusakan mesin.
ADVERTISEMENT
Dampak Ekonomi dan Regulasi yang Harus Diperkuat
Selain merugikan konsumen, dugaan pengoplosan BBM ini juga berpotensi merugikan negara. Pengawasan terhadap distribusi BBM harus diperketat agar praktik seperti ini tidak terjadi di berbagai lini, baik di tingkat SPBU maupun dalam rantai pasokan yang lebih luas.
Pemerintah dan aparat penegak hukum harus turun tangan untuk mengusut dugaan ini secara transparan. Jika ditemukan pelanggaran, maka sanksi tegas harus diberikan kepada pihak yang terlibat. Selain itu, Pertamina sebagai entitas bisnis negara harus lebih terbuka dalam menjelaskan standar operasional dan mekanisme kontrol kualitas mereka kepada publik.
Dugaan pengoplosan BBM Pertamax bukan sekadar isu teknis, tetapi juga persoalan etika bisnis dan tanggung jawab korporasi. Pertamina harus segera memberi klarifikasi dan memastikan bahwa setiap tetes BBM yang dijual ke masyarakat memenuhi standar kualitas yang dijanjikan. Kepercayaan publik adalah aset berharga yang sulit dikembalikan jika sudah tercoreng.
ADVERTISEMENT
Jika dugaan ini benar, apakah kita masih bisa mempercayai kualitas BBM yang kita gunakan sehari-hari?