Negara Jepang dan Segala Bencana Alamnya

Mahasiswa Universitas Airlangga Jurusan Studi Kejepangan
Tulisan dari Qania Atillah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Jepang merupakan negara berbentuk pulau yang terletak di Benua Asia bagian timur. Kawasan cincin api (deretan gunung api aktif) yang terdiri atas kurang lebih 450 gunung api juga melewati negara Jepang, sehingga membuatnya berisiko tinggi terhadap bencana gempa. Selain melimpahnya jumlah gunung api di Jepang, letaknya yang berada di antara 4 lempeng benua juga kerap menimbulkan gempa bersifat tektonik jika sewaktu-waktu lempeng mengalami pergeseran. Terlebih lagi soal lempeng tektonik, palung laut di Jepang dengan kedalaman 800 meter juga menjadi penyebab terjadinya bencana gempa dan seringkali dianggap sebagai penyebab Gempa Tohoku yang terjadi pada tahun 2011.
Penting bagi warga Jepang maupun non-Jepang untuk mengenali bencana-bencana yang kerap terjadi agar masyarakat menjadi selalu siap siaga dalam menghadapi bencana. Karena banyaknya faktor geografis yang berperan, Jepang menjadi cukup rentan terhadap berbagai bencana alam. Bencana-bencana tersebut di antara lain adalah gempa bumi, tsunami, badai, dan bencana nuklir.
Gempa bumi atau biasa disebut "Jishin" (地震) dalam Bahasa Jepang, merupakan bencana alam yang diakibatkan oleh getaran hebat gelombang seismik. Pengkategorian gempa bumi di antara lain ada tiga, yaitu vulkanik , tektonik, dan terban . Tanda-tanda terjadinya gempa bumi di antara lain adalah munculnya awan gempa, gelombang elektromagnetik yang tidak wajar, tingkah laku hewan yang gelisah, cahaya gempa, serta gempa kecil.
Di Jepang, gempa dengan faktor vulkanik dan tektonik merupakan jenis gempa yang paling sering terjadi. Salah satu bencana gempa terburuk di Jepang adalah gempa bumi besar Kanto yang terjadi pada tahun 1923. Gempa sebesar 7.9 skala richter ini mengeluarkan energi tektonik besar yang menelan hingga 140.000 korban jiwa banyaknya. Saking dahsyatnya, Gempa Kanto menimbulkan bencana susulan berupa gelombang tsunami setinggi 40 kaki yang mampu menyapu ribuan orang beserta tempat tinggal mereka. Kekacauan yang ditimbulkan pun terus berlanjut hingga muncul kebakaran hebat di daerah Yokohama, Tokyo yang dikenal dengan nama “Dragon Twist” karena terbentuknya tornado api. Gempa yang berselang selama 14 detik tersebut mampu menghancurkan dua kota terbesar di Jepang.
Dalam menyiasati bencana gempa, Jepang telah memunculkan berbagai inovasi yang mampu meminimalisir kerugian. Seperti contoh, gedung-gedung di Jepang telah dibangun sedemikian rupa dengan struktur khusus agar tidak mudah roboh saat bencana gempa terjadi. Selain itu, ponsel di Jepang juga telah dilengkapi dengan perangkat lunak khusus yang dapat memberi peringatan jika gempa mulai terjadi. Penyebaran informasi mengenai gempa juga sangat cepat karena siaran TV Jepang yang tanggap. Kereta shinkansen di Jepang pun telah dilengkapi dengan teknologi sensor pendeteksi gempa yang dapat membekukan seluruh jaringan kereta dari pusat. Selain inovasi dalam teknologi, sekolah-sekolah di Jepang juga menyediakan edukasi berupa pelatihan agar masyarakat menjadi tanggap bencana sejak dini.
Tsunami (津波) yang secara harfiah berarti gelombang besar di pelabuhan merupakan gelombang air besar yang diakibatkan oleh gangguan dari dasar laut. Bentuk-bentuk gangguan tersebut di antara lain dapat berupa gempa bumi, letusan gunung api bawah laut, pergerakan lempeng bawah laut, longsor, faktor ekstraterestrial, dan lain-lain. Namun dari sekian banyak faktor, gempa bumi seringkali menjadi faktor utama penyebab tsunami. Gejala-gejala umum terjadinya tsunami dapat dikenal melalui tanah yang bergetar, suara gemuruh ombak yang tidak normal, air laut mendadak surut, tingkah laku hewan yang gelisah, serta awan yang menggelap.
Mengingat Jepang merupakan negara berbentuk kepulauan yang dikelilingi laut dan sering dilanda gempa bumi, tentu masyarakat perlu waspada terhadap bencana tsunami pula. Gempa dan tsunami yang terjadi di kawasan Tohoku pada tahun 2011 menjadi bencana tsunami terbesar yang pernah ada di Jepang dan merupakan satu dari empat gempa terbesar di dunia sejak pencatatan gempa modern dimulai. Tsunami Tohoku dipicu oleh aktivitas tektonik bawah laut yang menimbulkan gelombang kuat setinggi 40 meter. Menurut laporan JNPA (Japanese National Police Agency), lebih dari 450.000 orang harus terpaksa kehilangan tempat tinggal mereka, 15.296 orang tewas, dan 8,526 orang dinyatakan hilang di enam prefektur. Selain korban jiwa dan material, bencana ini berdampak pada infrastruktur negara karena hancurnya sarana prasarana publik, termasuk pabrik nuklir Fukushima Daiichi. Kerusakan pada reaktor pabrik nuklir melepaskan zat radioaktif yang berbahaya dan beracun kepada lingkungan, sehingga ribuan masyarakat perlu melakukan evakuasi secepatnya. Dalam rangka mengurangi jumlah kerugian ketika terjadi bencana tsunami, pemerintah Jepang turut membangun terowongan air pada wilayah perkotaan.
Angin topan merupakan pusaran angin dengan kecepatan tinggi yang terbentuk di atas lautan dan umumnya memiliki suhu permukaan air laut yang hangat. Terbentuknya pusaran angin kuat ini disebabkan oleh perbedaan tekanan dalam suatu sistem cuaca dengan jarak minimal 500 km dari garis khatulistiwa. Gejala datangnya angin topan dapat dikenali lewat bentuk awan, temperatur, gelapnya langit, perilaku hewan, dan kekuatan angin.
Dalam istilah Jepang, angin topan biasa disebut dengan istilah "Taifu" (台風). Sepanjang tahun, taifu kerap terjadi sebanyak 26 kali, di antaranya 11 dari topan tersebut melintas dekat wilayah Jepang, dan ada sekitar 3 topan yang masuk ke daratan Jepang. Di Jepang, taifu biasa melanda antara bulan Juli hingga Oktober, yakni ketika menjelang musim panas dan musim gugur. Orang Jepang biasa menyebut taifu sesuai dengan nomor urut terjadinya taifu tersebut. Taifu Hagibis atau taifu nomor 19 merupakan angin siklon tropis yang telah menimbulkan berbagai kerusakan di Jepang. Diiringi dengan hujan lebat serta angin yang sangat kencang, bencana ini mampu menyapu rumah-rumah dan pepohonan hingga memadamkan listrik serta sambungan telepon di sejumlah wilayah Jepang.
Jepang sebagai salah satu negara paling maju di dunia mulai memanfaatkan nuklir dalam menunjang infrastruktur negara. Namun, pemanfaatan teknologi tersebut tidak lepas dari bencana yang dapat terjadi. Pada tahun 2011, Jepang dilanda bencana gempa bumi beserta tsunami di daerah Tohoku. Tsunami tersebut kemudian mematikan generator darurat yang akan digunakan untuk mendinginkan reaktor. Pendinginan yang tidak memadai menyebabkan kebocoran nuklir. Alhasil, masyarakat sekitar pabrik terkena dampak zat radioaktif yang dalam jangka panjang dapat membahayakan keselamatan dan kesehatan fisik. Bencana nuklir Fukushima Daichii sendiri merupakan bencana nuklir kedua terbesar setelah Tragedi Chernobyl.
Mengingat banyaknya bencana yang dapat terjadi sewaktu-waktu, tentunya masyarakat Jepang harus selalu tanggap terhadap bencana. Salah satu bentuk kesiapsiagaan warha Jepang dalam menghadapi bencana adalah dengan menyediakan peralatan serta kebutuhan darurat di rumah masing-masing. Berbagai peralatan darurat yang perlu disiapkan: uang tunai, kartu kredit, dokumen berharga, alat kebersihan, obat pribadi, peluit, tali, radio portabel, lentera LED, kotak P3K, tas plastik, air kemasan botol, kompor portabel, tabung gas, headlamp, sapu tangan kulit, makanan kemasan kaleng, helm, baterai, sepatu olahraga, tas punggung, dan toilet darurat. Dengan menyediakan berbagai peralatan darurat tersebut, masyarakat dapat segera melakukan evakuasi jika suatu saat bencana terjadi, sehingga jumlah kerugian dan kerusakan juga dapat terminimalisir.
