Konten dari Pengguna

Dari Bahasa Ibu ke Bahasa Konten: Ancaman Krisis Identitas pada Anak

Ainu Rizqi

Ainu Rizqi

Penulis lepas dan editor di Artikula.id. Saat ini sedang menjadi guru honorer di Kediri

·waktu baca 7 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ainu Rizqi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Anak. Foto: Dokumentasi pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Anak. Foto: Dokumentasi pribadi

Beberapa tahun silam, halaman rumah tetangga di desa kerap riuh oleh suara anak-anak. Mereka bermain bola, kelereng, dan engklek hingga lupa waktu. Permainan itu akan berakhir hingga senja tiba yang ditandai dengan teriakan, “Le/Nduk, ayo ndang muleh. Wis surup!” dari seorang ibu. Begitu pula saat di rumah. Biasanya di ruang keluarga anak-anak akan duduk berderet, entah bermain dakon atau mendengarkan cerita-cerita dari kakek-nenek yang masih hidup.

Sayangnya, hal tersebut kini jarang kita temui. Anak-anak masih duduk berderet. Anak-anak juga masih bermain bersama temannya. Namun, mereka hanya berkumpul secara fisik, bukan secara emosional. Anak-anak itu duduk menatap layar ponsel. Jari-jemari kecil itu lincah menggeser layar (scroll), menyerap konten-konten video pendek, bercakap dengan bahasa konten yang populer, atau berceloteh menggunakan bahasa asing yang populer di media sosial.

Bagi banyak orang tua masa kini, fenomena ini mungkin dianggap biasa. Bahkan, beberapa orang tua mengatakan bahwa, “Tak apa-apa, itu tandanya anak-anak sekarang sudah melek teknologi.” Namun, di balik itu semua, dalam layar yang penuh warna itu, ada satu hal yang memudar, yaitu bahasa ibu. Anak-anak hari ini lebih fasih menirukan kosakata viral, tetapi gagap ketika harus menyusun kalimat sederhana dalam bahasa ibu sebagai bahasa leluhur.

Dalam hal ini, yang hilang bukan sekadar kata-kata verbal belaka, melainkan sebuah kunci identitas. Maka, dari sanalah krisis identitas mulai menemui jalannya pada seorang anak.

Kita tentu tahu bahwa bahasa ibu adalah bahasa pertama yang dipelajari dan dikuasai anak sejak lahir. Bahasa ibu biasanya diwariskan dari keluarga dan komunitas sekitar. Lebih jauh, bahasa ibu bukan sekadar alat komunikasi, melainkan bahasa yang membawa cara pandang, nilai, dan tradisi. Melalui bahasa ibu, seorang anak akan menyerap peribahasa yang sarat makna, pepatah yang mengawal sikap, hingga cerita rakyat yang mengajarkan moral.

Dalam sosiolinguistik, bahasa merupakan penanda identitas primer. Edward Sapir dan Benjamin Lee Whorf (1956) berpendapat bahwa bahasa memengaruhi cara manusia berpikir. Dengan demikian, bahasa ibu membentuk kerangka konseptual seorang anak untuk memahami dunia. Menghilangkan bahasa ibu sama artinya dengan menggerogoti salah satu fondasi berpikir seorang anak yang paling fundamental.

Ilustrasi perkembangan bahasa anak. Foto: yesstock/Shutterstock

Pergeseran Bahasa Bermula dari Paparan Digital

Tak dapat dipungkiri bahwa anak-anak Generasi Alpha dan Generasi Z (Gen Z) tumbuh di tengah luapan teknologi digital. Temuan data BPS (2024) memaparkan bahwa 39,7% anak usia dini di Indonesia telah menggunakan ponsel di mana 35,57% di antaranya bahkan telah mampu mengakses internet. Selain itu dijelaskan pula bahwa rata-rata anak Indonesia mulai memegang ponsel sejak usia 7 tahun, bahkan sebagian belum masuk TK.

Konsumsi harian dari anak-anak tersebut pun tak lain merupakan platform video pendek, seperti TikTok, Instagram Reels, dan YouTube Shorts. Permasalahan muncul karena mayoritas konten yang mereka tonton disajikan dengan menggunakan bahasa Indonesia informal, bahasa slang, bahkan jarang sekali ditemukan bahasa ibu.

Padahal, periode emas seorang anak dalam menyerap bahasa ibunya ada pada rentang usia semenjak ia lahir hingga sekitar usia 7 tahun. Lalu, penguatan akan hal itu diperlukan hingga usia 12 tahun. Jika selama periode ini anak jarang menyerap bahasa ibu, maka bahasa itu akan sulit ia kuasai secara alami di esok hari. Seorang anak mungkin dapat mempelajarinya secara mandiri, tetapi rasanya tetap berbeda. Bahasa yang menjadi materi pelajaran akan berbeda dengan bahasa yang menubuh menjadi bagian jati dirinya.

Persoalan muncul jika pada periode ini seorang anak telah terkontaminasi ponsel yang telah mendominasi. Waktu-waktu yang biasanya diisi seorang ibu dengan cerita dongeng (atau menyoal kulturalnya) digantikan oleh video-video pendek. Obrolan singkat di meja makan tergeser oleh tayangan video YouTube. Tanpa disadari, kesempatan membentuk identitas bahasa pada anak menghilang.

Fenomena ini pun menimbulkan pergeseran penggunaan bahasa, dari bahasa ibu ke bahasa dominan, terutama yang mendominasi ruang-ruang digital. Ekosistem digital perlahan mengajarkan anak bahwa bahasa yang dominan, gaul, dan relevan, adalah bahasa dari internet. Sementara itu, bahasa ibu harus bertekuk lutut dengan berbagai anggapan seperti kuno atau ribet, bahkan tak jarang dianggap usang dan memalukan. Akibatnya, interaksi anak dengan bahasa ibu kurang mendalam. Padahal, untuk mempertahankan kefasihan, seorang anak butuh paparan dan praktik yang intensif hingga setidaknya usia 12 tahun.

Bahasa dan Gerbang Identitas

Pintu masuk ke dalam memori kolektif ialah bahasa. Sosiolog Maurice Halbwachs menegaskan bahwa memori bersama suatu komunitas dapat disimpan dan dihidupkan melalui bahasa. Saat seorang anak kehilangan bahasa ibu, ia akan kehilangan akses langsung ke cerita-cerita nenek moyang, ungkapan khas lokalitas, dan selera humor komunitas asalnya.

Bahasa—dalam kerangka vitalitas etnolinguistik—menjadi tiket untuk masuk ke dalam kelompok budaya. Siapa saja yang menguasai bahasa, maka ia akan dianggap “bagian dari kita”. Begitu pun sebaliknya, seorang anak yang latah menggunakan bahasa ibu akan sering dihinggapi perasaan canggung di kampung halaman atau acara-acara keluarga. Seseorang tersebut merasa berada di persimpangan—antara bagian dari dalam dan bagian lainnya.

Ilustrasi Bahasa-bahasa di Dunia Foto: Getty Images

Maka, di sinilah krisis identitas mulai menunjukkan taringnya. Seorang anak akan terjebak di dunia “antara” dengan perasaan yang mencemaskan. Satu dunia merupakan dunia digital dengan ragam bahasa yang mendominasi dan menjadi bahasa sehari-harinya. Sedangkan, ia dituntut untuk memahami dunia kulturanya yang acap kali bahasanya sudah tak ia kuasai. Perasaan demikian akan memunculkan pertanyaan eksistensial yang cukup menohok: “Siapakah aku sebenarnya?”

Krisis Identitas yang Menganga

Krisis identitas bagi seorang manusia bukan sekadar teori psikologi. Krisis tersebut "menubuh" dalam pengalaman seseorang yang bingung menentukan siapa dirinya sebenarnya. Lalu, hal tersebut menimbulkan pertanyaan lain, seperti apa nilai yang ia pegang, hingga ke arah mana ia menuju. Pada anak dan remaja, gejala krisis identitas bisa dibaca dengan tanda-tanda yang nampak.

Beberapa tanda biasanya nampak saat orang tersebut enggan terlibat dalam suatu acara atau tradisi keluarga. Hal tersebut dikarenakan ia tak memahami bahasa serta latar kulturalnya. Kemudian, seseorang akan merasa malu dengan kemampuan bahasa ibunya. Tak jarang pula seseorang lebih memilih komunitas virtual ketimbang lingkungan korporeal. Lebih parah lagi, seseorang tersebut kerap kali mengadopsi nilai dan perilaku dari budaya populer, tanpa menyaringnya terlebih dahulu.

Kendati demikian, krisis identitas ini bukanlah perasaan yang menyergap dalam waktu satu malam. Krisis ini dapat muncul bertahun-tahun kemudian, ketika anak mulai dewasa, kembali ke kampung halaman, dan merasa asing di tanah kelahirannya sendiri.

Lantas, apakah teknologi digital kini menjadi momok, atau bahkan musuh yang harus diberantas?

Tulisan ini tidak hendak memberi seruan memusuhi teknologi digital. Perlu kita ketahui bahwa problem utamanya bukan pada internet atau perangkatnya, melainkan pada dominasi yang tak seimbang. Dominasi konten digital yang tak diimbangi dengan interaksi budaya aslinya akan menjatuhkan orang tersebut menuju krisis identitas yang mencemaskan.

Ilustrasi perkembangan bahasa anak. Foto: GOLFX/Shutterstock

Menjaga Akar dalam Rimba Digital

Kita tak bisa menjadi seorang konservatif dengan melarang penggunaan teknologi sepenuhnya. Kita semua, termasuk anak-anak, merupakan warga dunia yang mengglobal atau—dalam meminjam istilah Pramoedya Ananta Toer—kita merupakan “anak semua bangsa”. Banyak hal yang dapat kita lakukan agar akar kultural anak-anak tak tercerabut, di antaranya dengan menggunakan bahasa ibu dalam interaksi sehari-hari. Orang tua juga bisa menghidupkan kembali tradisi lisan dengan mendongeng pada anak.

Kita juga perlu memastikan bahwa saat anak-anak melangkah ke dunia global, akar mereka tertancap dengan kokoh dan akar itu merupakan bahasa ibu. Bahasa ibu—pada gilirannya—akan memberikan rasa “pulang” bagi raga yang berada jauh. Sebab, krisis identitas yang berasal dari terkikisnya bahasa ibu tidak akan memunculkan bencana secara instan. Namun, secara perlahan ia akan menggerus rasa kepercayaan diri pada seorang anak untuk mengakui asal-usulnya.

Jika hal tersebut dibiarkan—dibuat menjadi banal—generasi mendatang akan kaku menyapa sanak-saudara dan kakek-nenek yang berada di kampung halaman. Maka dari itu, sudah menjadi perlu dan penting bahasa ibu dipertahankan, diwariskan, dan direproduksi terus-menerus. Dalam era digital yang semakin laju ini, mempertahankan bahasa ibu merupakan sebuah perlawanan yang paling personal sekaligus politis. Sebuah perlawanan untuk tetap bangga menjadi diri sendiri di tengah penyeragaman global.