Kumparan Logo

600 Ton Beras SPHP Diduga Dioplos Jadi Premium, Kerugian Rp 3,3 Miliar

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Suasana pengungkapan temuan dugaan pengoplosan beras Bulog atau beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) yang disubsidi pemerintah menjadi beras premium di kawasan Kayu Manis, Jakarta Timur Rabu (28/10). Foto: Widya Islamiati/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Suasana pengungkapan temuan dugaan pengoplosan beras Bulog atau beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) yang disubsidi pemerintah menjadi beras premium di kawasan Kayu Manis, Jakarta Timur Rabu (28/10). Foto: Widya Islamiati/kumparan

Badan Pangan Nasional (Bapanas) memperkirakan praktik dugaan pengoplosan 600 ton beras program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) menjadi beras premium berpotensi menimbulkan kerugian negara hingga Rp 3,3 miliar.

Angka tersebut merupakan perhitungan Bapanas yang didasarkan pada nilai subsidi harga beras SPHP sekitar Rp 5.510 per kilogram. Jika dikalikan dengan volume 600 ton, nilai subsidi yang tidak tersalurkan kepada masyarakat yang membutuhkan diperkirakan mencapai Rp 3,3 miliar.

Kepala Bapanas yang juga menjabat sebagai Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mengatakan beras SPHP yang seharusnya dijual dengan harga terjangkau justru diduga dibongkar dan dikemas ulang untuk dijual sebagai beras premium.

“Jadi dia (pengoplos) ini membeli, order ke Bulog. Setelah di-order, dijual kan. Nah, yang membeli ini, dibongkar bungkusannya kemudian masuk karung. Ini dua biasa yang dilakukan. Sebagian lompat menjadi premium, kemudian langsung sebagian dioplos, baru dijual. Intinya adalah keserakahan. Ini semena-mena,” kata Amran kepada wartawan, Kamis (29/10).

Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mengungkap temuan dugaan pengoplosan beras Bulog atau beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) yang disubsidi pemerintah menjadi beras premium di kawasan Kayu Manis, Jakarta Timur Rabu (28/10). Foto: Widya Islamiati/kumparan

Amran menegaskan beras SPHP merupakan bagian dari program pemerintah untuk membantu masyarakat memperoleh beras dengan harga terjangkau. Karena itu, praktik yang diduga memanfaatkan beras subsidi untuk meraup keuntungan tersebut harus ditindak.

“Ini untuk orang susah nih, ini dibongkar kemudian dijual mahal. Jahat enggak? Ya, kan?” ujar Amran.

Selain subsidi di hilir seperti program SPHP beras, Amran mengungkapkan ada juga subsidi di hulu seperti subsidi pupuk, traktor, hingga alat mesin pertanian yang disiapkan pemerintah untuk masyarakat.

"Subsidi di hulu yaitu Rp 160 triliun tahun 2026. Tahun 2025 Rp 144 triliun. (Lalu) subsidi di hilir, beras SPHP. Seharusnya ini dijual Rp 12.500, tapi dijual Rp 17.000 (per kg). Ini bukan saya. Ini rakyat. Ini untuk orang sulit. Ini beras subsidi, tapi masih ada oknum yang bermain-main,” tutur Amran.