Kumparan Logo

BI Salurkan 32,5 Ton Bantuan Bencana ke NTT, Isinya Obat hingga Makanan

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Pelepasan dan Penyerahan Bantuan Bencana Gempa Bumi Provinsi NTT di Museum Bank Indonesia, Jakarta, Senin (31/8/2026). Foto: Nur Pangesti/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Pelepasan dan Penyerahan Bantuan Bencana Gempa Bumi Provinsi NTT di Museum Bank Indonesia, Jakarta, Senin (31/8/2026). Foto: Nur Pangesti/kumparan

Bank Indonesia (BI) menyalurkan bantuan tanggap darurat tahap ketiga bagi masyarakat terdampak bencana gempa bumi di wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT). Bantuan tersebut dikirim secara bertahap melalui posko Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) di Landasan Udara (Lanud) Halim Perdanakusuma dengan total mencapai 32,5 ton.

Kepala Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso mengungkapkan bantuan tersebut merupakan bentuk kepedulian BI terhadap masyarakat yang terdampak bencana.

“Kami berharap agar teman-teman di NTT senantiasa diberikan kekuatan, kesehatan, dan juga ketambahan. Kami menyadari bahwa bantuan ini belum dapat menjawab ataupun menggantikan apa yang telah hilang. Kami berharap kehadirannya (bantuan) dapat sedikit meringankan beban sekaligus menguatkan hati saudara-saudara kita yang sedang menghadapi masa sulit,” kata Denny dalam sambutan Pelepasan dan Penyerahan Bantuan Bencana Gempa Bumi Provinsi NTT di Museum Bank Indonesia, Senin (31/8).

BI telah mengirimkan bantuan tahap pertama pada Senin (24/8). Pengiriman bantuan tersebut difokuskan pada kebutuhan mendesak pascakejadian, meliputi obat-obatan, air mineral, makanan siap saji, serta perlengkapan higienitas sebanyak 8,5 ton atau 7 truk.

Selanjutnya pada Kamis (27/8), BI mengirimkan bantuan tahap kedua sebanyak 9,7 ton menggunakan satu truk komersial. Bantuan tersebut berupa bahan pangan pokok, khususnya beras, serta air mineral.

Dari hasil pengiriman tersebut, pada Kamis (27/8), Kepala KPw BI Provinsi NTT telah menyampaikan bantuan dari BI kepada Kepala Pos Pendukung Logistik Nasional BNPB Maumere. Selanjutnya bantuan juga telah diterima langsung oleh masyarakat terdampak di Pulau Palue (pulau terluar) di Kab. Sikka, Kabupaten Ende, dan Kabupaten Nagekeo.

Kemudian, pengiriman tahap ketiga pada Senin (31/8) mencapai 14,3 ton. Bantuan yang dikirim menggunakan tiga truk komersial tersebut terdiri atas tenda, velbed, genset, tambahan obat-obatan, dan makanan siap saji.

Deputi Bidang Sistem dan Strategi BNPB Raditya Jati saat Pelepasan dan Penyerahan Bantuan Bencana Gempa Bumi Provinsi NTT di Museum Bank Indonesia, Jakarta, Senin (31/8/2026). Foto: Nur Pangesti/kumparan

Selain menyalurkan bantuan, BI juga memastikan ketersediaan uang tunai di wilayah NTT tetap terjaga selama masa tanggap darurat. Denny mengatakan BI telah berkoordinasi dengan Kantor Perwakilan BI Provinsi NTT untuk memastikan kebutuhan uang tunai masyarakat tetap terpenuhi.

“Oleh sebab itu tentunya kita menyampaikan bahwa tidak perlu ada kekhawatiran dari masyarakat terhadap kebutuhan uang tunai di NTT,” ujar Denny.

Pada kesempatan tersebut, Bank Indonesia juga menyampaikan apresiasi kepada BNPB, TNI AU, Pemerintah Provinsi NTT, dan seluruh mitra penyedia logistik yang bergerak bersama di lapangan. Semoga semangat kebersamaan, gotong royong, dan sinergi yang terjalin dapat terus dijaga untuk mendukung masyarakat NTT agar segera bangkit dan pulih pascabencana.

Sementara itu, Deputi Bidang Sistem dan Strategi BNPB Raditya Jati mengungkapkan, distribusi bantuan ke wilayah terdampak turut didukung oleh TNI Angkatan Udara dan TNI Angkatan Laut.

Ia menuturkan BNPB juga mengerahkan truk yang dapat membawa bantuan langsung menuju kabupaten tujuan. Langkah tersebut dilakukan untuk mempercepat distribusi dan menghindari pola penyaluran logistik yang terlalu tersentralisasi.

“Tantangan yang utama adalah bilamana logistik itu dikirim secara sentralistik, tentunya akan membutuhkan waktu mulai dari Maumere dan Labuan Bajo,” ujar Raditya.

Raditya memastikan penanganan bencana di NTT akan terus dipantau, termasuk terkait kebutuhan biaya dan pemenuhan logistik masyarakat terdampak.