Kumparan Logo

Cadangan Sawit Malaysia Naik tapi Ekspornya Turun, China-India Lebih Lirik RI

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi perkebunan sawit di Malaysia. Foto: ashadhodhomei/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi perkebunan sawit di Malaysia. Foto: ashadhodhomei/Shutterstock

Persediaan minyak sawit Malaysia meningkat dengan laju tercepat dalam lima bulan terakhir. Berdasarkan data yang dirilis Malaysian Palm Oil Board (MPOB) pada Rabu (10/6), stok minyak sawit berada di 2,43 juta ton pada Mei 2026, naik 5,2 persen dibandingkan bulan sebelumnya.

Kenaikan itu lebih dari dua kali lipat dibandingkan perkiraan survei Bloomberg yang memperkirakan kenaikan sebesar 2,2 persen. Peningkatan stok ini terjadi akibat perlambatan tajam pengiriman ke luar negeri, karena pembeli beralih ke pasokan minyak sawit Indonesia yang lebih murah setelah pemerintah Indonesia merombak sistem ekspor komoditas strategisnya.

Mengutip Bloomberg, ekspor minyak sawit Malaysia turun sekitar 14 persen menjadi 1,11 juta ton, level terendah dalam satu tahun. Penurunan ini lebih besar dibandingkan perkiraan pasar yang memperkirakan kontraksi sebesar 6,2 persen.

Sebelumnya, terdapat ekspektasi mengenai perubahan kebijakan ekspor Indonesia yang diumumkan pada akhir bulan lalu akan mengalihkan permintaan ke Malaysia. Namun, kondisi tersebut belum terjadi. Sebaliknya, pembeli di pasar utama seperti India dan China justru meningkatkan pembelian pasokan dari Indonesia yang menawarkan harga lebih kompetitif.

Persaingan antara kedua negara produsen minyak sawit tersebut diperkirakan akan semakin ketat dalam beberapa bulan ke depan. Hal ini terjadi karena eksportir Indonesia berupaya mempercepat pengiriman sebelum sistem ekspor yang dikendalikan negara diterapkan secara penuh.

Indonesia, yang memasok lebih dari setengah kebutuhan minyak sawit dunia, mulai memasuki masa transisi kebijakan ekspor satu pintu melalui BUMN ekspor baru pada bulan ini. Pemerintah masih menyempurnakan berbagai aspek operasional kebijakan tersebut dan akan melakukan evaluasi dalam tiga bulan mendatang.

Untuk sementara waktu, perusahaan masih diperbolehkan melakukan transaksi ekspor seperti biasa. Kondisi ini mendorong produsen dan eksportir untuk mempercepat penjualan dan pengiriman sebelum aturan yang lebih ketat diberlakukan.

Sementara itu, produksi minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) Malaysia pada Mei turun 7 persen menjadi 1,52 juta ton. Angka ini lebih rendah dibandingkan estimasi pasar yang memperkirakan penurunan sebesar 4,9 persen. Data MPOB juga menunjukkan impor minyak sawit Malaysia anjlok 42 persen menjadi 43.816 ton pada periode yang sama.

Pelaku pasar kini menantikan data survei pengiriman kargo Malaysia untuk 10 hari pertama Juni yang dijadwalkan dirilis pada Rabu (10/6). Data tersebut akan menjadi petunjuk awal mengenai respons pembeli terhadap aturan ekspor baru yang diterapkan Indonesia.

video story embed