Dari Irigasi, Wisata hingga ke UMKM, Manfaat Embung Doho Makin Meluas

Embung Doho di Desa Doho, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah, tak hanya membantu petani mendapatkan pasokan air untuk pertanian. Keberadaan embung yang dibangun sejak 2017 itu juga menghidupkan kegiatan wisata dan menggeliatkan ekonomi masyarakat sekitar.
Kepala Desa Doho, Agus Suhartono, mengatakan sebelum ada embung, keterbatasan air membuat petani hanya dapat menanam dua kali dalam setahun. Setelah ketersediaan air meningkat, sebagian petani kini dapat meningkatkan pola tanam hingga tiga kali. Dengan begitu, terjadi peningkatan produksi padi di desa tersebut.
“Ya mungkin kalau semula biasanya hanya sekitar 15 karung, 15 karung. Bisa 20, 30 gitu,” kata Agus saat ditemui di Embung Doho, Wonogiri, Jawa Tengah, Rabu (7/10).
Saat ini, lebih dari 300 petani yang tergabung dalam tujuh gabungan kelompok tani (Gapoktan) memanfaatkan air dari Embung Doho dengan luas pertanian sekitar 100 hektare.
Embung tersebut memiliki luas sekitar 1,5 hektare dengan kapasitas tampung 15.872 meter kubik air. Sebelum ada embung, keterbatasan air terutama dirasakan saat musim kemarau sehingga petani tidak dapat memanfaatkan lahan secara optimal.
Agus menyebutkan kurang optimalnya pemanfaatan lahan sebelum adanya embung bahkan membuat masyarakat kesulitan mengakses pangan murah sehingga sempat ada kasus stunting di desa tersebut.
Selain mendukung pertanian, kawasan Embung Doho kemudian berkembang menjadi lokasi aktivitas masyarakat. Ini kemudian menarik warga dari dalam dan luar Desa Doho mulai datang untuk berolahraga, mengikuti kegiatan senam, hingga melakukan perkemahan.
Hal ini menjadi potensi ekonomi yang kemudian dimanfaat oleh masyarakat sekitar. Agus mengatakan saat kegiatan perkemahan, jumlah pedagang yang berjualan di sekitar embung dapat mencapai hampir 70 orang.
“(Omzet UMKM di sekitar embung ketika ada perkemahan) kadang ada yang Rp 2 juta, Rp 3 juta. Itu dalam tiga hari,” kata Agus.
Salah satu pedagang bakso di kawasan Embung Doho yang telah berjualan di lokasi tersebut selama sekitar lima tahun terakhir menyebutkan omzet ketika berjualan di sekitar embung bisa mencapai Rp 500.000 per hari.
Dia biasa menjajakan dagangannya di lapak sekitar embung ketika ada acara-acara tertentu seperti perkemahan, juga senam pagi pada hari minggu dengan biaya lapak Rp 25.000 per hari. Sementara ketika tidak ada acara, dia biasa berjualan secara keliling, dengan omzet sekitar Rp 250 ribu per hari.
“Omzet jualan keliling Rp 250.000 itu kotor, seporsinya Rp 5.000, tapi lalau di sini kan disuruh (perangkat desa) minta Rp 10.000 seporsi patokannya ya (omzetnya) Rp 500.000 per hari,” kata Eko.
Untuk mendukung aktivitas kawasan, dilakukan juga pengembangan fasilitas pendukung, seperti Taman Kuliner Doho yang baru diresmikan pada Rabu (7/10). Selain itu, terdapat penambahan instalasi panel surya yang digunakan untuk mendukung sistem pemompaan air.
Sistem energi surya tersebut terdiri dari empat unit panel dengan kapasitas 585 watt peak per unit atau total 2.340 watt peak. Energi yang dihasilkan digunakan untuk membantu pompa mengalirkan air dari embung menuju kebun dan persawahan warga.
Ketua Kelompok Darma Wisata (Pokdarwis) Desa Doho, Darmin, mengatakan penggunaan tenaga surya membuat biaya pengairan menjadi lebih hemat dibandingkan ketika petani masih mengandalkan mesin sebelumnya.
“Dulu kan pake pulsa (listrik), sekarang karena sudah ada tenaga matahari kita ngirit,” ujarnya.
Senior Director of Public Affairs, Communications, and Sustainability PT Coca-Cola Indonesia sekaligus Ketua Coca-Cola Foundation Indonesia, Triyono Prijosoesilo, mengatakan pembangunan Embung Doho bermula dari program pengelolaan air yang menyasar daerah dengan persoalan ketersediaan air.
Menurutnya, pemanfaatan air hujan menjadi salah satu pendekatan yang dipilih karena Indonesia memiliki curah hujan yang relatif tinggi, tetapi masih terdapat sejumlah wilayah yang mengalami kesulitan air pada periode tertentu.
“Jadi, kita lihat kenapa kita cuma memanfaatkan teknologi yang simpel, membangun embung, menangkap air hujan dan kemudian pada saat kemarau, itu yang dipakai untuk masyarakat,” kata Triyono.
Embung Doho dibangun melalui kolaborasi Coca-Cola Foundation, Yayasan Obor Tani, dan Desa Doho. Triyono mengatakan pemerintah desa menyediakan lahan untuk pembangunan embung, sementara masyarakat dilibatkan dalam pengelolaan setelah infrastruktur selesai dibangun.
Untuk pembangunan Embung Doho dan Embung Agra Manis di Wonogiri, Coca-Cola Foundation mengalokasikan dana sekitar USD 250 ribu pada 2017 atau Rp 3,32 miliar (dengan kurs Rp 13.305 pada Januari 2017). Setelah pembangunan selesai, pengelolaan embung diserahkan kepada masyarakat melalui kelompok swadaya masyarakat (KSM).
Triyono mengatakan pihaknya kemudian membantu meningkatkan kapasitas masyarakat dalam mengelola embung, termasuk pengaturan pembagian air dan pemeliharaan infrastruktur.
“Setelah selesai infrastrukturnya, ini bukan lagi menjadi miliknya Coca-Cola. Ini adalah miliknya masyarakat,” ujar Triyono.
Triyono bersyukur perkembangan Embung Doho menunjukkan manfaat infrastruktur air dapat meluas dari kebutuhan pertanian menjadi aktivitas ekonomi dan sosial masyarakat. Selain membantu ketersediaan air, kawasan tersebut kini juga dimanfaatkan untuk kegiatan wisata serta menjadi tempat berjualan bagi pelaku UMKM.
“Manfaatnya bukan hanya sekedar airnya saja, ada wisatanya juga bertambah gitu. Jadi, kita lihat lah, kita kira-kiranya, alhamdulillah kita masih ada sedikit resources kita coba bantu kita tambahin Ada solar panel, ada lain-lain,” tutur Triyono.
