Kumparan Logo

Ekspor Minyak dari Timur Tengah Lampaui Level Sebelum Perang AS-Iran

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi minyak mentah. Foto: Anan Kaewkhammul/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi minyak mentah. Foto: Anan Kaewkhammul/Shutterstock

Ekspor minyak dari Timur Tengah, tidak termasuk dari Iran, telah melampaui tingkat sebelum perang pada pekan lalu, meskipun terjadi serangan terhadap kapal-kapal di Selat Hormuz.

Dikutip dari AFP, Senin (5/10), menurut data dari perusahaan pelacakan maritim, Kpler, rata-rata pengiriman mingguan minyak mentah dari Timur Tengah sempat berada di atas rata-rata sebelum konflik, yakni sebesar 18 juta barel per hari selama beberapa hari.

Angka tersebut menembus untuk pertama kalinya sejak AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada akhir Februari 2026.

Salah satu negara yang mengandalkan pasokan dari Timur Tengah adalah Jepang. Perusahaan pengolah minyak Taiyo Oil Co menilai negara Asia Timur tersebut sebaiknya memasok sebagian besar kebutuhan minyak mentahnya dari Timur Tengah demi hemat biaya.

CEO Taiyo, Takahiro Yamamoto, mengatakan strategi nasional seharusnya berfokus pada pembelian minyak mentah sehemat mungkin pada masa damai, sembari tetap menjaga fleksibilitas untuk mendapatkan sumber alternatif saat krisis terjadi.

"Saya memiliki kekhawatiran terkait dorongan berlebihan untuk mendiversifikasi pengadaan minyak mentah, yang membebankan biaya signifikan kepada masyarakat pada masa normal. Lebih baik mengandalkan Timur Tengah untuk memenuhi lebih dari 90 persen kebutuhan Jepang," kata Yamamoto dikutip dari Bloomberg.

Jepang sangat bergantung pada impor energi. Konflik di Timur Tengah telah mengganggu aliran pasokan dari pemasok tradisional di kawasan tersebut akibat ancaman terhadap pelayaran di Selat Hormuz serta kerusakan infrastruktur.

Di tengah konflik yang terus berlanjut, pemerintahan Perdana Menteri Sanae Takaichi berupaya memperluas sumber pasokan dan memperkuat jalur impor alternatif demi meningkatkan ketahanan energi, meskipun langkah ini menuntut biaya yang lebih tinggi.

Yamamoto mengatakan, selama masa perang, industri membuktikan kemampuannya dalam menghadapi gangguan tanpa harus sepenuhnya meninggalkan Timur Tengah, mengingat perusahaan kilang berhasil mengganti pasokan yang hilang dalam waktu sekitar tiga bulan.

"Kondisi ideal bagi sektor energi bukanlah sistem yang lumpuh akibat ketergantungan saat terjadi krisis, melainkan sistem yang tetap aman meskipun ketergantungan itu ada," ujar Yamamoto.

Sebelum perang, ketergantungan Taiyo terhadap Timur Tengah untuk pasokan minyak mentah berada di angka sekitar 40 persen, angka yang jauh lebih rendah dibandingkan para pesaing domestiknya yang lebih besar.

Perusahaan yang mengoperasikan kilang berkapasitas 138.000 barel per hari di Pulau Shikoku tersebut kini telah memangkas angka ketergantungan itu menjadi sekitar 15 persen dengan meningkatkan pasokan dari Amerika Serikat dan Argentina. Menurut Yamamoto, porsi tersebut akan kembali ke angka 40 persen saat kondisi kembali normal.