Energi Bersih di Balik Secangkir Kopi: Saat Local Hero Racik Masa Depan Ulubelu

Secangkir kopi yang tersaji di meja ternyata memiliki perjalanan yang jauh. Di Ulubelu, Kabupaten Tanggamus, Provinsi Lampung, perjalanan itu dimulai dari kebun dan berlanjut hingga proses roasting, penggilingan, pengemasan, sampai akhirnya tersaji di kafe. Dalam setiap tahapnya, energi matahari ikut mengambil peran.
Kopi memang menjadi pintu masuknya. Namun, energi baru terbarukan menjadi penghubung yang membuat perkebunan kopi di Ulubelu bisa saling terintegrasi. Melalui program Desa Energi Berdikari (DEB), Pertamina menghadirkan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) yang menopang aktivitas pengolahan kopi secara terintegrasi.
Ketika pulang kampung dari Yogyakarta, Kukuh membawa lebih dari sekadar pengalaman mengelola kafe sejak tahun 2013. Ada keinginan untuk membangun sesuatu di tanah kelahirannya, sebuah kawasan yang dikenal dengan perkebunan kopi dan potensi energi panas bumi.
Dari sana, ia mulai merangkai satu per satu mata rantai usaha kebun, pengolahan, roastery, sekolah kopi, hingga kafe dalam sebuah program Kopi Beloe. Perjalanan tersebut kemudian berkembang bersama PT Pertamina Geothermal Energy (PGE) Tbk Area Ulubelu.
Kopi Beloe merupakan program pengembangan ekosistem kopi terintegrasi dari hulu hingga hilir yang menghubungkan budidaya, pengolahan, penyimpanan, distribusi, pemasaran, hingga ekspor. Pada aspek hulu, kopi dibudidayakan dengan sistem agroforestri dan tumpang sari bersama komoditas pangan.
“Memang dari awalnya kita bersama PGE Area Ulubelu untuk mewujudkan fair trade. Kemudian karena kebetulan saya juga punya sekolah kopi, di situ akhirnya sering berkomunikasi, ngobrol, dan diskusi. Akhirnya dikembangin itu dari 2017-2018 lah, kita sama-sama bekerja sama di situ,” kata Kukuh saat berbincang bersama kumparan.
Melalui pendampingan yang berlanjut sejak sekitar 2016-2017 dan kini dikembangkan dalam program Desa Energi Berdikari (DEB), usaha kopi tersebut mendapat dukungan teknologi, peralatan, serta PLTS dari Pertamina. Energi matahari pun mulai menggantikan sebagian energi berbasis diesel dalam proses produksi dan mendorong terbentuknya ekosistem yang lebih terintegrasi.
Kukuh menjelaskan, energi dari matahari menggerakkan pengolahan kopi dari hulu ke hilir, dari perkebunan sampai produksi dan pengemasan. Baru ketika dua tahun belakangan, DEB Ulubelu mendiversifikasi produk olahan minuman seduh seperti kunyit asam dan beras kencur.
Pasalnya, siklus musim panen kopi setiap tahunnya sekitar 5 bulan, yakni mulai April hingga Agustus. Sehingga ketika para petani tidak menanam kopi, mereka mengalihkan fokusnya pada tanaman rempah lainnya.
Ia juga membuka kemitraan dengan masyarakat setempat yang membutuhkan jasa roastery atau pasokan biji kopi dengan harga terjangkau. Usahanya juga mencakup sekolah kopi yang bisa memberikan edukasi kepada orang dewasa, tapi juga juga anak-anak sekolahan.
“Mulai dari pengolahan, kafe, roastery, sekolah itu juga jadi satu. Kadang anak-anak SD, TK itu kita ajak untuk keliling. Jadi ada edukasinya dan itu terintegrasi dalam satu area,” jelasnya.
Kukuh ternyata sedari dulu tertarik untuk mengembangkan energi bersih di daerahnya. Buktinya, ia dan warga Ulubelu sekitarnya sempat membuat kincir air untuk memompa air dari dataran rendah ke dataran tinggi untuk memenuhi kebutuhan air masyarakat sekitar. Dari kincir air tersebut, inovasi lain mulai bermunculan dan mendapat bantuan PLTS untuk mendukung produksi kopi serta munculnya inovasi pemanfaatan secara langsung sisa energi panas bumi dari Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) untuk pengeringan biji kopi.
Pemanfaatan PLTS mendukung seluruh proses produksi kopi, mulai dari pengolahan pascapanen, penyangraian (roasting), penggilingan (grinding), hingga pengemasan. Program ini juga didukung dengan pembangunan Dry House Robusta Coffee yang memanfaatkan energi panas bumi secara langsung (direct use geothermal) dan sistem Internet of Things (loT) untuk mengoptimalkan pengendalían suhu dan kelembaban selama proses pengeringan kopi didalam ruangan dryhouse.
“Akhirnya kita ditawari untuk memasang PLTS. hal tersebut sangat setuju, karena memang kita juga pengin pengembangan keberlanjutan yang tadinya dari kita awalnya pakai diesel, sekarang kita usahakan semuanya elektrikal untuk produksi di semua lininya,” kata Kukuh.
Kukuh mengakui terdapat berbagai dampak positif dari penggunaan energi bersih, utamanya penghematan energi. Biasanya, ia mengeluarkan biaya listrik sekitar Rp 1 juta per bulan, kini hampir nihil. Ia sangat mensyukuri hal tersebut karena produksi biji kopi hingga operasional kafe membutuhkan energi yang sangat besar.
“Karena kita watt-nya gede banget. Kita perlunya hampir 15.000 watt. Semua, untuk kafe aja kan kebutuhannya hampir 7.000 watt,” ungkapnya.
Dampak kedua yakni kebermanfaatan untuk sesama. Ia menyebutkan, tempatnya berkreasi dan menggeluti minatnya terhadap dunia kopi ternyata bisa menjadi sarana edukasi dan menarik lebih banyak wisatawan berkunjung ke daerahnya.
“PLTS disini menjadi pusat kunjungan, dapat mengenalkan ke anak-anak SD, SMP, SMA di sekitar, bahkan kemarin juga ada tamu dari Jakarta, Padang, Palembang berkunjung untuk melihat wisata, sekalian wisata energi terbarukan yang terintegrasi,” jelas Kukuh.
Dari kebun hingga secangkir kopi, energi bersih kini mengalir bersama masyarakat Ulubelu. Di tempat yang sejak awal dikenal dengan potensi panas buminya itu, Pertamina melalui program DEB mencoba menghadirkan bentuk kemandirian lain, bukan hanya menghasilkan energi, tetapi menjadikan energi sebagai penggerak ekonomi.
Sebab pada akhirnya, kemandirian energi bukan sekadar soal listrik yang dihasilkan, melainkan seberapa jauh energi tersebut mampu memberi nilai tambah bagi masyarakat yang hidup di sekitarnya.
Sementara itu, VP Corporate Communication Pertamina Muhammad Baron, kehadiran DEB juga dapat menjadi sarana pembelajaran bagaimana energi terbarukan, tidak hanya terkait dengan energi, namun juga menjadi fondasi kemandirian energi.
"DEB Ulubelu misalnya yang menjadi lokasi kunjungan pelajar. Ini bisa menjadi sarana untuk mengajarkan kepada generasi muda bagimana energi terbarukan itu dapat menjadi bagian dari keseharian kehidupan kita," ujar Baron.
