Harga Emas Global Melemah, Serangan AS ke Iran Picu Kekhawatiran Inflasi

Harga emas melemah setelah serangan Amerika Serikat (AS) terhadap Iran memasuki hari kedua. Eskalasi tersebut mendorong lonjakan harga energi, sekaligus memicu kekhawatiran tekanan inflasi akan semakin meningkat.
Harga emas ada di kisaran USD 4.080 per ounce setelah mencatat penurunan selama tiga hari berturut-turut. Serangan terbaru dilakukan hanya beberapa jam setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan kesepakatan gencatan senjata dengan Iran telah berakhir.
Komando Pusat AS menyebut serangan itu bertujuan melemahkan kemampuan Iran mengganggu jalur pelayaran di Selat Hormuz. Sementara itu, Teheran mengancam akan melancarkan operasi balasan berskala besar terhadap pangkalan-pangkalan militer AS di Timur Tengah.
Di saat yang sama, harga minyak melonjak setelah Washington mencabut kebijakan pengecualian yang sebelumnya memungkinkan Iran tetap menjual minyak mentah ke pasar global.
Bagi pelaku pasar emas, meningkatnya perang di Timur Tengah memunculkan kekhawatiran bahwa Federal Reserve (The Fed) harus mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama untuk mengendalikan inflasi. Risalah rapat The Fed pada Juni yang dirilis Rabu (8/7) menunjukkan beberapa pejabat sempat mempertimbangkan kenaikan suku bunga, meski pada akhirnya memutuskan untuk mempertahankannya.
Secara umum, risalah itu juga mencerminkan meningkatnya kekhawatiran para pejabat bank sentral AS terhadap inflasi, sementara kekhawatiran mengenai kondisi pasar tenaga kerja mulai sedikit mereda. Suku bunga yang lebih tinggi biasanya menjadi sentimen negatif bagi emas karena logam mulia tersebut tidak memberikan imbal hasil seperti instrumen berbunga.
Analis Vantage Markets di Melbourne, Hebe Chen, mengatakan pembukaan perdagangan emas yang cenderung tenang pada Kamis (9/7) lebih mencerminkan sikap menunggu daripada kondisi pasar yang benar-benar stabil.
“Situasi ini terasa lebih seperti keraguan sebelum badai baru daripada ketenangan yang sesungguhnya. Pasar sudah mendengar alarm dari Timur Tengah, tetapi belum memperlakukannya sebagai krisis besar,” ujar Chen, dikutip dari Bloomberg.
Harga emas telah merosot lebih dari 20 persen sejak perang Iran dimulai pada akhir Februari. Aksi ambil untung mengakhiri tren kenaikan emas yang telah berlangsung selama tiga tahun dan mendorong harganya kembali turun di bawah level USD 4.000 per ounce. Meski demikian, hingga kini belum terlihat adanya peningkatan signifikan posisi jual dari investor yang memperkirakan harga emas akan terus melemah.
Menurut Chen, pelaku pasar kini mencermati apakah risiko geopolitik tersebut hanya akan menjadi sentimen jangka pendek atau berkembang menjadi siklus ketegangan geopolitik baru dengan dampak yang lebih luas.
“Para trader sedang mengamati apakah risiko ini hanya sebatas kejutan akibat berita atau menjadi awal dari siklus ketegangan geopolitik baru, serta seberapa besar dampak lanjutannya. Sebelum ada kepastian itu, harga emas kemungkinan masih akan bergerak terbatas,” jelas Chen.
Pada perdagangan spot pukul 07.48 waktu Singapura, harga emas turun tipis 0,1 persen menjadi USD 4.073,48 per ounce. Sementara itu, harga perak naik 0,2 persen menjadi USD 58,39 per ounce.
Harga platinum dan paladium juga menguat tipis, sedangkan Bloomberg Dollar Spot Index, yang mengukur pergerakan dolar AS terhadap sejumlah mata uang utama, relatif tidak berubah setelah ditutup sedikit melemah pada sesi sebelumnya.
