Kumparan Logo

Harga Minyak Mentah Melemah Usai Badan Energi Percepat Lepas Cadangan

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi minyak mentah. Foto: Artem Oleshko/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi minyak mentah. Foto: Artem Oleshko/Shutterstock

Harga minyak mentah global ditutup melemah pada Rabu (7/10), setelah bergerak fluktuatif sepanjang perdagangan. Pelemahan ini terjadi setelah Badan Energi Internasional (IEA) sepakat mempercepat pelepasan stok minyak dan memprioritaskan penyaluran diesel untuk menekan harga bahan bakar yang telah mencapai rekor tertinggi, di tengah perang Iran yang memperketat pasokan global.

Mengutip Reuters, harga minyak mentah Brent ditutup turun 38 sen atau 0,38 persen menjadi USD 100,20 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat (AS) ditutup melemah USD 1,16 atau 1,3 persen menjadi USD 88,28 per barel.

IEA menyatakan penyelesaian pelepasan stok minyak yang telah diumumkan sebelumnya secepat mungkin dapat membawa sekitar 100 juta barel ke pasar. Namun, sejumlah analis dan pemerintah menilai angka tersebut tidak serta-merta mencerminkan adanya intervensi baru dengan volume sebesar itu.

Radio Franceinfo melaporkan pada Rabu (7/10), dengan mengutip sumber yang tidak disebutkan namanya, bahwa Prancis akan melepas 10 juta barel diesel dari cadangan strategisnya.

“Eropa adalah pusat dari keseluruhan krisis pasokan ini, dan pelepasan stok tersebut menyasar persoalan itu serta sedikit meredakan tekanan terhadap kebutuhan WTI. Hal ini seharusnya mengurangi sebagian tekanan pada pasokan AS,” kata mitra di Again Capital, John Kilduff.

Sementara itu, menurut Badan Informasi Energi AS (EIA), persediaan minyak mentah dan produk distilat AS turun, sedangkan stok bensin meningkat pada pekan lalu.

EIA melaporkan persediaan minyak mentah AS turun 3,2 juta barel menjadi 424,1 juta barel pada pekan yang berakhir 2 Oktober. Angka ini berlawanan dengan perkiraan analis dalam jajak pendapat Reuters yang memperkirakan persediaan justru naik 1,7 juta barel.

Di sisi lain, investor belum yakin kenaikan pasokan dan ekspor dari Timur Tengah belakangan ini dapat bertahan. Analis PVM Tamas Varga mengatakan harga minyak juga mendapat dukungan dari badai yang mendekati AS serta konflik yang masih berlangsung di Timur Tengah dan Ukraina.

Menurut Kementerian Transportasi negara tersebut, kelompok Houthi Yaman menyerang Bandara Internasional Aden menggunakan rudal dan pesawat nirawak. Serangan itu terjadi ketika pertempuran antara kelompok yang bersekutu dengan Iran dan pasukan pemerintah yang didukung Arab Saudi semakin intensif.

Kilduff mengatakan, serangan di Timur Tengah telah membatasi penurunan harga Brent dibandingkan dengan minyak mentah berjangka AS.

Seorang pejabat senior Iran mengatakan kepada Reuters bahwa “permintaan dan gagasan” AS mengenai program nuklir Iran bertentangan dengan tuntutan Teheran. Pernyataan itu disampaikan ketika pejabat tersebut dimintai tanggapan atas pernyataan Wakil Presiden AS JD Vance mengenai Iran harus menghentikan pengayaan uranium untuk mengakhiri perang.

Pejabat Ukraina menyatakan menyerang dua fasilitas minyak Rusia, sementara Rusia melancarkan serangan bertubi-tubi menggunakan rudal dan pesawat nirawak ke Ukraina hingga menewaskan sedikitnya 15 orang, menurut pejabat Ukraina.

CEO Vitol Russell Hardy pada Selasa (6/10) mengatakan serangan terhadap infrastruktur energi Rusia dan hilangnya aktivitas pengolahan minyak di Timur Tengah telah memperketat pasar bahan bakar.

Badai Diperkirakan Mendekati Fasilitas Produksi Minyak AS

Di AS, para prakirawan cuaca pada Selasa (6/10) mengatakan badai yang terbentuk di Teluk Meksiko diperkirakan akan menjadi badai Atlantik pertama pada 2026 dalam dua hari ke depan. Badai itu juga berpotensi menghantam fasilitas minyak dan gas.

Menurut EIA, wilayah Teluk Meksiko AS memproduksi 2,05 juta barel minyak mentah per hari pada September, atau sekitar 15 persen dari total produksi minyak AS.

Berdasarkan model prakiraan perusahaan konsultan Earth Science Associates, sekitar 11,2 juta barel produksi minyak di wilayah Teluk Meksiko berpotensi hilang selama badai berlangsung. Angka ini jauh lebih besar dibandingkan dampak Badai Tropis Bertha pada Juli yang memengaruhi produksi sebesar 7,1 juta barel.

“Badai ini menjadi komplikasi yang tidak diharapkan bagi pasar minyak mentah, karena meningkatkan risiko gangguan produksi dan pengolahan pada saat pasar sudah menghadapi cukup banyak persoalan dari sisi pasokan,” kata Kepala Analis KCM Trade Tim Waterer.