Kumparan Logo

Harga Minyak Mentah Menguat Tipis Imbas Ketidakpastian Pasokan dari Timur Tengah

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi minyak mentah. Foto: Alexander Knyazhinsky/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi minyak mentah. Foto: Alexander Knyazhinsky/Shutterstock

Harga minyak mentah menguat pada perdagangan Kamis (1/10), karena ketidakpastian mengenai apakah pemulihan pasokan minyak mentah dari Timur Tengah dapat berkelanjutan.

Dikutip dari Bloomberg, harga minyak Brent untuk pengiriman Desember naik 0,2 persen menjadi USD 98,21 per barel pada pukul 08.18 di Singapura. Harga West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman November sedikit berubah di angka USD 90,42 per barel.

Pada penutupan perdagangan Rabu (30/9), kontrak Brent untuk Desember naik 1,9 persen menjadi USD 98,03 per barel. Harga minyak mentah WTI untuk pengiriman November naik 1,2 persen dan ditutup pada USD 90,42 per barel.

Analis dan pedagang Wall Street mengatakan pasokan minyak mentah dari Timur Tengah mendekati level sebelum perang, meskipun pasokan bahan bakar belum pulih sepenuhnya. Serangan terhadap kapal dagang serta serangan terhadap jalur pipa Timur-Barat Arab Saudi, mempersulit menentukan berapa banyak minyak yang diekspor oleh produsen Teluk.

Harga minyak mentah naik untuk bulan ketiga berturut-turut pada bulan September, karena Washington dan Teheran gagal mencapai kesepakatan perdamaian yang akan sepenuhnya membuka kembali Selat Hormuz. Presiden AS Donald Trump mengatakan bahwa AS memiliki kendali penuh atas jalur air tersebut dan akan segera memberikan jawaban kepada Iran.

“Pasar mendapatkan sedikit kelegaan dari peningkatan pasokan, tetapi tanpa jalur yang kredibel menuju kesepakatan yang langgeng, keuntungan tersebut bisa bersifat sementara. Lebih banyak barel yang mengalir minggu ini tidak menjamin aliran yang sama minggu depan," kata pedagang energi senior di CIBC Private Wealth Group, Rebecca Babin.

Goldman Sachs Group Inc. memperkirakan sekitar 23 juta barel minyak per hari meninggalkan Timur Tengah dalam seminggu terakhir, baik melalui Selat Hormuz maupun jalur ekspor lainnya seperti Laut Merah. Angka tersebut sejalan dengan rata-rata tahun lalu.

Negosiasi yang berlangsung berbulan-bulan, yang dimulai oleh AS dan Israel pada Februari, untuk mengakhiri perang, telah membuat harga minyak berjangka rentan terhadap fluktuasi besar, sehingga menyulitkan para pedagang untuk mengambil posisi dalam pergerakan besar.

Selain itu, terjadi kekurangan yang signifikan di pasar bahan bakar yang mendorong permintaan minyak mentah karena kilang-kilang berusaha menghasilkan sebanyak mungkin barel. Data persediaan minyak AS yang diterbitkan pada Rabu oleh Badan Informasi Energi tidak membantu memperbaiki gambaran tersebut.

Menurut badan tersebut, persediaan distilat berada pada level musiman terendah sepanjang sejarah, di tengah spekulasi tentang apakah Gedung Putih akan memberlakukan larangan total terhadap ekspor diesel. Persediaan bensin di wilayah Midwest AS juga berada pada level terendah yang pernah tercatat.

Menteri Energi Chris Wright mengatakan pada Rabu bahwa Eropa akan segera membuat pengumuman tentang "pasokan diesel baru yang akan masuk ke pasar." Sementara itu, Trump mengatakan dia sedang mempertimbangkan potensi dampak negatif dari larangan ekspor bahan bakar tersebut.