Hashim Nilai Masa Depan RI Cerah, Ekonomi Tumbuh hingga Tak Terlibat Konflik

Utusan Khusus Presiden Republik Indonesia Bidang Iklim dan Energi, Hashim Djojohadikusumo, menilai masa depan Indonesia cerah. Ia membantah kalau ada anggapan Indonesia bakal menjadi negara gagal.
“Istilah Indonesianya adalah Indonesia gelap. Ada yang mengatakan Indonesia sedang menuju menjadi negara gagal. Menurut saya, Indonesia memang sedang menghadapi berbagai persoalan. Namun, Indonesia memiliki masa depan yang cerah,” ujar Hashim dalam pidatonya di Indonesia International Sustainibility Forum 2026 di Jakarta pada Selasa (6/10).
“Indonesia memiliki masa depan yang sangat cerah karena banyak alasan. Pertumbuhan ekonomi kita, demografi kita, kondisi geografis kita, fakta bahwa kita tidak terlibat dalam konflik apa pun,” tambahnya.
Dari sisi pangan, Hashim memastikan kondisinya juga aman. Bahkan, kata Hashim, jika ada pandemi COVID-19 kembali di masa depan, Indonesia bakal mampu bertahan.
“Namun jika terjadi COVID berikutnya, Indonesia adalah salah satu negara yang akan mampu bertahan menghadapi COVID berikutnya. Dan Prabowo secara pribadi mengatakan kepada saya bahwa kita harus mempersiapkan diri menghadapi COVID berikutnya. Entah itu terjadi 10 tahun dari sekarang, 10 bulan dari sekarang, atau 100 tahun dari sekarang, Indonesia harus siap,” ujar Hashim.
Dalam kesempatan yang sama, Ketua Umum Kadin Indonesia, Anindya Bakrie, juga menjelaskan saat ini memang ada tantangan terkait stabilitas geopolitik. Meski demikian, investasi terhadap transisi energi justru naik.
“Kadin juga melihat investasi dalam transisi energi global terus meningkat meskipun terdapat ketegangan geopolitik. Investasi global untuk transisi energi pada 2025 mencapai rekor USD 2,3 triliun,” ujar Anindya.
Indikator lain yang menunjukan bahwa investasi terkait transisi energi naik di tengah kondisi geopolitik yang tak stabil adalah belanja global untuk transportasi berbasis elektrik. Anindya mengungkapkan nilainya meningkat hingga USD 900 miliar atau naik dari USD 741 miliar di tahun sebelumnya.
Selain itu, Anindya juga menjelaskan peluang ekonomi dari Net Zero Indonesia mencapai USD 3,8 triliun hingga 2050. Untuk itu, ia ingin Kadin Indonesia mengoptimalkan peluang tersebut.
