Implementasi B50 Capai 94% hingga Awal September, Tersalurkan 3,4 Juta Kiloliter

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat realisasi penyaluran biodiesel 50 persen (B50) per awal September 2026 mencapai 94 persen.
Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE), Eniya Listiani Dewi, mengatakan mandatori B50 sudah dimulai sejak 1 Juli 2026, tetapi masih dalam masa transisi selama 3 bulan untuk menghabiskan stok B40 yang disalurkan sejak 1 Januari 2024.
Dari total 104 titik serah, Eniya menyebutkan bahwa status penyaluran B50 hingga pekan ini sudah dilakukan melalui 76 lokasi titik serah sehingga tersisa 28 terminal masih dalam masa transisi dari B40 ke B50.
"Kalau kita melihat jumlah SPBU di Indonesia menurut data dari Patra Niaga, ini sudah ada 94 persen dan yang sudah menyalurkan sekitar 6.050 lokasi, 362 masih dalam masa transisi," ungkap Eniya saat Rapat dengan Komisi XII DPR, Selasa (8/9).
Eniya mengungkapkan dari sisi volume, biodiesel yang sudah tersalurkan sebanyak 10,69 juta kiloliter (KL) hingga 7 September ini, mencakup penyaluran B40 sejak 1 Januari 2026 mencapai 7,27 juta KL dan B50 sejak 1 Juli 2026 sebanyak 3,4 juta KL.
Eniya menargetkan penyaluran biodiesel hingga akhir Desember 2026 bisa mencapai 16,8 juta KL. Rinciannya yakni subsidi (PSO) sebesar 8,23 juta KL dan non-PSO sebanyak 8,51 juta KL.
"Kita masih melihat targetnya ketersediaan FAME yang bisa dipenuhi oleh badan usaha bahan bakar nabati, itu antara 16,8 juta kiloliter sampai dengan 18 juta kiloliter," kata Eniya.
Proses transisi dari B40 menuju B50 dilaksanakan hingga akhir September 2026, sebagai ruang untuk badan usaha menghabiskan pasokan B40 yang masih tersisa baik di terminal maupun SPBU dan menyelesaikan proses uji coba di sektor kereta api.
"Kalau untuk yang lain untuk sektor otomotif, sektor alsintan, sektor alat berat pertambangan, angkutan laut, dan pembangkit listrik atau genset telah selesai dilaporkan dan saat ini kami masih menunggu beberapa hasil yang dari perkeretaapian, Jadi targetnya selesai di Desember 2026," tuturnya.
Sementara itu, Direktur Utama PT Pertamina Patra Niaga, Mars Ega Legowo, mengatakan dari total 121 terminal BBM, sudah ada 120 terminal menyalurkan B50 alias tinggal 1 terminal lagi di Kalimantan Barat.
"Satu terminal yang saat ini belum menyalurkan B50 adalah Terminal Sintang. Ini karena ada faktor cuaca di mana kami masih ada kesulitan untuk masuk alur sungai di terminal Sintang, karena faktor kendala musim kemarau sehingga beberapa sungai ini mengalami penyusutan," ungkap Mars Ega.
Mars Ega menjelaskan hingga 5 September 2026 sudah 94 persen SPBU Pertamina yang menyalurkan B50. Dari total 6.412 SPBU yang mendistribusikan Biosolar, sebanyak 6.050 SPBU telah mendistribusikan B50.
"Masih terdapat 362 SPBU yang mendistribusikan B40 ini karena faktor handling dan distribusi khususnya ini sebagian besar ada di wilayah-wilayah yang remote area," jelas Mars Ega.
Mars Ega memaparkan operasional Pertamina Patra Niaga di wilayah Sumatera bagian utara sudah 96 persen SPBU menyalurkan B50, lalu 93 persen di wilayah Sumbagsel.
Untuk SPBU di wilayah Jawa bagian barat sudah 99 persen menyalurkan B50, Jawa bagian tengah sudah 98 persen menyalurkan B50, kemudian wilayah Kalimantan 95 persen, Sulawesi 96 persen, Jatimbalinus 96 persen. Sementara wilayah Papua dan Maluku belum dipaparkan datanya.
"Secara umum kami tidak mengalami kendala distribusi namun memang saat ini dengan adanya disparitas harga yang cukup tinggi antara biosolar B50 subsidi dengan produk-produk non-subsidi tentu saat ini ada peningkatan demand dari sektor biosolar subsidi," tutur Mars Ega.
