Mendag Targetkan Neraca Perdagangan RI Surplus Terus hingga Akhir 2026

Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso menargetkan neraca perdagangan Indonesia kembali mencatatkan surplus secara berkelanjutan hingga akhir 2026.
Budi menekankan neraca perdagangan kembali surplus pada Juli 2026 senilai USD 120 juta, setelah sebelumnya mengalami defisit pada Mei dan Juni. Indonesia juga sebelumnya telah membukukan surplus neraca perdagangan selama 72 bulan berturut-turut sebelum mengalami defisit pada Mei dan Juni.
“Nah harapan kita ya sampai seterusnya menjadi surplus lagi, karena kemarin memang salah satu faktor utamanya adalah (defisit) bulan Maret April itu kan harga minyak sangat tinggi, mudah-mudahan harga minyak ini terkontrol,” ujar Budi saat ditemui usai Peluncuran Cetak Biru Pengembangan SDM Perdagangan di Kementerian Perdagangan, Jakarta Pusat, Rabu (2/9).
Di sisi lain, Budi juga menilai surplus perdagangan nonmigas masih terus menopang neraca perdagangan Indonesia. Katanya, kondisi itu dapat membantu mengimbangi defisit pada sektor migas.
“Kita kan karena defisit migasnya aja tapi surplus nonmigas tetap jalan. Target kita begitu (hingga akhir tahun surplus), kita maunya nggak sampai akhir tahun, sampai seterusnya ya surplus terus,” ungkap Budi.
Untuk menjaga surplus tetap berlanjut, Budi menilai peningkatan ekspor menjadi salah satu faktor utama yang perlu didorong. Ia berharap surplus nonmigas dapat terus meningkat sehingga mampu menopang neraca perdagangan secara keseluruhan.
Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan kinerja neraca perdagangan Indonesia pada Juli 2026 mencatatkan surplus. Sepanjang Juli 2026, neraca perdagangan surplus USD 120 juta. Surplus tersebut terutama ditopang oleh kinerja perdagangan komoditas nonmigas yang mencatat surplus sebesar USD 3,10 miliar.
BPS menjelaskan surplus perdagangan nonmigas terutama berasal dari komoditas lemak dan minyak hewan nabati (HS15), bahan bakar mineral (HS27), serta besi dan baja (HS72). Sementara itu, perdagangan komoditas migas pada Juli 2026 masih mengalami defisit sebesar USD 2,98 miliar.
Secara kumulatif, neraca perdagangan barang Indonesia pada periode Januari-Juli 2026 mencatat surplus sebesar USD 3,70 miliar. Surplus tersebut terutama berasal dari perdagangan nonmigas yang mencapai USD 22,45 miliar.
