Mengenal PLN Batam, Anak Usaha PLN yang Mau Diambil Alih Danantara

Danantara berencana mengambil alih PLN Batam menyusul pemadaman listrik di wilayah Batam selama belasan jam pada Senin (12/10).
PLN Batam merupakan anak usaha PT PLN (Persero) yang mengelola penyediaan listrik secara mandiri dari hulu hingga hilir. Perusahaan ini memiliki wilayah kerja di Batam, Rempang, Galang, dan sejumlah wilayah lainnya.
Berbeda dari pengelolaan kelistrikan PLN secara umum, PLN Batam dibentuk sebagai unit usaha mandiri seiring status Batam sebagai kawasan perdagangan bebas dan pelabuhan bebas atau Free Trade Zone (FTZ).
Berdasarkan informasi perusahaan, operasionalnya dijalankan tanpa subsidi dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Sejarah PLN Batam
Pengelolaan kelistrikan di Batam bermula pada 1971, ketika Pertamina dipercaya mengelola kawasan industri Pulau Batam. Saat itu, listrik dipasok menggunakan pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) berkapasitas terpasang 2 x 188 kVA. Pasokan listrik masih terbatas untuk kebutuhan Pertamina dan perumahan karyawannya.
Pada 1976, pemerintah membentuk Otorita Pengembangan Daerah Industri Pulau Batam (OPDIPB). Pengelolaan kelistrikan yang sebelumnya berada di bawah Pertamina kemudian dialihkan ke Otorita Batam melalui Unit Pelaksana Teknis Otorita Batam. Pada periode tersebut, kapasitas pembangkit listrik masih sekitar 17,5 megawatt (MW).
Batam mulai dikerahkan menjadi kawasan industri di bawah kepemimpinan B.J. Habibie sebagai Ketua Otorita Batam sejak 1978. Pembangunan pembangkit listrik pun dilakukan di Sekupang dan Batuampar untuk memenuhi kebutuhan listrik sektor industri dan usaha. Kapasitas daya yang terpasang pada periode 1976-1992 mencapai 45,5 MW.
Seiring perkembangan Batam sebagai kawasan industri dan meningkatnya minat investor asing, pengelolaan kelistrikan kemudian dialihkan kepada PT PLN (Persero) Wilayah Khusus Batam pada 1 Januari 1993.
Status perusahaan berubah pada 3 Oktober 2000 menjadi PT Pelayanan Listrik Nasional Batam atau PT PLN Batam dengan status sebagai anak usaha PLN dan kewenangan mengelola bisnis kelistrikan secara mandiri dari hulu hingga hilir.
Kapasitas dan Wilayah Operasi
PLN Batam tidak hanya memasok listrik untuk Pulau Batam. Perusahaan turut mendukung pasokan listrik ke Pulau Bintan melalui proyek interkoneksi Batam-Bintan pada 2015. Interkoneksi merupakan penghubung jaringan listrik antardaerah agar pasokan energi dapat disalurkan dari satu wilayah ke wilayah lain.
D listrik yang dialirkan dari Batam ke Bintan mencapai 20 MW melalui gardu induk Tanjung Uban pada tahap awal. Menurut riwayat perusahaan, pasokan listrik yang dikirim ke Bintan kemudian mencapai sekitar 60-80 MW.
Berdasarkan data perusahaan hingga semester I 2021, PLN Batam memiliki kapasitas terpasang sekitar 623,286 MW dan daya mampu sekitar 551 MW. Sementara, beban puncak sistem Batam-Bintan mencapai 465 MW.
Selain memasok listrik di wilayah usahanya, PLN Batam pernah mendapat penugasan dari PLN untuk mendukung program pembangunan pembangkit listrik 35.000 MW. Perusahaan berpartisipasi melalui penyediaan pembangkit listrik bergerak atau Mobile Power Plant (MPP) berbahan bakar gas dengan total kapasitas 500 MW di sejumlah wilayah usaha PLN.
Rencana Pengambilalihan oleh Danantara
Rencana pengambilalihan PLN Batam oleh Danantara muncul setelah pemadaman listrik yang berlangsung selama belasan jam pada Senin (12/10). Pergantian pucuk pimpinan PLN pun terjadi usai pemadaman massal tersebut.
Darmawan Prasodjo digantikan oleh Suroso Isnandar sebagai Direktur Utama PLN. Suroso juga masih merangkap jabatan sebagai Direktur Manajemen Proyek dan Energi Baru Terbarukan PLN.
Dalam merespons gangguan listrik di Batam, pemerintah menyampaikan permintaan maaf dan menyatakan akan membenahi manajemen PLN. Rencana pengambilalihan PLN Batam oleh Danantara disebut diarahkan untuk memperbaiki layanan kelistrikan sekaligus memperkuat daya tarik investasi di wilayah tersebut.
