Kumparan Logo

Menteri PU Minta Pantau Sungai Mahakam Surut yang Ganggu Angkutan Pangan-BBM

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Menteri PU, Dody Hanggodo di Kantor Kementerian PU, Jakarta pada Rabu (22/7/2026). Foto: Argya Maheswara/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Menteri PU, Dody Hanggodo di Kantor Kementerian PU, Jakarta pada Rabu (22/7/2026). Foto: Argya Maheswara/kumparan

Menteri Pekerjaan Umum (Menteri PU) Dody Hanggodo meminta Balai Wilayah Sungai (BWS) IV Samarinda intensif memantau kondisi Sungai Mahakam yang saat ini surut karena musim kemarau. Dody mengatakan pemantauan tersebut jadi bagian mitigasi.

Dody mengakui musim kemarau panjang yang dipicu fenomena El Nino mulai berdampak terhadap kondisi Sungai Mahakam. Penurunan debit air sungai terbesar di Kalimantan Timur tersebut tidak hanya berpengaruh ke kondisi sumber daya air, tetapi juga menghambat transportasi sungai yang selama ini menjadi jalur penting mobilitas masyarakat dan distribusi kebutuhan pokok.

“Kami instruksikan Balai Wilayah Sungai (BWS) untuk terus memantau kondisi Sungai Mahakam. Hal ini sebagai langkah mitigasi dampak kemarau,” kata Dody melalui keterangan tertulis, Jumat (4/9).

Dody mencatat secara umum, Kalimantan Timur memiliki curah hujan tahunan yang cukup tinggi, yakni berkisar 3.600-3.700 milimeter. Namun, memasuki puncak musim kemarau Juli-Agustus 2026 terjadi penurunan curah hujan yang cukup signifikan. Pada Juli 2026, curah hujan tercatat hanya sekitar 289 milimeter. Angka tersebut kemudian turun drastis menjadi 25 milimeter pada Agustus 2026.

Minimnya hujan turut menyebabkan debit Sungai Mahakam mengalami penurunan, terutama di wilayah hulu. Sementara di bagian hilir, debit sungai juga mengalami penurunan, namun fluktuasinya relatif lebih stabil. Kondisi tersebut dipengaruhi efek damping atau peredaman, baseflow dari anak-anak Sungai Mahakam yang berasal dari sejumlah kabupaten lain, serta pengaruh pasang surut.

Kondisi terkini sungai mahakam di Mahakam Ulu, Kalimantan Timur. Foto: Dok. Istimewa

Kepala BWS IV Samarinda, Andri Rachmanto Wibowo menyampaikan bahwa penurunan muka air Sungai Mahakam berdampak langsung terhadap transportasi air yang selama ini digunakan untuk mengangkut penumpang, bahan pangan dan bahan bakar minyak (BBM).

“Dengan kondisi muka air sungai saat ini, transportasi air hanya dapat melayani hingga Kecamatan Tering, Kabupaten Kutai Barat,” ujar Andri.

Menurutnya, hal ini menyebabkan pendistribusian bahan pangan dan BBM menuju Kabupaten Mahakam Ulu mengalami kendala. Jalur darat menjadi satu-satunya akses distribusi yang dapat digunakan, dengan waktu tempuh mencapai sekitar 2x24 jam. Terbatasnya akses distribusi juga berdampak pada ketersediaan BBM dan kenaikan harga kebutuhan pokok masyarakat.