Kumparan Logo

Pendapatan Asuransi Umum Turun 0,5% pada Semester I 2026, Beban Klaim Naik 29%

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Wakil Ketua Bidang Statistik, Riset, dan Analisis AAUI, Heri Supriyadi, dalam konferensi pers AAUI Triwulan II di Jakarta, Jumat (4/9/2026). Foto: Najma Ramadhanya/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Wakil Ketua Bidang Statistik, Riset, dan Analisis AAUI, Heri Supriyadi, dalam konferensi pers AAUI Triwulan II di Jakarta, Jumat (4/9/2026). Foto: Najma Ramadhanya/kumparan

Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) membeberkan kinerja hingga semester I 2026. Berdasarkan data per Juni 2026, pendapatan asuransi umum ada di Rp 58,501 triliun atau terkoreksi tipis 0,5 persen dibandingkan periode sebelumnya secara tahunan atau year on year (yoy) yang ada di Rp 58,5195 triliun.

“Menurut catatan kami di posisi Juni 2026 dibandingkan dengan posisi Juni tahun 2025, itu turun 0,5 persen,” kata Wakil Ketua Bidang Statistik, Riset, dan Analisis AAUI, Heri Supriyadi, dalam konferensi pers AAUI Triwulan II di Jakarta, Jumat (4/9).

Penurunan terbesar terjadi pada lini properti dengan selisih penurunan mencapai Rp 2,44 triliun atau 13,6 persen menjadi Rp 15,5 triliun, diikuti lini engineering yang berkurang Rp 391 miliar atau 14,1 persen menjadi Rp 2,3 triliun.

Heri menyatakan penurunan pendapatan premi di sektor asuransi umum ini terutama dipicu oleh melemahnya perolehan dari lini asuransi properti. Penurunan signifikan pada lini tersebut disumbang oleh dua hingga tiga perusahaan asuransi yang mengalami kontraksi cukup dalam.

“Yang properti itu lebih karena siklus bisnis normal karena dibangun oleh tiga perusahaan asuransi besar,” ucap Heri.

Kemudian, beban klaim melonjak sebesar 29,2 persen, dengan lini asuransi properti yang masih menjadi kontributor utama untuk lonjakan persentase kenaikan klaim tertinggi yaitu 75,9 persen.

“Untuk yang klaim yang paling tinggi tentu masih dipegang oleh properti paling tinggi dan kemudian yang kedua adalah kredit. Terus yang ketiga adalah engineering,” lanjut Heri.

Total pembayaran klaim industri membengkak dengan selisih kenaikan capai Rp 6,18 triliun atau naik 29,2 persen, dari Rp 21,1 triliun pada kuartal II 2025 menjadi Rp 27,3 triliun pada kuartal II 2026.

Lini properti mencatatkan lonjakan klaim terbesar dengan selisih Rp 2,49 triliun atau naik 75,8 persen menjadi Rp 5,7 triliun. Selisih kenaikan tinggi juga terjadi pada lini credit insurance sebesar Rp 2,28 triliun, naik 32,7 persen sehingga nilainya menjadi Rp 9,2 triliun.

Di sisi lain, industri reasuransi mencatatkan penurunan pendapatan premi yang juga terkoreksi hingga 16,2 persen pada kuartal II2026 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Lini bisnis asuransi properti yang selama ini menjadi penopang utama justru terkoreksi hingga 15,9 persen. Penurunan ini disusul oleh lini asuransi kredit yang merosot sebesar 19,4 persen. Tekanan paling tajam melanda segmen energy on shore yang membukukan nilai premi minus Rp 4 miliar, atau anjlok drastis mencapai 105,1 persen.

“Sementara klaimnya ada perbaikan yaitu 5,7 persen,” tutur Heri.

Berdasarkan paparan Heri, dalam hal penguasaan pasar asuransi umum per Juni 2026, data komposisi pangsa pasar premi menunjukkan lini usaha properti mendominasi dengan pangsa pasar sebesar 26,6 persen. Posisi berikutnya diisi oleh asuransi kendaraan bermotor dengan 16,9 persen, asuransi kredit sebesar 16 persen, dan asuransi kesehatan yang berkontribusi 10,8 persen.