Konten dari Pengguna

Pengalaman ke Singapura yang Terpaksa Aku Ceritakan

Moh Fajri

Moh Fajriverified-green

Editor kumparanBisnis

clock
comment
13
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Moh Fajri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Saya minta maaf kalau cerita kali ini terlalu panjang.

Pengalaman ke Singapura yang Terpaksa Aku Ceritakan
zoom-in-whitePerbesar

Semua bermula saat Mas Habibi, Korlipku, bertanya punya paspor atau enggak? Aku yang sore itu menyusun tulisan di Balai Kota langsung berhenti seketika dan dengan cepat membalasnya “Iya mas punya mas,” jawabku.

“Ambil ini Jri. Santai. Makan dan nginap doang,” balas Mas Habibi sembari mengirimkan undangan.

Tanpa tedeng aling-aling, langsung aku klik undangan tersebut. Kecepatan wifi Bengkel Jurnalis Balai Kota cukup membantu mempercepat mengunduh undangan itu. Kop suratnya tertulis Marina Bay Sands Singapore.

Tunggu, aku harus membaca secara pelan-pelan surat itu. Sebab, keseluruhan undangan itu ditulis menggunakan Bahasa Inggris. Aku khawatir ada titik atau koma yang terlewatkan sehingga salah penafsiran. Setelah anggap saja sudah paham isi surat tersebut, aku langsung menyatakan siap berangkat.

Sore itu langsung aku bertanya ke teman-temanku yang sudah pernah ke Singapura. Aku cari di Google, Marina Bay Sands itu tempat apaan. Eh ladalah itu ternyata hotel tinggi menjulang yang atasnya ada kolam renang panjang itu toh. Wagilah ini aku bakalan ke sana toh.

Berbagai persiapan aku lakukan jelang sebulan keberangkatan. Yang paling nyata, aku mulai mengunduh aplikasi kamus yang bisa menerjemahkan Bahasa Inggris ke Indonesia dan sebaliknya. Aku buka YouTube, lihat-lihat film berbahasa Inggris tanpa subtitle. Hasilnya sudah bisa ditebak, aku enggak paham apa yang diomongin, tapi setidaknya ngerti maksud filmnya.

Aku dengerin lagu-lagu berbahasa Inggris. Setelah berulang kali mendengar lagu berbahasa Inggris, aku tetap enggak paham dan enggak mengerti maksudnya. Ternyata memang lebih mudah meresapi lagu ‘Sewu Kutho atau Kalung Emas’-nya Didi Kempot.

Selain itu, aku juga mengasah kembali ke-expert-anku perihal speaking Bahasa Inggris. Setidaknya aku mulai mempraktikkannya dengan Iqbal. Iya, Iqbal itu yang tato di tangannya katanya mirip Simon McMenemy tapi kelakuannya mirip Simic. Iya, Iqbal Firdaus bukan Iqbal Ramadhan.

Iqbal dengan telaten menemaniku berkomunikasi dengan bahasa asing. Terkadang dia terlihat kesulitan mengimbangi ‘expert’nya aku dalam speaking. Aku maklum dengan kemampuan Iqbal, tapi yaudahlah ya.

Jam berputar cepat, akhirnya saat yang ditunggu-tunggu tiba juga. Esok hari aku segera go international pertama kali ke Singapura. Sebelum berangkat, aku hubungi dulu emak dan bapakku di kampung, ben pantaslah.

Sayangnya, pas aku telepon suara mereka tidak terdengar sama sekali. Saat aku loud speaker yang terdengar malah suara sound system yang memutar dangdutan dan suara sorak-sorai warga.

Ora krungu, ora krungu. Ono lomba ngarep omah,” samar-samar terdengar teriakan Bapakku melawan kerasnya lagu dangdut yang diputar.

Rumahku memang berhadapan langsung dengan tanah lapang yang biasa digunakan sebagai salah satu venue lomba antar RW mulai dari Bola Voli sampai panjat pinang. Setidaknya, aku sudah mencoba mengabari orang tua.

**

Setelah memastikan segala administrasi dan celana dalam tidak ada yang tertinggal, Kamis pagi aku langsung memesan ojek online menuju Bandara Soekarno Hatta. Perjalanan begitu lancar, tak terlihat macet, hanya kabut polusi yang terpantau tenang di udara.

Sampai di Bandara aku jumpa teman dan langsung nge-print tiket di loket yang disediakan. Setelah mendapatkan tiket, tanpa pikir panjang aku berjalan menuju gate 7. Di tengah perjalanan, aku bertemu dengan Mas Indra Herlambang, yang ternyata mempunyai tujuan yang sama ke Marina Bay Sands.

Tidak ada kendala apapun saat di imigrasi Bandara. Aku hanya ditanya identitas, berapa lama sampai keperluan ke Singapura. Aku dengan santai menjelaskan berasal dari kumparan.

“Silakan, mas. Itu yang bawa kamera rombongannya juga mas?” tanya petugas kepadaku.

“Iya Pak, barengan itu,” jawabku.

“Oke, selamat sampai tujuan mas,” sambungnya ramah.

Pesawat Singapore Airlines yang aku tumpangi sudah menunggu. Segera saja kakiku melangkah ke pesawat yang baru pertama kali aku tumpangi. Penerbangan yang dimulai sekitar pukul 11.15 WIB begitu lancar. Kalau ada sedikit geronjalan di udara ya normal-normal saja sebagai bumbu perjalanan.

Setelah terbang sekitar 2 jam, aku akhirnya menginjakkan kaki di Singapura. Segera aku berjalan ke Bandara untuk mencari sinyal dan tentunya toilet. Saat akan belok ke arah toilet, ternyata sudah ada laki-laki gagah berjas hitam yang menjumput aku dan kawan-kawan di bandara. Setelah berjabat tangan dan mengucap kata umum ‘nice to meet you’, aku melanjutkan niatku ke toilet.

“Ingat, hari ini pertama kali buang air kecil di Singapura,” batinku sembari merapikan celana

Sebelum keluar bandara, aku harus kembali melewati imigrasi. Secara bergantian, teman-temanku sudah berhasil keluar. Setelah itu, giliranku diperiksa. Petugas tampak memeriksaku dengan teliti. Setelah mengetahui maksud dan tujuanku ke Singapura, petugas itu menyuruh meletakkan kedua jari jempol ke mesin yang tersedia.

Aku sudah merapikan barang-barangku untuk bersiap keluar menyusul teman-temanku. Ternyata, petugas itu meminta pasporku dan menyerahkan ke teman petugasnya. Petugas yang baru saja memegang pasporku itu langsung menghampiriku.

“Follow me,” ujar petugas itu sembari menatap mataku.

Aku yang belum tahu apa-apa cuman bisa bertanya-tanya sambil geleng-geleng kepala. “Ini ngapain seh bapak-bapak belum kenal sudah minta follow aja,” gumamku dalam hati.

“Nama lu ada Mohammad nya kali makanya diperiksa dulu,” ujar Mas Wahyudin, temanku yang juga masih belum keluar dari imigrasi.

“Yaudah bang, habis ini namaku ganti Mikael atau Manuel,” candaku biar enggak tegang.

Petugas itu lalu membawaku ke dalam sebuah ruangan yang tidak terlalu besar. Dia memintaku menunggu di ruangan yang di dalamnya ternyata juga ada seorang perempuan.

Di dalam ruangan, bayanganku sudah ke mana-mana. “Mau diapakan aku ini, bahaya kalau suruh pulang, belum tukar duit lagi,” contoh dialog bisu yang ku ucapkan dalam hati. Selain itu, aku juga membayangkan kalau diinterogasi dengan Bahasa Inggris yang belum aku pahami maksudnya.

Tiba-tiba seorang petugas datang dan menghampiri perempuan di sampingku. Mereka berdua tampak berdebat dengan bahasa yang belum bisa aku cerna dengan baik. Namun, dengan paspor yang dipegang oleh petugas, secara tidak langsung aku membayangkan gimana nasibku nanti.

Aku mengingat-ingat kosa kata apa yang bisa aku lontarkan kepada petugas yang seandainya mengajakku berdebat. Rasanya ingin memaki tapi pasti aku cemen, enggak berani. Cukup memaki dalam hati saja sambil komat-kamit baca doa semoga semuanya baik-baik saja.

Suasana di ruangan sempit tapi tidak pengap itu mulai cair saat ada seorang laki-laki dari Indonesia bersama seorang anaknya yang bernasib sama denganku. Langsung saja aku meminta sedikit penjelasan kira-kira mengapa sampai bisa ditahan.

“Enggak jelas ini mas, random. Masak saya ke Singapur bisa sebulan sekali bolak-balik masih ditahan,” ujar laki-laki itu saat aku bertanya alasan ditahan.

Dia tampak kurang nyaman dengan perlakuan petugas yang menahannya. Laki-laki yang belum sempat ku tanya namanya itu lalu memberiku saran agar tenang saja menghadapi petugas. Sebisa mungkin jangan kelihatan rasa takut.

Selang beberapa saat, seorang petugas membuka pintu dengan memanggil namaku. “Fajri Mohammad,” ujar petugas itu. “Yes,” jawabku selow yang dibalasnya dengan mengambil posisi duduk di hadapanku. Dia basa-basi bertanya padaku mengenai identitas. Setelah itu menanyakan alasan apa aku datang ke Singapura.

“Wait,” ujarku kepada petugas itu.

Dengan gaya sok cool, aku langsung mengambil iphone berbau kumparan di saku kanan celanaku. Aku buka surat elektronik yang berisi folder undangan Marina Bay Sands, tiket pesawat, sampai agendaku lengkap saat di Singapura.

Tanpa banyak cakap, langsung aku berikan ponsel pintar itu kepada petugas. Ia terlihat memeriksanya dengan detail. Setelah diam sejenak, petugas itu berkata “Follow me.” “Duhh mau ke mana lagi seh?” batinku bertanya.

Petugas itu menyuruhku ke ujung meja yang tidak jauh dari ruangan. Aku bergegas ke sana menemui petugas yang sudah menunggu di depan mesin. Ia lalu menyuruhku menaruh dua jempol di mesin. Mungkin setelah memastikan yang di mesin itu bukan jari tengahku, petugas itu memberikan pasporku yang dipegangnya.

Aku langsung menghela napas panjang setelah memegang kembali paspor itu. Dengan langkah sombong, aku lewati jajaran petugas yang tadi minta aku follow. Segera aku temui teman-temanku yang sudah menunggu di pintu keluar.

“Lama amat, ngapain saja di dalam,” tanya seorang kawan.

“Nggak tahu nih, random. Biar kelihatan kerja kali petugasnya,” jawabku seadanya sambil berjalan.

***

Mobil yang menjemputku sudah terbuka pintunya. Segera aku masuk setelah berjabat tangan dengan sopir laki-laki yang memakai baju rapi. Selama di dalam mobil, aku mulai sadar kalau sudah benar-benar berada di Singapura.

Tidak membutuhkan waktu lama untuk sampai di Marina Bay Sands. Aku langsung mengikuti arahan untuk menerima pembagian kunci. Ada 3 tower di Marina Bay Sands. Aku mendapatkan di tower 3 dengan nomor kamar 3721.

Seorang petugas menawarkan bantuan membawakan tasku ke kamar. Namun, aku menolaknya secara halus. Mbak Sasya, perempuan yang membimbing kami selama dalam perjalanan lalu mengajak untuk menuju tempat makan.

Di meja makan sudah ada beberapa influencer yang belum aku kenal namanya. Mereka juga diundang dalam acara yang sama denganku. Aku langsung menyalami mereka secara bergantian sambil mengenalkan diri.

“Fajri,” ujarku sambil menjabat tangan mereka satu per satu. Dari situ saya baru tahu influencer yang diundang salah satunya adalah Miss Indonesia 2014, Maria Rahajeng. Tak berselang lama, Mas Indra Herlambang yang sudah sampai lebih dulu di hotel terlihat bergabung di meja yang sudah disiapkan.

Perutku saat itu tidak terlalu lapar. Sehingga aku hanya memesan sejenis roti sebagai pengganjal. Sebab, aku ingin segera mandi dan merebahkan badan sejenak di kamar. Badan yang gerah membuatku tidak sungkan untuk pamit duluan menuju kamar.

Segera saja aku mencari lift di tower 3 yang menuju ke lantai 37. Dengan langkah cepat sambil menahan pipis, aku menemukan lift yang dituju. Seperti lift pada umumnya, aku langsung menekan tombol tanda naik. Setelah di dalam lift, aku tempelkan kunci kamarku sambil menekan angka 37.

Wussss, liftnya cepat sampai-sampai tidak terasa sudah sampai di lantai 37. Aku segera mencari kamar 3721. Setelah ketemu, aku langsung membuka pintu kamar. Kamar yang mulanya gelap berangsur terang setelah kunci aku letakkan di tempat yang disediakan.

Belum sempat melihat lampu kamar mandi nyala, aku dikagetkan kelambu jendela yang bisa buka sendiri. Aku pikir ada orang yang sengaja iseng. Kok aneh-aneh ae. Tapi saat aku periksa lagi, itu kelambu ternyata otomatis terbuka saat kunci kamar ditaruh di tempat yang disediakan.

Penasaran, aku ulangi lagi kejadian itu. Aku tutup kamar. Kali ini, aku siap stan dby dengan video dari ponsel pintarku. Tepat setelah kunci aku taruh, ponselku langsung aku arahkan ke kelambu yang buka sendiri. Wagilah, terpampang pemandangan Singapura dari jendela kaca yang bersih. Aku buka instagram dan jadilah instastory yang menakjubkan.

Sambil melepas jaket, baju, sampai celana, aku tetap menikmati pemandangan Singapura dari jendela kamar 3721 Marina Bay Sands. Aku rebahkan badanku di kasur yang sensasinya beda banget dengan kasur di kamar kosku. Pandangaku tetap ke arah jendela sebelum ada pesan di grup WhatsApp yang mengingatkan mengenai agenda sore ini.

“Kita akan property tour jam 5.20, jadi ngumpul di lobby tower 3 jam 5.10 ya semuanya,” pesan Mbak Kiki, temannya Mbak Sasya yang membuatku bergegas menuju kamar mandi membasuh sekujur tubuh.

Mengenakan pakaian rapi tanpa minyak wangi, aku berjalan percaya diri mengikuti arahan menuju Presidential Suite di Marina Bay Sands. Aku melihat berbagai fasilitas yang ada di kamar kelas kakap yang hanya bisa ditempati orang-orang tertentu macam David Beckham.

Presidential Suite luasnya itu mencapai 500 meteranlah. Nah, di dalamnya itu lengkap. Selain kamar tidur dan kamar mandi yang mantap, Presidential Suites juga dilengkapi ruang karaoke sampai pijit. Setelah berkeliling ruangan, aku cuman kasihan sama yang bagian nyapu atau ngepel. Pasti capek.

Sudah, lepaskan Presidential Suite dengan segala kemewahannya. Aku melanjutkan ke warung makan di tower 1 lantai 57 Marina Bay Sands. Warung yang diberi nama LAVO Italian Restaurant and Rooftop Bar ini makanan dan pelanananya cukup memanjakan. Ada beberapa sesi makanan yang datang bergantian, anggap saja mulai dari makanan pembuka sampai penutup. Aku nggak peduli jenis makanannya apaan, pokok sikat terus.

Saat akan sampai di makanan penutup, tiba-tiba mulutku tanpa dikontrol melontarkan pertanyaan.

“Di kamar itu enggak bisa ngerokok ya?” tanyaku sembari menunggu makanan datang lagi.

“Mas mau ngerokok?” Mbak Sasya bertanya balik.

“Aku enggak bawa rokok seh mbak,” jawabku.

“Ayo ikut aku mas, aku tunjukin tempat ngerokok yang bagus di sini,” balas Mbak Sasya.

Aku lalu beranjak dari tempat dudukku dan mengikuti Mbak Sasya ke arah pintu keluar LAVO. Tak jauh dari pintu keluar, Mbak Sasya belok kanan. Dan, gilllls memang terlihat pemandangan menakjubkan dengan angin yang semriwing.

Mbak Sasya lalu mengeluarkan rokok dan koreknya. Tanpa malu-malu, aku langsung mengambil sebatang rokok saat dia menyodorkannya padaku. Langsung saja aku nyalakan rokok pertama malam ini.

Aku hisap dalam-dalam dan aku keluarkan pelan-pelan. Huhhhhh, kepulan asap pertama yang aku embuskan benar-benar berbeda dari biasanya. Setidaknya, malam ini aku bisa secara langsung menyumbang sedikit polusi udara di Singapura.

Sembari berbincang salah satunya mengenai perbandingan polusi Jakarta dan Singapura, tidak terasa satu batang rokok sudah habis. Kami memutuskan kembali ke meja makan. Belum sempat duduk, aku melihat para pengunjung termasuk teman-temanku pandangannya ke bawah.

Ternyata pertunjukan Water Show sudah dimulai tepat pukul 21.00 waktu Singapura. Selama hampir 15 menit, kerlap-kerlip pertunjukan atraksi air itu menjadi pemandangan tersendiri saat makan malam di LAVO. Tanpa terasa Water Show menjadi tanda penutup malam ini.

Sebenarnya masih ada ajakan ke patung singa yang keluar air dari mulutnya. Namun, kasur dan jendela di kamar nomor 3721 menjadi tempat yang aku pilih untuk menghabiskan malam sembari mengevaluasi diri sendiri.

****

“Kumpul jam 9.55 ya. Boleh sarapan dan siap-siap masing-masing. Nanti ketemuan di lobby tower 3 buat ke ArtScience Museum,” kembali pesan dari Mbak Kiki membuatku harus bangun dari pertapaan semalam. Aku lihat di atas meja samping televisi masih tersusun rapi aneka ragam buah-buahan segar.

Aku memilih menyantap buah-buahan itu sembari duduk di kursi menghadap ke jendela daripada berjalan keluar kamar mengambil sarapan. Setelah perut cukup terisi, aku mulai bersiap diri keluar kamar.

Dengan setelan celana hitam dan kaos berbalut blazer hitam, aku tampil percaya diri di depan kaca. Sempat kepikiran menyisir rambut rapi klimis, tapi hal itu urung terjadi karena rambutku enggak cocok pakai pomade.

Aku langsung bergegas turun ke lobi karena teman-temanku sudah berkumpul. Kami langsung menyusuri ArtScience Museum. Di tempat pameran yang gokil ini, aku sempat foto bersama Mas Indra Herlambang yang juga sedang berfoto dengan latar belakang pameran.

Selain menyusuri ArtScience Museum, hari ini agendanya juga makan siang di warung Black Tap Craft Burgers & Beer, jalan-jalan di area Marina Bay Sands sampai bincang-bincang bersama Managing Partner TAO Group, Jared Boles dan Chef Eksekutif restoran KOMA, Kunihiro Moroi.

Malam harinya, aku menikmati sajian dinner di restoran KOMA yang belum lama ini dibuka di Marina Bay Sands. Kebanyakan makanan yang dihidangkan berbau Jepang karena memang restoran ini dibentuk ala negerinya Kapten Tsubasa.

Saat menikmati aneka makanan, ada pesan dari Mas Aria Redaktur Food and Travel yang menanyakan kondisiku di Singapura. Aku jawab aman, semuanya baik-baik saja sembari menyantap sushi dan segelas air putih.

“Sip, silahkan dilanjut maboknya. Sans wae sama aku,” pesan Mas Aria melalui WhatsApp.

Aku mulai merenungi apa makna mendalam dari pesan Mas Aria sembari melahap makanan yang silih berganti di atas meja. Perut terasa padat saat aku mulai meninggalkan restoran KOMA. Sesampainya di pintu keluar, terlihat muda-mudi berbaris mengantre.

Aku bersama teman-teman dan para influencer ikut berbaris untuk mendapatkan stempel di tangan kiri bertuliskan ‘I Used To Sleep At Night’. Aku enggak paham makna yang dimaksud dari kalimat itu, yang jelas kami akan diberikan pengalaman masuk ke MARQUEE Nightclub dan AVENUE Lounge.

Sebelum masuk ke AVENUE, tanganku kembali distempel. Namun, kali ini stempelnya tidak kasat mata. Setelah itu, aku mulai berjalan menyusuri tempat gelap ini. Setelah pintu dibuka, ladalah musik jeduk-jeduk sudah terdengar.

Terlihat orang-orang asyik berjoget sambil menenteng segelas minuman. Aku yang biasa mendengar musik dangdut, rasanya aneh kalau harus ikut joget dengan musik yang membuat kepala ngangguk-ngangguk dan geleng-geleng ini.

Aku memilih menuju tempat duduk yang sudah dipesan sebelumnya sambil mengamati orang-orang dari keremang-remangan cahaya. Saat seorang perempuan datang membawa menu makanan dan minuman, aku membacanya dengan seksama. Yah, aku memutuskan pesan sejenis jus tomat.

Jus tomat belum habis aku minum saat ada arahan untuk berpindah ke MARQUEE Nightclub. Memasuki MARQUEE, suasana musik ajep-ajep terasa pecah dengan teriakan umat yang hadir di lokasi.

Aku mendapatkan tempat tempat duduk di atas sehingga dengan mudah mengamati aktivitas di bawah meskipun dengan lampu yang tetap remang-remang. Terlihat ada 4 perempuan di atas panggung yang meliuk-liukkan badannya mengikuti irama lagu.

Aku berusaha tidak fokus melihat perempuan yang di atas panggung. Aku melemparkan pandangan di sekeliling ruangan yang bergantian mendapatkan sorot lampu.

Teriakan manusia semakin bergemuruh diiringi musik yang semakin membahana. Tiba-tiba ada kawan membawa dua gelas minuman. Aku ambil satu gelas yang memang disediakan untukku.

Gelasnya bagus, warnanya bening. Aku minum air dalam gelas itu. Gluk, segar dingin atau adem sari ini. Perlahan tanganku seakan ingin ikut melambai-lambai ke atas. “Wah, malam masih panjang ini,” batinku.

Di tengah remang cahaya pengalaman pertama masuk tempat seperti MARQUE, aku masih ingat kalau kamar nomor 3721 yang harga sewanya mencapai Rp 14 juta per malam ini terlalu sayang untuk dibiarkan kosong.

*****

Tanpa bantuan ayam berkokok, aku sudah terbangun saat pagi menyapa melalui jendela kamar nomor 3721. Aku gerakkan badanku membuka lemari yang didalamnya ada handuk tergantung.

Aku pakai handuk itu sambil keluar kamar dan memasuki lift menuju lantai 57. Disana, sudah terlihat banyak orang yang memakai handuk serupa denganku. Ya, aku pagi ini memilih menghabiskan waktu untuk berenang di kolam renang Marina Bay Sands

Dan, wagilah memang mantap jiwa bisa berenang di atas ketinggian sambil memandangi gedung bertingkat di Singapura. Sambil menerawang ke angkasa, lagi-lagi aku berdialog bisu dengan batinku. “Tuhan, satu per satu keinginanku telah engkau berikan jalan untuk mewujudkannya. Tuhan, semoga aku tidak menjadi manusia yang lalai. Aku bersyukur dengan nikmat yang selalu engkau berikan padaku.”

Cipratan air dan kolam renang yang semakin ramai membuatku tersadar untuk segera mengakhir aktivitas berenang kali ini. Sebelum benar-benar meninggalkan lokasi, aku menyempatkan diri mengabadikan momen di kolam renang Marina Bay Sands dengan sebuah foto yang aku unggah di instagram story.

Perlahan aku melangkahkan kami menuju kamar untuk mandi. Seusai mandi, ada salah satu pesan dari kawan yang yang aku buka di instagram. Ternyata, aku lupa. Baru sadar belum membuat video ala Hotman Paris yang menunjukkan jari-jarinya saat di kolam renang.

Mau balik ke kolam renang rasanya tidak mungkin saat aku melihat kembali pesan dari Mbak Kiki yang mengingatkan mengambil sarapan dan persiapan check out. Baiklah, aku mulai merapikan barang-barang.

Terlihat di atas meja ada sebuah surat yang ditujukan atas namaku. Surat itu dari Marina Bay Sands yang memberikan kenang-kenangan berupa monopoly yang sampai sekarang belum aku buka.

“Aku sih udah check out tapi titipin koper dulu,” pesan Mbak Kiki yang membuatku sadar kalau sebentar lagi segala bentuk kemewahan di Marina Bay Sands harus aku lepaskan.

Tidak terasa, waktu juga yang harus membuatku bergegas meninggalkan Singapura dan kembali ke Jakarta. Kembali terus belajar bersyukur atas nikmat yang selalu diberikan Tuhan kepadaku.

Aku percaya, pengalaman pertama selalu gampang dikenang. Dan, setiap perjalanan selalu mempunyai makna yang bisa diambil sebagai bahan pembelajaran.

Selamat berjumpa lagi, Singapura.