Kumparan Logo

Rupiah Sentuh Rp 18.000 per Dolar AS, Mendag Jamin Tak Ganggu Kinerja Ekspor RI

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Menteri Perdagangan, Budi Santoso, dalam kunjungannya ke Pasar Rawasari, Jakarta Timur, Senin (16/3/2026). Foto: Najma Ramadhanya/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Menteri Perdagangan, Budi Santoso, dalam kunjungannya ke Pasar Rawasari, Jakarta Timur, Senin (16/3/2026). Foto: Najma Ramadhanya/kumparan

Nilai tukar rupiah kembali tertekan menyentuh Rp 18.000 per dolar Amerika Serikat (AS) pada Kamis (4/6). Berdasarkan data Bloomberg pukul 14.35 WIB, rupiah melemah 76,50 poin atau 0,43 persen ke posisi Rp 18.048 per dolar AS.

Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso menilai pelemahan rupiah belum mengganggu kinerja ekspor Indonesia. Bahkan, ekspor nasional masih mencatat pertumbuhan positif sepanjang empat bulan pertama tahun ini.

“Kalau sekarang ini sebenarnya kesempatan ekspor kita makin bagus, kita kan surplus 5,48 persen. Kita naik 5,48 persen yang dibanding tahun lalu,” ujar Budi di Kantor Kemendag, Jakarta, Kamis (4/6).

Pada Januari-April 2025, total ekspor tercatat sebesar USD 87,36 miliar, sementara pada Januari-April 2026 tercatat USD 92,15 miliar.

Selain mengandalkan ekspor, Kemendag juga menyiapkan alternatif perdagangan menggunakan skema barter dengan sejumlah negara, salah satunya Filipina.

“Nah yang kedua, kita juga ada alternatif misalnya pakai barter. Ya nanti tanggal 12 ya, tanggal 12 (Juni) kita ketemu dengan pengusaha Filipina,” kata Budi.

Budi menjelaskan rencana barter tersebut muncul setelah bertemu pelaku usaha asal Filipina dalam rangkaian KTT ASEAN 2026. Menurutnya, pelemahan nilai tukar juga dialami Filipina sehingga kedua negara menjajaki alternatif transaksi perdagangan.

“Nah ini sudah kita carikan buyer-nya, setelah itu udah ketemu, nanti tanggal 12 kita akan tanda tangan kontrak dengan buyer ya,” ungkap Budi.

Terkait kekhawatiran pelemahan rupiah terhadap harga pangan dan bahan baku impor seperti kedelai, Budi memastikan kondisi pasokan domestik masih terkendali.

“Belum, coba dicek di SP2KP (Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan), harganya stabil,” tegas Budi.

Meski begitu, Budi mengakui pelemahan rupiah berpotensi mempengaruhi harga sejumlah barang impor seperti suku cadang. Namun, katanya, Kemendag terus melakukan pemantauan terhadap pasokan dan distribusi barang agar tidak terjadi gangguan di pasar.

“Ya pertama dari distribusi, kemudian dari importasi bahan baku itu kita monitor, kita terus komunikasi dengan para produsen, jangan sampai, itu pun terganggu gitu kan ya, jangan sampai stok nggak ada,” kata Budi.

video story embed